Keinginan Si Penghayal Kecil yang Nyata di Jepang

Mungkin ada yang ingat di post sebelumnya, tertulis bahwa saya lumayan jago soal ingat-mengingat yang sentimentil. Entah kenapa, masa kecil saya penuh dengan kenangan dan impian yang unik. Misalnya, saking gandrungnya dengan kartun terlebih anime Jepang, saya sampai pernah berantem dengan ibu rebutan remote TV. Ibu ingin nonton sinetron sementara saya mau nonton Detektif Kindaichi. Alhasil, tangisan yang keluar dari mulut anak perempuan penghayal ini memenangkan pertarungan. Ibu dengan wajah masam akhirnya menyerahkan remote ke pangkuan saya. Hahaha, maafkan kelakuan saya dulu ya Bu!

Terbatas hanya bisa menonton TV dan membaca seputar anime di Majalah Bobo, saya terus terpikir dengan negara Jepang yang keren dan mampu membuat berbagai anime yang membuat saya jatuh cinta. Saya masih ingat, suatu malam saat sudah terbaring di kasur sebelum tidur, saya menatap poster Kapten Tsubasa yang tertempel di dinding papan kamar. Saya pun bergumam, “Suatu saat, jika sudah punya duit sendiri, saya akan ke Jepang. Saya akan membeli berbagai hal tentang anime yang saya sukai, dan saya akan melihat hal-hal menarik yang ada di anime langsung di negaranya.” Sambil menatap wajah Kapten Tsubaya, saya mengaminkan impian itu. Saat itu kelihatannya muluk, tapi wajah optimis Kapten Tsubasa yang memang terkenal pantang menyerah seolah menyiratkan impian itu bukan mustahil untuk diwujudkan.

Selang belasan tahun, tepatnya pada 2016, impian itu pun nyata. Tak hentinya saya mengucapkan Puji Tuhan karena impian si penghayal cilik di kamar berdinding papan belasan tahun silam itu akhirnya tercapai. Saya bersama beberapa teman melakukan perjalanan selama 10 hari di Jepang. Jepang adalah negara pertama yang saya kunjungi. Ya, saya belum pernah ke Malaysia, Singapura, dan Thailand meskipun sekian banyak teman kerja telah bolak-balik ke sana.

Gerbang shrine yang sering muncul di anime-anime kan? Ini di Fushimi Inari, Kyoto.

Entahlah, buat saya, semua hal terlebih traveling itu harus ada alasan dan motivasinya. Apalagi, perjalanan keluar negeri jika menggunakan biaya sendiri tentu butuh proses menabung. Saya tak pernah iri melihat teman-teman yang sudah keliling negara Asean atau negara lainnya. Itulah perjalanan mereka, bukan perjalanan saya. Seperti saat ke Jepang ini, impian dan kenangan masa kecil menjadi salah satu motivasi saya. Bukan sekadar agar pernah keluar negeri, terus pamer foto-foto di social media, atau mengumpulkan cap imigrasi di paspor. Tidak, buat saya, traveling tidak tentang hal-hal itu.

Maka, saya ingin menikmati perjalanan di Jepang lebih dari sekadar foto-foto. Saya lebih menikmati duduk di pinggir jalan atau bangku taman sambil melihat sekeliling, menyaksikan aktivitas warga lokal, merasakan ambience-nya, mendengar hiruk-pikuknya, dan mendatangi tempat-tempat menarik yang unik untuk lebih mengenalnya lebih dalam.

Duduk tenang di tepi taman sambil menikmati suasana dan menyaksikan warga lokal adalah aktivitas traveling favorit saya.

Dari berbagai genre anime, saya paling menyukai kisah kehidupan sehari-hari ataupun yang ada sentuhan misteri dan sihir di dalamnya. Seajaib apapun cerita di anime, tetap ada satu-dua scene yang memang terinspirasi dari aktivitas atau kebiasaan di dunia nyata. Maka, inilah beberapa hal yang dulunya hanya saya lihat di anime dan akhirnya bisa saya saksikan langsung di kehidupan nyata di Jepang.

  • Menyaksikan Hanami

Tradisi Hanami atau menyaksikan bunga sakura mekar sambil piknik bersama keluarga atau teman ini biasa disajikan dalam berbagai anime, mulai dari Doraemon, Sinchan, Card Captor Sakura, Chibi Maruko-Chan, dan masih banyak lagi.

Biasanya saat pergi ber-Hanami, masing-masing akan membawa makanan untuk dimakan bersama saat piknik. Tak jarang ada juga yang ber-barbekyu ria di lokasi-lokasi Hanami. Nah, saat saya mengunjungi Hakodate, Hokkaido, saya pun bisa menyaksikan secara langsung tradisi itu. Bahkan, warga lokal pun melakukan tarian-tarian dan bernyanyi bersama penuh suka cita.

Piknik bersama keluarga dan menikmati bunga sakura dengan berhanami.

Ternyata, tradisi Hanami ini tidak sekadar piknik dan memandangi bunga sakura mekar. Lebih dalam, tradisi ini sebagai bentuk mengapresiasi kehidupan. Bunga sakura sendiri dipercaya sebagai filosofi kehidupan, bahwa ada masanya hidup itu lahir, bertumbuh, berbunga, kemudian akan berguguran. Karena itu, menikmati setiap detik kehidupan dengan melakukan yang terbaik semaksimal mungkin adalah salah satu cara mensyukuri hidup. Dalam sekali ya! Oh ya, tradisi hanami pernah saya bahas di tulisan saya untuk Detik Travel berikut !

  • Menyaksikan Anak Sekolah Bersepeda

Tak terhitung berapa banyak anime yang menyuguhkan scene anak-anak sekolah baik perempuan atau laki-laki yang bersepeda saat akan berangkat maupun pulang. Hal itu karena dalam kehidupan nyata, masyarakat Jepang memang lebih sering menggunakan sepeda untuk bepergian. Maka, saat menyaksikannya langsung di Jepang, saya pun cukup maklum. Namun, tetap saja ada sensasi yang membuncah karena kenangan kecil melihat tokoh-tokoh anime bersepeda ke sekolah bisa saya lihat langsung di dunia nyata.

Anak sekolah bersepeda di Kota Himeji.
  • Melihat Anak-Anak TK dan Bis Sekolahnya

Anime seperti Chibi Maruko-Chan, Sinchan, Baby and I, dan masih banyak lagi sering mengambil cerita saat berada di bis sekolah. Baik aktivitas saat dijemput ataupun diantar pulang ke rumah. Sekilas aktivitas ini sangat biasa, tapiii, bagi saya tetap sentimentil saat akhirnya bisa menyaksikannya di dunia nyata, hahaha.

Anak-anak TK berbaris menuju bus sekolah di Kyoto.

Anak-anak kecil di Jepang benar-benar mirip seperti yang ada di anime. Mereka menggemaskan dengan pipi merona merah. Tentu sering lihat kan di berbagai anime? Anak kecil biasanya diilustrasikan dengan lingkaran merah di pipinya. Lingkaran merah itu adalah pipi mereka yang merona. Aslinya juga memang seperti itu.

Warga Jepang gemar menghabiskan waktu bersama keluarga di taman. Bahagia ya!
  • Menyaksikan Gadis Berkimono Berdoa di Shrine

Sejak kecil, kita pasti tahu bahwa gadis Jepang sering menggunakan pakaian tradisional yang biasa disebut kimono. Ternyata, pakaian tradisional ini banyak jenisnya dan masing-masing penggunaannya berbeda, begitupun namanya. Di Sailor Moon, Card Captor Sakura, dan anime lainnya, saat-saat perayaan, gadis-gadis Jepang biasa menggunakan kimono dan berdoa di shrine.

