Minimal Sekali Harus ke Solusi Buku, Surganya Para Introvert & Pencinta Buku

Yogyakarta selalu menjadi tempat yang istimewa bagi para pelancong, baik lokal maupun internasional. Ciri khas tradisi dan budayanya yang kental, makanannya yang enak nan murah, serta wisata alamnya yang lengkap karena ada gunung dan pantai bisa membuat orang-orang ingin berkali-kali datang ke Yogyakarta. Tak heran kalau belakangan Kota Yogyakarta makin ramai bahkan padat dengan para wisatawan, khususnya saat akhir pekan apalagi kalau libur panjang. Yogyakarta yang konon makin ramai inilah yang sempat membuat saya sedikit enggan untuk main ke Kota Gudeg ini lagi. Namun, hal itu berubah sejak saya menemukan Solusi Buku (Ini bukan tulisan sponsor, sama sekali tidak).

Berawal dari saat saya berselancar di dunia maya untuk mencari tempat yang asyik untuk recharge di Yogyakarta, akhirnya saya menemukan Solusi Buku. Namanya unik untuk sebuah toko buku yang ada fasilitas kafe dan ruang baca yang nyaman di dalamnya. Penasaran dengan suasananya yang dari foto saja sudah terasa nyaman dan tenang, akhirnya saya berencana untuk datang ke Solusi Buku.

Solusi Buku

Beberapa waktu kemudian, akhirnya rencana itu tereksekusi. Saya naik Kereta Taksaka dari Purwokerto ke Yogyakarta dan setelah 2 jam perjalanan akhirnya saya tiba di Stasiun Tugu. Setibanya di Stasiun Tugu, saya langsung pesan ojek online. Ternyata jarak Solusi Buku dari Stasiun Tugu lumayan jauh juga, haha. Sekitar 11 Km, yang kalau dijajal dengan motor bisa sekitar 30-45 menit dan kalau naik mobil bisa sekitar 45-60 menit (tergantung kondisi jalan raya juga ya).

Selamat datang di Solusi Buku

Tapi momen naik ojek dalam perjalanan ke Solusi Buku pun sangat menyenangkan. Sambil melihat kanan-kiri suasana Kota Yogyakarta, saya juga sambil ngobril tipis-tipis dengan drivernya. Dia sangat ramah dan tidak mempertanyakan pilihan saya yang jauh-jauh naik ojek 11 Km hanya untuk ke toko buku, padahal di pusat kota banyak toko buku, haha. Oh ya, Pak drivernya sempat bingung mencari titik Solusi Buku ini, mungkin karena belum terlalu familiar atau memang karena posisinya yang tidak terletak di jalan raya utama. Akhirnya setelah sama-sama saling memperhatikan kanan-kiri untuk menemukan logo Solusi Buku, kami pun tiba dan Pak driver tertawa kecil, “Oh ini toh Solusi Buku. Saya baru kali ini ke sini”.

Parkiran Solusi Buku luas dan bangunannya tampak baru. Begitu sampai di teras dan saya mendorong pintunya terbuka, saya hampir menangis. Bagaimana tidak, Solusi Buku ini mengingatkan saya dengan project tugas saat kuliah dulu. Kala itu, kami ditugaskan untuk membuat sebuah perusahaan imaginatif dan dalam 1 semester kedepan, kami diminta untuk membuat berbagai rencana pengelolaan publikasi perusahaan itu. Mulai dari membuat company profile, event, dan berbagai program marketing lainnya. Tebak dulu apa perusahaan yang saya buat?

Ya, alasan yang membuat saya hampir menangis dibuat bernostalgia adalah karena perusahaan imaginatif yang saya buat saat itu adalah satu perpaduan dari toko buku, kafe, dan galeri lukisan yang saya beri nama Serene. Suasana Solusi Buku inilah yang dulu saya bayangkan saat mengimajinasikan Serene sebagai perusahaan yang harus saya kelola. Saya sempat tergelitik saat menginjakkan kaki memasuki Solusi Buku, “Apakah masih ada setitik harapan untuk Serene bisa terwujud? Atau Serene akan tetap abadi sebagai tugas mata kuliah Publisitas saya?”

Lantai 1 Solusi Buku

Oke, tak lama-lama bernostalgia, saya langsung memesan 1 cup Ice Caffe Latte. Sambil menunggu es kopi saya dibuatkan oleh Sang Barista, saya melihat sekeliling. Ahhh, tenang, nyaman, dan alunan musik lembut menambah nyaman yang susah saya deskripsikan. Semua pengunjung sibuk membenamkan wajah di antara buku, hanyut dalam imajinasi masing-masing. Semua tampak membaca dengan khusuk. Siapa sangka di ramainya Yogyakarta ada tempat setenang ini?