Para gadis berkinomo di shrine.

Saat di Jepang, saya mengunjungi beberapa shrine, dan bisa menyaksikan bahwa aktivitas gadis berkimono itu memang seindah scene-scene di anime. Suasananya begitu khusuk dan syahdu. Setelah berdoa, terkadang mereka akan mengambil kertas atau kayu harapan dan menggantungkannya di tempat yang sudah disediakan di shrine. Syahdu ya!

Kertas doa dan harapan.
Syahdu…
  • Anak Sekolah Membaca di Kereta

Masyarakat Jepang terkenal sangat gemar menggunakan transportasi massal. Selain praktis, hal ini karena sistem transportasi di sana memang sangat memadai dan maju. Maka, masyarakat sangat nyaman menggunakannya bahkan anak kecil sekalipun. Beberapa anime kerap menunjukkan scene anak-anak SD, SMP, SMA yang naik kereta setiap akan berangkat atau pulang sekolah. Saat di dalam kereta, mereka biasanya membaca buku dengan serius. Baik buku pelajaran, komik, ataupun novel.

Serius sekali.

Saat menaiki kereta lokal di sana, saya pun bisa menyaksikan anak-anak sekolah sering bersemangat masuk ke kereta, mengambil tempat duduk, dan menghanyutkan perhatiannya di buku masing-masing. Raut wajah mereka tampak sangat serius dan fokus.

Salut ya, fokus sekali.
  • Mendengar dan Melihat Burung Gagak

Meskipun ada beberapa anime yang suka menyisipkan scene ini, tapi bagi yang sering baca manga atau komik Jepang pasti paling paham. Jika suatu keadaan menjadi sangat canggung, hening, atau garing, pasti sering muncul burung gagak dengan suara khasnya kwak… kwak.. kwak… untuk memecah keheningan dan kegaringan. Saat di Jepang kemarin, saya beruntung bisa melihat beberapa burung gagak bertengger di pohon, meskipun  mereka tak mengeluarkan suara khasnya itu. Mungkin tidak keluar karena memang suasana hatiku tidak garing saat itu, jadi mereka membacanya dan diam saja (Hahaha, terlalu maksa malah jadi garing ya).

Kwak kwak kwak!
  • Berjalan Santai di Bawah Bunga Sakura Sambil Memakai Kimono

Tak terhitung anime yang menyuguhkan scene khas musim semi ini. Para gadis akan menggunakan kimono warna cerah dan motif bunga dan berjalan santai di bawah rindangnya bunga sakura yang bermekaran. Saat kecil dulu, saya pun menghayal ingin menggunakan kimono sambil berjalan di bawah bunga sakura. Oh ya, kimononya berwarna pink karena saya penyuka warna itu.

Cantiknya…bunga sakuranya!

Akhirnya, saat di Hokkaido khayalan itu menjadi nyata. Dengan uang sewa yang murah jika dibandingkan dengan saat di Tokyo dan Kyoto, seharian saya memakai kimono pink sambil berkeliling di bawah sakura yang sangat rindang. Meskipun sakura yang mekar saat itu berwarna putih, tak sedikitpun mengurangi kebahagiaan dan sukacita di hati. Cerita cantiknya bunga sakura sambil menyaksikannya berkimono pernah juga saya tulis untuk Detik Travel, baca ya!

Saya pun bertemu dengan beberapa cosplayer lokal dan berfoto bersama. Meskipun hal ini kerap saya lakukan di Indonesia, tapi lebih unik rasanya berfoto bersama cosplayer tokoh anime di negara asalnya.

Setelah perjalanan Jepang, saya jadi paham betul makna impian dan bagaimana rasanya kerja keras itu berbuah manis saat impian terwujud di depan mata. Jadi, jika kalian punya impian kecil dan ingin mewujudkannya, yakinlah jika berusaha dan berdoa, pasti bisa! Amin!

Bermimpilah, maka Tuhan akan memluk mimpi-mimpimu. – Arai, dari Novel Andrea Hirata berjuful Sang Pemimpi.

Racun Film dan Series yang Tak Kenal Ampun

Sepanjang yang saya ingat, awal tahun 2000-an adalah masa-masa mulai bangkitnya gairah masyarakat untuk mulai menonton film. Saat itu, saya masih kelas 5 SD, dan untuk urusan ingat-mengingat yang sentimentil, saya adalah jagoannya (sometimes this is a kind of a curse too, hahaha, you know what i mean). Film Kuch Kuch Hota Hai adalah gara-garanya. Film asal India ini mempesona semua kalangan hingga yang di kampung sekalipun, karena saya tinggal di kampung. Tak hanya karena musik dan joged khas bollywood yang bisa menghipnotis pendengarnya untuk ikut bergoyang, ceritanya pun ‘sadis’ mengoyak emosi penonton, plus sajian lokasi-lokasinya yang membuat penonton terkesima dan penasaran, “dimana gerangan tempat indah ini?”

Setidaknya, itu jugalah yang terbersit dalam benak seorang anak kelas 5 SD saat itu. Padang bunga kuning yang cantik, lereng gunung yang sejuk, gunung-gunung yang gagah, bangunan-bangunan tua khas India yang megah membuat saya berangan-angan untuk suatu saat bisa ke sana dan melihat langsung keindahan itu. Seiring waktu, saya pun tahu bahwa India memang memiliki alam dan budaya yang sangat indah dan kaya.

Saya pun bertumbuh menjadi orang yang bisa menikmati film-film dan TV series. Thanks to My Dad, karena awal tahun 2000-an, kampung halaman kami bahkan kota yang terdekat pun belum memiliki fasilitas bioskop, maka VCD atau DVD player adalah solusi canggih kala itu. Meskipun bisa telat beberapa bulan dari euforia sejak rilisnya, bagi kami yang terpenting adalah bisa menikmati filmnya bersama keluarga.

Beruntungnya, ayah saya memiliki sahabat yang saat itu membuka usaha rental VCD dan DVD. Canggihnya, semuanya asli. Saya masih ingat, ayah sering membawa banyak film untuk diputar di rumah. Kalau tidak salah, biasanya rental-rental dulu punya aturan dalam sekali peminjaman hanya bisa meminjam maksimal 5 judul film. Tapi ayah saya bisa membawa lebih bahkan 10 judul. Katanya, “Nggak percuma kan yang punya rental sahabat sendiri”. Hahaha, baiklah. Untung bukan perusahaan ya, kalau tidak bisa-bisa dituduh nepotisme.

Toys Story 2, Balto, Sleeping Beauty, dan aneka film Disney lainnya menjadi santapan rutin saya dan saudara-saudara saat itu. Seiring bertambah usia, film-film santapan saya pun mulai berbeda genre, mulai dari Harry Potter, Matrix, X-Men, Spiderman, dan berbagai film superhero lainnya. Makin hari, saya makin gandrung menonton film. Saya mulai menemukan bahwa genre favorit saya adalah sci-fi atau science fiction, superheroes, thriller (ala detektif), dan fantasi layaknya Harry Potter dan Lord of The Rings. Saya kurang suka drama percintaan, horor, dan komedi slapstik.

Sayangnya, kebiasaan itu mulai sirna saat saya masuk sekolah asrama. Selama 3 tahun saya tak menonton film secara rutin lagi. Tapi dasar sudah gandrung, kondisi itu tak lantas memupuskan kesenangan saya terhadap film, malah saya pun mulai membeli film sendiri karena rental VCD dan DVD sudah sangat langka saat itu. Saya masih ingat, dengan uang saku, saya titip ke teman yang tinggal di Medan untuk membeli VCD asli Harry Potter and The Prisoner of Azkaban dan Harry Potter and The Goblet of Fire. VCD asli milik sendiri, yang sayangnya saat ini saya lupa dimana tersimpan, duh!

King Cross Station, London. Source: Pinterest.com

Kejeniusan J.K. Rowling menceritakan Kota London dan daerah-daerah lainnya di Inggris dalam rangkaian karya Harry Potter-nya membuat saya mulai jatuh cinta dengan negara kerajaan kuno ini. Saya pun mulai berangan-angan untuk suatu saat nanti bisa mengunjungi Inggris, khususnya Kota London. Dari penggambaran Rowling, saya bisa menyimpulkan bahwa Kota London adalah kota yang sendu, sering berkabut dan mendung, dan hanya sedikit sekali berlangit cerah sepanjang tahun.

Seiring mulai kuliah, saya mulai berkenalan dengan berbagai TV series holywood seperti Heroes dan Gossip Girl. Dua series ini membuat saya tergila-gila dengan Amerika Serikat. Bagaimana gemerlap dan majunya kota di sana seperti New York, Washington, dan kota-kota lainnya. Maka, angan-anganpun bertambah agar suatu saat nanti bisa mengunjungi New York dan kota-kota lainnya di Amerika Serikat.

Kini, daftar itu makin bertambah karena saya sedang gandrung dengan dua TV series yang sedang menyedot perhatian dunia. Stranger Things dan The Umbrella Academy adalah dua series dengan cerita dan lokasi berbeda, yang punya penggemar fanatik di dunia. Saya salah satunya, haha.

Stranger Things in Hawkins. Source: Pinterest.com

Stranger Things bercerita tentang sebuah kota kecil bernama Hawkins yang diteror berbagai peristiwa supranatural. Hawkins ini adalah sebuah kota fiktif yang terletak di Indiana, Amerika Serikat. Meskipun fiktif, tapi kehidupan tahun 83-84 yang digambarkan sangat real dalam serial ini. Cerita dimulai dengan hilangnya seorang anak laki-laki bernama Will Byers secara misterius. Hilangnya Will ini membuat gempar Kota Hawkins yang notabene merupakan kota kecil yang relatif aman sentosa. Anehnya, di saat yang berdekatan, teman-teman Will yang terdiri dari Mike, Lucas, dan Dustin menemukan seorang anak perempuan misterius bernama Eleven. Gadis kecil ini pun menyimpan banyak rahasia yang bahkan mengerikan.

Nuansa horor mulai meneror kala Will ternyata bisa berkomunikasi dengan ibunya secara supranatural.  Situasi makin horor lagi saat makhluk-makhluk mengerikan mulai meneror Hawkins dan memakan korban. Film ini menggabungkan science, thriller, horor, dan drama menjadi satu series yang berhasil membuat saya menuntaskan semua episodenya secara maraton. Saya pun jatuh cinta dengan Indiana dan penasaran seperti apa kota itu.

Hawkins, Indiana in Stranger Things. source: AtlasofWonders.com

Yang menarik dari Stranger Things tak hanya karena membuat penasaran dan menyenangkan, tapi pengemasan series ini begitu sempurna. Lagu-lagu yang mengiringi, pernak-pernik, dan fashion yang dipilih benar-benar membuat saya memahami bagaimana trend tahun 80-an yang mana saya justru belum lahir saat itu. Season demi season, Duffer Brothers berhasil mengembangkan cerita dan karakter setiap tokohnya menjadi lebih kuat. Bagaimana saya yang awalnya sangat membenci Steve Harrington malah jatuh cinta di season 2 karena ternyata karakternya dikembangkan lebih baik dan justru mengambil banyak peran penting. Belum lagi, semua tokohnya memiliki kekuatan karakter yang memiliki porsi yang pas sehingga membuat saya menyukai semua tokohnya. Well, bukan Mindflyer tentunya, hahaha.

Hawkins, Indiana in Stranger Things. source: AtlasofWonders.com

Selesai dengan Stranger Things, saya butuh asupan series lainnya. Minimal yang selevel, tidak bermaksud sombong, karena jika sudah menonton Stranger Things, rasanya saya bisa memahami cerita film dan series sejenis dan bahkan bisa membaca jalan ceritanya sejak awal. Maka, saya pun mulai berburu series baru dan akhirnya jatuh cinta dengan The Umbrella Academy. Berawal karena saya sangat menyukai film/series sci-fi dan superhero, dan saat membaca sinopsis The Umbrella Academy yang menceritakan sekelompok anak yang memiliki superpower dengan latar belakang yang sangat misterius, maka saya pun mulai menonton episode pertamanya.

The Umbrella Academy. source: Pinterest.com

Satu pemikat The Umbrella Academy bagi saya pribadi adalah keterlibatan Ellen Page sebagai salah satu pemainnya. Saya sudah menyukai Ellen Page sejak dia berperan sebagai Kitty alias Shadowcat di beberapa film X-Men. Saya adalah penggemar berat Kitty, dan Ellen Page berhasil menghidupkan karakter Kitty sesuai ekspektasi saya. Saya juga menyukai Ellen Page di Inception, salah satu film yang menurut saya sangat jenius.

Awalnya, saya sempat menilai The Umbrella Academy ini sangat absurd. Ceritanya berawal dari sebuah peristiwa aneh, 43 perempuan muda di berbagai belahan dunia yang sama sekali tidak terindikasi hamil secara tiba-tiba dalam waktu kurang dari satu jam melahirkan anak. Maka, ada 43 anak yang terlahir bersamaan secara misterius. Tak lama, muncul lah seorang milyuner eksentrik bernama Reginald Hargreeves mulai mengumpulkan anak-anak misterius ini. Dari 43 anak, dia berhasil mengumpulkan 7 orang. Dia pun menamakan anak-anak itu dengan sebutan angka yakni Number One hingga Number Seven.

Tapi, episode demi episode, saya mulai mengerti dan malah jatuh cinta dengan series ini. Tokoh favorit saya adalah Number Five karena saya menemukan beberapa kesamaan dengannya. Kami sama-sama introvert, serius, tidak suka basa-basi, hanya menyukai hal tertentu yang hanya kami yang mengetahuinya, dan jika sudah menetapkan satu tujuan maka kami harus mencapainya. Pemeran Number Five ini bernama Aidan Galagher yang menurut saya sangat unik. Sekilas perawakannya seperti campuran India atau Timur Tengah, tapi kulitnya putih dan matanya berwana abu-abu kehijauan.

Salah satu ciri kalau saya sudah jatuh cinta adalah seperti biasa, saya akan selesaikan episode awal hingga akhirnya secara maraton. Menariknya, film ini berlokasi di Toronto, Kanada dan membuat saya jatuh cinta juga dengan Kota Toronto, Kanada. Sebelumnya, Kanada belum  pernah masuk dalam list impian saya. Tapi berkat TUA (kok singkatannya rada gimana gitu ya,hahaha) saya pun ingin sekali suatu saat nanti bisa ke Toronto, Kanada.

Toronto, Canada in The Umbrella Academy. Source: AtlasofWonders.com

Maka here they are: India, Inggris, Amerika Serikat, dan Kanada adalah racun cinta yang berhasil menggerogoti angan-angan saya berkat film dan TV series. Sejauh memberikan efek yang positif maka saya akan terus bermimpi dan berusaha hingga suatu saat nanti impian ini bisa menjadi nyata. Amin.

Karena saya sudah menyelesaikan The Umbrella Academy, kira-kira series apa lagi yang seru dan mungkin bisa membuat saya jatuh cinta dan pingin jalan-jalan dengan lokasinya? Please, feel free to share it!

Kapok Meremehkan Tempat Baru di Kepulauan Seribu

Pernahkah kalian diajak ke suatu tempat yang sebagian darinya sudah pernah didatangi dan terbersit “Ah, sudah pernah, pasti biasa saja” atau “Saya sudah pernah ke tempat yang lebih keren, jadi pinginnya sih ke tempat yang lebih keren lagi”, pernah?

Itulah yang belum lama terjadi pada saya. Saat musim libur Lebaran kemarin, keluarga besar memutuskan untuk mengadakan acara tahunan keluarga di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Karena sudah tiga kali ke Kepulauan Seribu dan sudah mengunjungi beberapa pulau mulai dari yang kecil seperti Pulau Kelor, Pulau Onrust, Pulau Bulat, Pulau Bidadari, sampai pulau yang cukup punya nama dan besar seperti Pulau Tidung, Pulau Pahlawan, dan Pulau Pari, saya langsung merasa kalau nantinya akan melihat pemandangan sama saja.

Apalagi ditambah beberapa tahun silam, saya sudah berkunjung ke beberapa pulau di Kepualauan Komodo dan beberapa pulau di Kepulauan Raja Ampat, membuat saya berekspektasi makin rendah. Saya ingin mengunjungi pulau lain di Indonesia yang karakteristiknya lebih bagus atau minimal sama dengan kepulauan-kepulauan tersebut. Maka, Kepulauan Seribu tidak ada di list itu (sok sekali ya, hahaha… maafkan aku yang dulu).

Akhirnya karena merasa memang butuh piknik, saya pun ikut saja apalagi ini semua gratis. Setelah empat tahun tidak mengunjungi Muara Angke, saya akhirnya menginjakkan kaki lagi di pelabuhan kecil ini. tidak begitu banyak yang berubah, masih cukup kotor dan masih tercium bau. Ya wajar juga, karena tak jauh dari pasar ikan tradisional.

Kami menaiki kapal reguler yang membutuhkan waktu tempuh tiga jam untuk mencapai Pulau Pramuka. Selama tiga jam di atas laut lepas, saya tidak merasa mual sama sekali, padahal suasana kapalnya cukup padat karena H-1 Lebaran. Saya mendengarkan musik dengan headset, lalu terlelap tidur, kemudian terbangun karena perut keroncongan. Untungnya kami membawa cukup banyak makanan kecil. Awalnya merasa tak enakan dengan orang lain yang masih berpuasa di hari terakhir, tapi semuanya tampak tertidur pulas. Bisa jadi karena mengantuk efek bangun sangat subuh atau karena suasana di atas kapal yang cukup suntuk sehingga membuat mengantuk. Setelah cukup kenyang, saya lanjut tidur lagi (hahaha, jangan heran kalau perut langsung offside menggendut).

Setelah tiga jam yang cukup bikin encok (ya ampun, mulai tua, padahal dulu mau selama apapun tetap segar dan berenergi), kami pun sampai di Dermaga Pulau Pramuka. Kesan pertama, Pulau Pramuka sudah maju karena terdapat pusat pemerintahan administrasi Kabupaten Kepulauan Seribu, rumah sakit umum daerah, bank, beberapa atm, kantor pos, hingga berbagai fasilitas umum lainnya.

Pemandangan dari tepi jalan di Pulau Pramuka.

Hotel dan berbagai tempat penginapan pun sudah sangat memadai. Sinyal provider telekomunikasi pun sangat baik. Saya langsung bernapas lega untuk hal satu ini karena beberapa hari di sini saya masih harus berkutat dan mengirimkan laporan setiap hari ke milis kerjaan. Iya, saya bawa laptop, hahaha. Jadi, jangan bayangkan island hopping yang benar-benar santai dengan pasir putih, ayunan, dan kelapa muda karena saya masih harus nyalain laptop dan bekerja tiap paginya. Tapi, saya tetap sangat bersyukur bisa merasakan liburan di tengah hectic-nya pekerjaan.

Yang lebih menyenangkan lagi, penginapan kami menghadap langsung ke pantai. Jadi begitu buka pintu atau jendela, maka pemandangan pantai yang akan langsung menyambut. Pantai di Pulau Pramuka juga cukup bagus dengan air pantainya yang cukup bersih, pasir pantainya yang putih, dan tanaman bakaunya yang subur. Pemandangan yang indah setiap keluar dari kamar.

Tapi yang membuat saya benar-benar kapok karena sudah berekspektasi rendah terhadap Kepulauan Seribu ini adalah saat di hari berikutnya. Kami akan menghabiskan waktu dengan snorkeling dan island hopping di Pulau Pasir dan Pulau Semak Daun. Memang, dua pulau ini belum pernah saya datangi sebelumnya.

Sesampainya di Pulau Pasir, airnya yang kehijauan dan pasirnya yang putih mengingatkan saya dengan Pulau Pasir Timbul di Raja Ampat! Hampir persis, hanya jika di Raja Ampat ada latar pulau kecil di salah satu sudutnya. Tapi, Pulau Pasir di Kepulauan Seribu ini pun sangat indah! Kami langsung snorkeling di sekitarnya, tapi hanya sekedar pemanasan karena snorkeling yang sebenarnya adalah tak jauh di Pulau Semak Daun. Para orang tua langsung berlarian di pasir putih. Mereka sangat riang berlarian dan berlompatan di pasir putih yang halus. Seperti Pasir Timbul di Raja Ampat, pada waktu tertentu jika air laut sedang tinggi, pulau ini pun akan terendam air.

Puas bermain di Pulau Pasir, kami pun menuju titik snorkeling tak jauh dari Pulau Semak Daun. Mesin kapal dimatikan, snorkeling pun dimulai! Byurrr, saya pun langsung menceburkan diri ke laut. Terakhir kali snorkeling sekitar dua tahun lalu membuat saya benar-baner kangen pingin snorkeling melihat keindahan bawah laut lagi. Maka, saya snorkeling sepuas-puasnya sampai tenaga mulai habis, hahaha.

Snorkeling di Pulau Pasir.

Jelang jam makan siang, kami bertolak ke Pulau Semak Daun. Di sinilah semua kata-kata yang sempat menyepelakan pulau-pulau cantik ini harus saya tarik lagi. Pulau ini sangat indah dan sangat mirip dengan Pulau Wayag di Raja Ampat. Air birunya yang bersih, dermaganya, pasir pantainya yang putih, bahkan prosesi makan siang di bawah pohon rindang menghadap ke pantai pun sama.

Berlabuh di Pulau Semak Daun.

Ahh, menyesal karena sudah sok tahu. Padahal ternyata masih banyak tempat yang tak kalah cantiknya dengan yang sudah terbiasa diekspos. Ini membuat saya belajar tidak cepat berekspektasi, baik tinggi atau rendah pada suatu hal atau tempat sebelum melihatnya lebih dekat. Saya malah terpikir bahwa Kepulauan Seribu yang terdiri dari ratusan pulau ini menyimpan kecantikan luar biasa yang belum diketahui.

Deretan bakau muda di Pulau Semak Daun.

Saya pun jadi semangat jika suatu saat ada opentrip ke pulau-pulau terpencil lainnya di Kepulauan Seribu. Wanna join?

Ngopi Asyik di Filosofi Kopi, Jakarta

Tak sedikit orang yang menjadikan kopi sebagai bagian penting kesehariannya. Baik diminum hangat atau dingin, masing-masing pencinta kopi punya referensi dan seleranya sendiri. Di tengah hiruk pikuknya Kota Jakarta, ada satu pojok ngopi yang sudah lama mencuri perhatian. Filosofi Kopi.

Bisa dibilang, Filosofi Kopi adalah cafe dengan konsep indutrialis, rustic, dan homey. Saya pribadi penyuka kopi meskipun jenis yang saya suka sangat mainstream seperti es cappuchino, es moccha, es coffeelatte, dan lainnya yang tidak begitu pahit.

Tampak depan Filosofi Kopi

Kadang, saat mengunjungi sebuah coffee shop, saya lebih tertarik dengan ambience dan konsep tempatnya. Saya sangat menyukai coffee shop tenang, dengam musik jazzy maupun pop yang tidak begitu gegap gempita, serta interior yang homey dan inspiratif.

Filosofi Kopi memang dikenal awalnya dari film Indonesia berdasarkan novel kumpulan cerita pendek Dewi “Dee” Lestari dengan judul sama, Filosofi Kopi. Film ini pun mendapat perhatian yang baik dari pencinta film tanah air karena suguhan ceritanya yang baru dan segar, maupun teknik pengambilan gambar yang sederhana tapi sangat artsy.

Setelah filmnya sukses menarik perhatian, coffe shop dengan nama sama pun hadir di Jalan Melawai, kawasan Blok M, Jakarta. Tempat ngopi ini makin terkenal karena memang ada sentuhan Chicco Jericho dan Ryo Dewanto di dalamnya. Dua sosok ini merupakan pemeran utama di film Filosofi Kopi.

Foto Chicco dan Ryo.

Filosofi Kopi makin marak di social media kala seorang seniman lokal, Abenk, yang juga merupakan suami dari influencer lifestyle dan kecantikan Andra Alodita, memberikan sentuhan artsy ala Abenk di jendela-jendela kacanya. Tampaknya lukisan kaca itu menjadi daya tarik tersendiri karena teman-teman saya pun banyak yang berlomba-lomba ngopi di sana dan pos fotonya di socmed.

Sebagai penyuka kopi yang stay di Bandung, saya hanya bisa menikmati lewat socmed karena agak kurang worth rasanya pergi ke Jakarta hanya untuk ngopi. Sedangkan kalau sambil dinas malah sering tidak cukup waktunya. Serba salah ya, hahaha. Akhirnya saat ada waktu di Jakarta dan cukup santai kemarin, saya menyempatkan diri ke sana.

Menemukan Filosofi Kopi cukup tricky karena lokasinya memang berada di wilayah perbelanjaan Blok M dan agak nyempil. Kendaraan apapun akan langsung dikenakan e-parking fare. Jadi, kalau datang ke sini menggunakan transportasi online, pastikan ke driver-nya kalau kalian akan membayarkan biaya parkirnya agar driver-nya tidak punya alasan menurunkan penumpang di pinggir jalan padahal belum sampai tepat di depan Filosofi Kopi.

Saat saya sampai di depan Filosofi Kopi, jendela kaca berlukisan ala Abenk itu sudah tidak ada. Memang, lukisan itu sudah ada hampir dua tahun lalu. Mungkin manajemen Filosofi Kopi ingin mengganti suasana atau ada pertimbangan lain.

Teras Filosofi Kopi

Tampak dari depan, Filosofi Kopi tidak terlalu besar. Saat sampai di dalamnya pun, suasana homey dan inspiratif kental terasa meskipun ruangannya tidak terlalu besar. Saya memesan Ice Cappuchino dan memilih duduk dekat dinding di meja bundar kayu. Setiap dinding dipenuhi karya seni seperti lukisan, mural, dan foto. Tidak ada dinding yang kosong percuma. Pun tidak ada yang asal penuh karena setiap goresan seperti sudah dipertimbangkan baik-baik.

Logo Filosofi Kopi yang terkenal
Lukisan yang menarik

Yang paling saya suka adalah suasana tenangnya dan membuat ide mengalir lancar. Mungkin, hal ini karena yang mengunjungi Filosofi Kopi kebanyakan adalah anak-anak muda maupun orang dewasa yang datang sendiri atau berdua hanya untuk mengerjakan tugas atau hanya untuk ngopi sambil ngobrol santai. Jadi, tidak ada ribut atau berisik yang berarti.

Santai di Filosofi Kopi
Ngobrol santai

Saya pribadi sangat senang ngopi dan duduk santai berlama-lama di Filosofi Kopi di Melawai, Jakarta ini. saya bisa menulis apapun yang terbersit di pikiran dengan santai.

Artsy dan inspiratif

Sayangnya, Filosofi Kopi baru ada di Jakarta, Semarang, dan Jakarta. Berharap semoga segera ada di Bandung dengan sentuhan artsy dan inspiratif yang sama seperti pionirnya di Melawai, Jakarta.

Ice cappuchino pesananku

Outfit Liburan ke Korea di Bulan Mei

Buat beberapa orang,  masa liburan alias jalan-jalan yang paling penting adalah pengalamannya. Tetapi, bagi orang-orang lainnya, traveling adalah paket komplit yang harus berkesan secara keseluruhan, termasuk outfit alias pakaiannya. Buat saya, traveling adalah momen penting yang akan saya kenang selamanya, jadi outfit juga penting.

Penting di sini tidak berarti harus terlalu fokus memikirkan pakaian apa yang harus dipakai sampai melupakan kesenangan utama untuk traveling. Bukan. Tapi penting dalam artian harus sesuai dengan situasi, kondisi, dan nyaman untuk mendukung kita dalam explorasi destinasi wisatanya, plus nilai estetika agar kenangannya sempurna.

Apakah perlu budget khusus untuk outfit jalan-jalan? Tergantung. Jika destinasi wisata yang akan kita kunjungi memiliki musim atau cuaca yang jauh berbeda dari keseharian kita, tentu kita harus mengusahakan pakaian yang sesuai. Misalnya, seperti saat ke Korea baru-baru ini, di sana masih cenderung dingin yakni masih belasan derajat celsius bahkan mencapai di bawah 10° saat malam hari. Sebagai manusia tropis, tentu saya harus mengusahakan pakaian yang sesuai agar nyaman dan tetap sehat saat berada di sana.

Karena selama ini tidak pernah berkunjung ke negara empat musim, alhasil saya harus membeli coat alias outer hangat. Terpikir untuk meminjam saja ke teman, tapi saya berpikir setidaknya saya harus punya satu sebagai motivasi agar bisa sering traveling ke negara empat musim lainnya. Amin.

Jadi, secara ringkas, saya akan sharing tentang outfit yang saya pakai saat traveling ke Korea baru-baru ini. Ini hanya sekadar sharing berdasarkan pengalaman pribadi saya, jadi semoga dapat menjadi referensi atau masukan ya. Tidak harus diikuti, jadi pilih yang paling sesuai dengan kebutuhan masing-masing ya.

Penting tidk berarti harus terlalul fokus memikirkan pakaian apa yang harus dipakai sampai melupakan kesenangan utama untuk traveling. Bukan. Tapi penting dalam artian harus sesuai dengan situasi, kondisi, nyaman untuk mendukung kita dalam explorasi destinasi wisatanya, plus nilai estetika juga penting biar kenangannya sempurna.

Apakah perlu budget khsusus untuk outfit jalan-jalan? Tergantung. Jika destinasi wisata yang akan kita kunjungi memiliki musim atau cuaca yang jauh berbeda dari keseharian kita, tentu kita harus mengusahakan pakaian yang sesuai dengan destinasi wisata. Misalnya, seperti saat ke Korea baru-baru ini. Di sana masih cenderung dingin yakni masih belasan derajat celsius bahkan mencapai di bawah 10° saat malam hari. Sebagai manusia tropis, tentu saya harus mengusahakan pakaian yang sesuai agar nyaman dan tetap sehat saat berada di sana.

Karena selama ini tidak pernah berkunjung ke negara empat musim, alhasil saya harus membeli coat alias outer hangat. Terpikir untuk meminjam saja ke teman, tapi saya berpikir setidaknya saya harus punya satu sebagai motivasi agar bisa sering traveling ke negara empat musim. Amin.

Jadi, secara ringkas, saya akan sharing tentang outfit yang saya pakai saat traveling ke Korea baru-baru ini. Ini hanya sekadar sharing berdasarkan pengalaman pribadi saya, jadi saya harap dapat menjadi referensi atau masukan ya. Tidak harus diikuti, jadi pilih yang paling sesuai dengan kebutuhan masing-masing ya.

Let’s dig in!

Outfit yang nyaman akan membuat jalan-jalan makin berkesan.
  • Heattech

Sebagai manusia tropis, udara dingin yang tidak bisa diprediksi bisa saja memberikan “shock therapy” bagi tubuh kita. Karena cuaca atau suhu direspons berbeda oleh setiap tubuh maka sebagai antisipasi bawalah heattech baik untuk atasan maupun bawahan. Heattech ini berfungsi menghangatkan tubuh. Bahannya lembut dan elastis, mirip seperti legging untuk bawahan atau manset untuk atasan. Khusus atasan, ada juga yang jenis turtle neck. Bahannya pun beragam, sesuaikan saja dengan kebutuhan.

Gunakan heattech setelah memakai dalaman alias sebelum memakai outfit yang sebenarnya (memangnya ada outift tidak sebenarnya? Hahaha). Sejujurnya, saya juga pertama kali membeli heattech saat akan berangkat ke Korea. Saya pilih heattech dari Uniqlo karena selain mudah mendapatkannya, berdasarkan review yang saya baca, kualitas Uniqlo juga sudah teruji.

Model turtle neck, pic: Uniqlo.
Warna berbeda agar tidak monoton, pic: Uniqlo.
Untuk bawahan agar kaki tetap hangat, pic: Uniqlo.
  • Sweater Aneka Warna

Sweater atau baju lengan panjang hangat cukup multifungsi karena selain menghangatkan badan, warna-warnanya juga bisa memberikan style yang berbeda saat kita jalan-jalan. Uniknya, sweater bisa kita padupadankan dengan coat, jaket, blazer, dan selalu cocok dengan berbagai bawahan, baik itu jeans atau celana bahan biasa. Untuk jumlah sweater sesuaikan saja dengan berapa lama trip yang akan dilakukan. Untuk menghemat bagasi, satu sweater dapat dipakai dua hari, tinggal disiasati aja. Misalnya, hari pertama hanya sweater saja, hari selanjutnya dengan coat atau blazer.

Sweater sangat mudah ditemukan di berbagai pusat perbelanjaan atau toko pakaian yang memang khusus menjual baju musim dingin atau pakaian yang terbuat dari bahan rajutan. Saya membeli sweater-sweater saya di MKY, toko pakaian yang menjual baju-baju perempuan bergaya Korea. Jadi, pas banget kan?

Pilihlah sweater warna cerah dan kontras.
Sweater bisa dipadupadankan dengan celana panjang maupun jeans.
Jangan lupa pilih warna favorit, seperti saya warna pink.
  • Coat

Coat atau jaket hangat juga sangat penting apalagi jika kita belum pernah berkunjung ke negara empat musim dan di saat masa-masa peralihan musim. Bahkan ada beberapa negara yang cuacanya sangat tidak terprediksi. Jadi, akan lebih nyaman kalau kita cukup prepare dan berjaga-jaga. Bisa saja sih dengan opsi membeli di negara tujuan sesuai apa yang dibutuhkan. Tapi, bagi saya pribadi, membawa sendiri dari rumah akan lebih nyaman dan tentunya lebih hemat.

Coat sendiri bermacam-macam, ada yang extra hangat terbuat dari bulu angsa atau bulu-bulu hewan lainnya. Ada yang medium alias hangat tapi tidak terlalu tebal. Ada yang cukup hangat dan bahannya ringan dan tipis. Kalau saya, saat ke Korea menggunakan yang medium karena cuaca di sana saat itu sudah mulai hangat. Coat cokelat muda ini saya beli di H&M.

Coat membuat badan hangat dan tetap stylish.
  • Blazer

Karena bulan Mei cuaca di Korea mulai hangat, maka saya pun membawa sebuah blazer untuk dipadu-padankan dengan sweater dan kaos. Blazer juga multifungsi karena bisa membuat badan hangat sekaligus stylish. Saya pribadi ingin memakai blazer karena teracuni gadis-gadis dalam drama Korea yang gemar sekali memakai blazer dalam kesehariannya. Jadi, saya juga ingin mencoba bergaya ala gadis-gadis Korea di negaranya langsung.

Blazer pun bermacam-macam lho! Ada yang lengannya panjang, ada yang 7/8. Panjang blazer pun ada yang sampai ke paha, ada yang cuma sampai pinggul. Untuk blazer pink ini, saya beli di Bershka karena selain bahannya enak, kualitasnya bagus, juga banyak pilihan model yang bisa kita sesuaikan dengan bentuk dan tinggi badan kita.

Blazer multifungsi, hangat sekaligus stylish ala gadis-gadis Korea.
Blazer pun cocok untuk sweater.
  • Kaos

Kaos adalah pakaian wajib saat traveling. Selain nyaman, kaos juga ringkas. Bawalah beberapa kaos yang harus tetap disesuaikan dengan cuaca yang ada. Utamakan yang tidak tipis, karena meskipun Korea mulai hangat, anginnya tetap kencang lho!

Kaos yang nyaman dan warna netral sangat mudah dipadupadankan.
  • Jeans

Buat saya pribadi, jeans cukup multifungsi karena bisa memberikan style yang berbeda dengan hanya menambah aksen. Misalnya, jeans bisa dipakai panjang atau diberi lipatan di bawahnya sehingga seperti celana gantung atau 7/8. Sudah beberapa tahun, saya selalu memakai jeans dari Giordani, karena bahannya enak, kualitasnya tahan lama, dan cukup tebal.

Jeans memang paling cocok dengan cuaca cerah.
  • Celana Panjang Hitam

Kenapa saya tekankan warna hitam? Karena warna netral ini bisa dipadu-padankan dengan berbagai bentuk atasan dan seluruh warna. Jadi, akan sangat menghemat bawaan kita karena tidak perlu membawa banyak bawahan atau celana. Selain itu, celana panjang non-jeans sangat penting jika kita banyak berjalan dan mendaki karena akan membuat badan tetap nyaman. Sedangkan jeans, kadang lebih ketat atau kaku sehingga saat mendaki kadang memberikan kesan kurang leluasa bagi kita. Celana panjang saya ini pun saya beli di Giordani karena kualitasnya bagus, bahannya enak, tidak gampang lusuh, dan tidak luntur.

Celana panjang nyaman saat mendaki.
  • Kupluk atau Topi Hangat

Saat malam hari, Kota Seoul sangat dingin dan berangin, jadi saya sarankan untuk membawa topi hangat atau kupluk untuk melindungi kepala dari angin dan menjaganya tetap hangat.

Kupluk hangat yang juga stylish.

Nah, itulah outfit yang saya pakai selama lima hari liburan di Korea kemarin. Beberapa outfit memang saya beli baru karena belum punya sebelumnya. Yang paling utama adalah jaga kesehatan dan nikmati masa-masa liburan untuk mendapatkan pengalaman yang berkesan sebanyak-banyaknya. Selamat liburan!

Moment of Truth: Berdiri di Tower Impian Setelah 10 Tahun

Kalau ada yang bertanya kepada saya, “Negara mana yang menjadi impianmu sejak kecil?” Maka saya akan menjawabnya dengan, “Jepang”. Ini karena berbagai hal tentang negara ini yang pertama kali menerpa saya. Anime dan manga yang berhasil membuat saya tergila-gila dengan negara Jepang. Saya bahkan bisa mengatakan kalau saya punya obsesi tersendiri terhadap negara ini (akan saya ulas di tulisan berbeda nantinya). Tapi, beranjak dewasa, ada negara lain yang menjadi salah satu impian saya, Korea Selatan.

Here i am, at Seoul City, Korea.

Girls Generation-lah yang cari gara-gara sehingga membuat saya mulai terobsesi dengan Halyu Wave. Tapi Janggeum dan Princess Hour adalah “kontak pertama” saya dengan budaya pop Negeri Ginseng ini. Oh tentu, saat pertama kali terpapar hal-hal terkait Korea Selatan sekitar tahun 2005/2006 itu, saya belum tahu istilah itu.

Saya pun mulai paham istilah ini setelah makin terobsesi dengan berbagai variety show dan musik K-Pop yang menjadi salah satu senjata andalan Korea Selatan dalam mempromosikan negaranya. Halyu Wave atau Gelombang Korea adalah fenomena yang membuat segala hal yang berbau Korea menjadi mendunia dan orang-orang menjadi gandrung bahkan mulai mengikutinya. Drama Korea dan musik K-Pop dipercaya mengambil andil yang paling besar dalam menyebarkan Halyu Wave ke seluruh dunia. Disusul dengan makin maraknya variety show Korea yang ternyata memikat hati penonton dari seluruh dunia. Selanjutnya makanan, fashion, bahkan perawatan kecantikan memperkuat gelombang Halyu sampai dikenal istilah Korean Beauty. Akibatnya, rasa ingin tahu masyarakat dunia akan negara Korea semakin tinggi.

Tak terkecuali saya. Saya makin gandrung nonton bahkan download video girlband dan boyband favorit saya. Saya juga mulai mengikuti fashion bahkan gaya make up gadis-gadis Korea. Namun, hingga akhir 2011, saya belum bisa mengikuti terlalu jauh karena belum punya penghasilan sendiri. Tak etis rasanya memakai uang saku dari orang tua untuk hal-hal yang bukan kebutuhan penting. Meskipun cukup sering kecolongan dengan beli baju dengan style Korea juga (Bapak dan Mama, maafkeun daku). Untuk hal ini perlu menyalahkan sahabat saya sesama pencinta Korea, yakni Imelda Maurike Siahaan. Dialah partner in crime saya dan yang paling nyambung tentang segala hal, khususnya per-Korea-an ini.

Punya penghasilan sendiri, saya pun mulai berani bermimpi agar suatu saat nanti bisa mengunjungi Korea Selatan. Saya bisa saja berangkat di beberapa kesempatan, tapi berbagai kondisi menghambat sehingga akhirnya impian itu baru bisa tercapai setelah sepuluh tahun sejak saya benar-benar jadi pencinta Korea pada tahun 2009. Yang paling ikonik bagi saya tak lain adalah Namsan Seoul Tower atau N Seoul Tower. Menara ini sering ditampilkan dalam berbagai drama dan variety show, apalagi tentang gembok-gembok cinta yang jumlahnya tak terhitung di N Seoul Tower ini. Bahkan, badan wisata milik pemerintah Korea dengan gerakan I Seoul You menjadikan menara ini sebagai salah satu ikon dari Kota Seoul, Korea.

Namsan Seoul Tower

Maka, setelah awal Mei 2019 kemarin, saya akhirnya mewujudkan impian saya untuk menjejakkan kaki di negerinya Yoona dkk ini. Plus fakta bahwa seluruh perjalanan ini gratis dan saya hanya memikirkan uang jajan pribadi membuat perjalanan ini menjadi perjalanan luar negeri terbaik yang pernah saya alami. Hahaha, ya saya baru pernah ke Jepang dan Thailand saja sebelumnya, jadi belum banyak pengalaman juga sebenarnya.

Iya, saya beruntung dan saya tak henti mengucapkan syukur kepada Tuhan atas berkatnya ini. Saya berhasil menjadi salah satu pemenang lomba menulis tentang traveling di salah satu platform berita online terbesar di Indonesia yakni Detik.com lewat kanal wisatanya DetikTravel, dengan sponsornya yakni perusahaan e-commerce raksasa Indonesia, Tiket.com. Big thanks, thank you so much, gomawo yo!

Sebenarnya saya ragu untuk menuliskan perjalanan ke Korea Selatan karena pasti sudah banyak review dari blogger-blogger lain di internet. Apalagi, wisata ke Korea sudah digemari sejak tahun 2012 saat makin banyak musisi K-Pop yang bermunculan dan variety show seperti Running Man yang memperkenalkan banyak tempat-tempat menarik di seluruh Korea Selatan. Tapi, saya kemudian memutuskan untuk tetap menuliskannya berdasarkan cerita pribadi sebagai seorang K-Poper yang akhirnya berhasil mewujudkan impiannya, bahkan secara gratis pula!

Karena perjalanan ini sudah di-arrange oleh tim penyelenggara, jadi saya tinggal mengikuti trip yang sudah ditentukan, termasuk tempat-tempat wisatanya. Tapi, saat pertama kali tahu bahwa N Seoul Tower menjadi salah satu destinasinya, maka saya sudah sangat bahagia. Sebenarnya tower ini menjadi semacam destinasi wajib bagi hampir seluruh agen travel yang membuka perjalanan ke Korea Selatan. Ya, ibaratnya kalau turis asing pertama kalinya ke Jakarta pasti direkomendasi ke Monas dulu sebagai ikonnya Jakarta. Begitulah kira-kira.

Yang membuat saya semangat ke N Seoul Tower bukan gembok-gembok cinta karena jujur saya tidak memasangnya sekali (ahh, bilang aja karena Kakak jomblo, ya kan?). Jadi, selain karena ini memang ikon Kota Seoul, yang membuat saya semangat ke N Seoul Tower ini adalah karena kami akan diberikan keleluasaan hampir sekitar 1 jam meng-explore sendiri tower ini. Karena trip-nya sudah diatur, jadi jadwal cukup ketat dan kami jarang punya waktu personal untuk menjelajahi tempat wisatanya, sepanjang hari selalu serombongan. Sangat menyenangkan bisa segrup dengan orang-orang hebat dan menyenangkan, tapi entah kenapa ada momen saat saya ingin menikmati sejenak saja detik-detik berada di Korea Selatan tanpa hectic harus foto di sana-sini. Saya ingin benar-benar hanya diam, memandangi apa yang ada di depan saya, meresapi tiap suasana, mendengar bahasa-bahasa, dan menghargai setiap detiknya sebagai suatu pengalaman yang berharga.

Namsan Tower dengan latar matahari senja.
Jalan yang sedikit mendaki ke Namsan Tower.

Jadi, setelah sampai di parkir, Namsan Tower sudah menyambut dengan berdiri gagah menjulang. Ternyata kami harus berjalan menuju bangunan Namsan Tower. Tak jauh dan justru sangat menyenangkan karena bisa melihat berbagai bunga cantik yang ditanam dan sangat terawat di sepanjang jalan. Ada bunga tulip juga. Ini kali kedua bagi saya melihat bunga tulip secara langsung, setelah pertama kali di Jepang.

Ini bukan bunga sakura, tapi sangat cantik untuk mengobati rasa kangen.
Si cantik bunga tulip yang tumbuh di sepanjang jalan menuju Namsan Tower.

Namsan Tower ini merupakan menara pemancar yang masih aktif hingga saat ini. Saat pertama sampai di halaman depannya, kita akan melihat patung-patung panda dan babi di halamannya. Ini cukup menarik, khususnya bagi anak-anak. Setelah melewati pintu masuk, akan tercium wangi khas kopi karena ada Starbucks di dekat pintu masuknya. Untuk masuk ke Namsan Tower, pengunjung harus membeli karcis sebsar 10.000 Won atau sekitar 120.000 rupiah.

Tampak depan pintu masuk plaza sebelum naik ke menaranya.
Anak-anak pasti betah main di sini.

Uniknya, ada lorong-lorong LED yang menyala indah saat akan menaiki lift menuju menara pandang Namsan Tower. Saat berada dalam lift pun akan diputar video interaktif yang membuat pengunjung yang naik lift seolah-olah sedang terbang menuju luar angkasa.

Seolah-olah kita berada dalam warp lompatan antar galaksi seperti di film Star Trek.

Sesampainya di menara pandang, saya cukup kaget. Tempat ini sangat ramai dengan turis dari berbagai belahan dunia. Bisa dibilang, berbagai orang dari seluruh dunia berkumpul di sini. Di menara pandang ini, seluruh dindingnya merupakan kaca sehingga pengunjung disuguhkan 360◦ pemandangan Kota Seoul. Di setiap kaca pun ditempeli stiker berupa bendera dan nama ibukota negara serta jarak tempuhnya dari Kota Seoul. Saat ini kami semua berpencar untuk menikmati Namsan Tower. Saya pun langsung menikmati senja itu dengan berkeliling pelan-pelan.

Menikmati senja dengan memandang horison.
Pemandangan Kota Seoul dari menara pandang. Indah: modern tapi asri.

Perlahan, saya membaca hampir setiap dinding. Saya jadi tahu jarak Kota London dengan Seoul sejauh 8.954 km. Kenapa London? Karena ini merupakan salah satu kota impian yang ingin saya kunjungi juga suatu saat nanti, amin.

Saya pun berjalan perlahan, membaca setiap stiker. Saya mulai mencari-cari, satu tulisan dan bendera yang sepertinya mulai saya rindukan. Setelah berjalan, akhirnya saya menemukannya. Stiker merah-putih dengan tulisan “Jakarta” di sampingnya, lengkap dengan jaraknya 5.128,98 km. Sejauh itulah saya dengan ibukota negeri tercinta. Saya memutuskan hanya berdiri dan memandang jauh menikmati suasana tenang di tengah keramaian Namsan Tower, merasakan hangat senja sore. Saya bersyukur, saya sudah sejauh ini mencapai salah satu impian saya.

Biarpun saya pergi jauh, tidak ‘kan hilang dari kalbu, tanahku yang kucintai. Indonesia.

Tiba-tiba, saya teringat impian lainnya, saya pun mencari dan menemukannya. Auckland, kota lainnya yang semoga akan saya kunjungi suatu saat nanti. Saya berdiri menghadap ke arah Auckland, melihat hingga ke horison. Membayangkan seperti apa Auckland itu. Di antara pemanangan gedung-gedung pencakar langit Seoul itu, mata saya tertuju pada titik horison dimana Auckland ada di sana sejauh 9.494,83 km dari Seoul. Saya pun meresapi setiap momen itu, menikmati tiap pandangan dan “moment of truth” antara saya, bumi, dan impian-impian saya. Jarak secara fisik memang sangat jauh, tapi jarak saya dengan impian itu hanya sejauh doa dan kerja keras. Saya hanya harus lebih giat berdoa dan berusaha.

Living my dream. Amen.

Wangi kopi menusuk hidung dan membuyarkan lamunan senja itu. Ya, ternyata saya baru menyadari ada cafe di lantai yang sama, bahkan saya baru melihat di sekeliling banyak yang menikmati pemanadangan indah ini sambil menyeruput kopi dan duduk santai. Tapi, meja-meja yang disediakan sudah dipenuhi pengunjung saking ramainya. Lagi pula, saya juga harus bergegas karena masih ingin menikmati sisi lainnya. Salah satunya, teras yang berisi penuh gembok-gembok cinta itu.

Sebanyak itu, bahkan yang bertahun-tahun tergantung hingga berkarat pun ada.
Ada nama yang familiar?

Sisa perjalanan di Namsan Tower saya habiskan dengan meng-explore sudut teras dan halamannya. Ternyata ada beberapa titik yang dipenuhi gembok yang digantung pengunjung dari berbagai negara di dunia ini. Tak terkecuali Indonesia, karena banyak sekali gembok bertuliskan nama khas Indonesia di sana.

Di Namsan Tower tanpa menggantung gembok ternyata tidak apa-apa. Hahaha
Percayalah, kursi ini merosot bukan karena bobot saya sejak makan banyak di Korea.

Setelah itu, saya berkumpul bersama teman trip dan kami memutuskan untuk membeli churos. Hanya tersisa original karena yang rasa cokelat sudah sold out. Dan rasa churosnya cukup berbeda dengan yang biasa ada di Indonesia. Ya, masyarakat Korea tidak terlalu terbiasa dengan makanan serba manis dan penambah rasa lainnya. Mereka sangat memperhatikan aspek kesehatan, terutama dalam makanan.

Menikmati sisa senja di teras Namsan Tower.
Everywhere in here is about love. Ehem.
Gerai-gerai street food dan cinderamata.

Setelah sunset, kami beranjak meninggalkan Namsan Tower. Meskipun aktivitas ini sangat mainstream bagi turis yang datang ke Korea, tapi saat-saat di menara pandang Namsan Tower ini adalah salah satu momen terbaik yang bisa saya kenang saat trip Korea ini. Moment of truth, saat saya kembali disapa dengan manis impian dan kenyataan betapa indah dan luasnya bumi ini. Ada impian yang sepadan di sana. Ada impian yang harus terus diperjuangkan. Dan menara pandang ini kembali memelukku dengan momen itu.