Lantai kayu dan rak buku yang memanjakan mata
Pesan kopi dulu biar makin nikmat

Begitu es kopi saya selesai dibuatkan, saya baru teringat ingin memesan croissant untuk disantap bersama kopi. Namun, Sang Barista menjawab bahwa seluruh pastry ludes sedari siang. Tak heran karena saat saya memang baru tiba saat sudah pukul 3 petang. Sambil membawa cup es kopi, saya menaiki tangga ke lantai dua. Setiap ruangan dan lantai di Solusi Buku sangat bersih dan terawat. Lantai kayunya dilengkapi karpet sebagai alas yang memungkinkan pengunjung membaca sambil duduk nyaman jika sofa-sofa sudah penuh. Yang membuat saya sangat senang adalah sepenuh-penuhnya Solusi Buku, tidak akan terdengar suara berisik pengunjung. Semua hanyut membaca, memilih buku, atau menulis. Ahhh…benar-benar surga buat saya. Saya bertekad dalam hati akan datang lagi jika punya waktu luang.

Lantai 2 Solusi Buku

Interior setiap lantai di Solusi Buku benar-benar dipikirkan dengan matang dan ditata dengan baik. Setiap sudut terasa nyaman. Buku-bukunya juga relatif lengkap dengan berbagai genre. Suasana yang tenang dan dikelilingi buku-buku tentu jadi ambience tersendiri bagi para pencinta buku.

Setelah puas membaca buku, saya memutuskan untuk pulang. Eits, tapi tidak lengkap rasanya kalau datang ke Solusi Buku tanpa membeli buku. Saya memutuskan membeli satu buku tentang strategi perang. Haha, ini bukan berarti saya mau berperang. Tapi buku Strategi Perang Sun Tzu punya pesan utama yang memang diadaptasi dari strategi perang paling terkenal di dunia, dan strategi itu bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bonusnya, ternyata setiap pembelian buku di Solusi Buku akan dihadiahi stiker dan pembatas buku yang bisa dipilih sendiri oleh setiap pembeli. Tidak ada minimal pembelian, jadi beli 1 buku pun akan dapat bonus stiker dan pembatas buku. Seru sekali, experience di Solusi Buku benar-benar lengkap rasanya.

Sambil menunggu ojek online datang menjemput, saya duduk di kursi kayu di teras Solusi Buku. Seraya menatap ke arah matahari yang mulai terbenam keemasan, saya merasa beruntung bisa datang ke Solusi Buku dan teringat kembali kepada Serene, sebuah imaginasi yang dulu menemani tugas-tugas kuliah saya selama 6 bulan. Semoga suatu saat nanti, Serene bisa terwujud ya. Tak tahu kapan, tapi selama asa itu ada, maka kesempatan masih terbuka kan? Niscaya.

Totto-Chan dan Harapan Kecil untuk Kedamaian

Tanggal 1 Mei 2024 lalu, film animasi Totto-Chan yang merupakan kisah nyata dari seorang seniman dan aktivis Jepang yakni Tetsuko Kuroyanagi akhirnya bisa ditonton di bioskop-bioskop. Film ini menceritakan kisah Tetsuko -yang pada masa kecilnya dipanggil Totto-Chan- saat tahun awal memasuki sekolah dasar dengan latar waktu beberapa tahun sebelum akhir Perang Dunia II. Totto-Chan anak perempuan yang penuh imaginasi, ceria, aktif, dan supel meski kadang rasa ingin tahunya dinilai tidak seperti anak-anak pada umumnya. Kisah lengkap Totto-Chan dapat dibaca juga di buku best seller international berjudul Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela karena film animasi ini pun diangkat berdasarkan buku tersebut.

Poster film Totto-Chan, menampilkan Totto-Chan saat membantu Yasuaki-Chan memanjat pohon,
salah satu momen yang membuat saya menangis

Saya sendiri pertama kali tahu buku Totto-Chan saat mengunjungi rumah sepupu di kota sekitar tahun 2008, waktu itu saya baru pertama kali merantau dari kampung untuk kuliah. Saya melihat satu buku pink-putih bergambar anak perempuan dipajang di rak meja belajar sepupu saya. Waktu itu, saya penasaran namun tidak sempat membuka atau membaca buku tersebut, saya lupa penyebabnya. Akhirnya, berselang sekitar 5 tahun kemudian -tahun 2013 saya sudah setahun bekerja- saya mendapatkan buku Totto-Chan secara cuma-cuma saat berhasil menjawab pertanyaan dari pengajar dalam sebuah kelas pelatihan dari kantor. Saya sangat senang mendapatkan buku itu dan akhirnya mulai membacanya dari awal sampai akhir. Sampai sekarang, buku hadiah itu masih ada di rak perpustakaan mini saya.

Buku Totto-Chan pertama saya, hadiah karena menjawab pertanyaan saat pelatihan.
Saya punya versi revisi yang dilengkapi dengan gambar berwarna juga

Cerita Totto-Chan sangat mengharukan dan banyak sisi yang kocak juga. Saya tak berhenti tertawa dengan kelucuan Totto-Chan yang pemberani dan gigih. Saya tak bisa menahan tangis saat cerita fokus pada kisah Yasuaki-Chan, teman sekolah Totto-Chan. Yasuaki-Chan adalah anak laki-laki yang baik, pintar, tidak pernah mengeluh akan keadaannya namun sayangnya harus menjalani hidup yang malang. Namun demikian, Yasuaki-Chan mengajarkan bahwa hidupnya -yang meski menurut orang lain malang- adalah hidup yang berharga dan bahagia karena dia lalui dengan melakukan hal yang disenangi bersama orang-orang yang dia sayangi dan menyayanginya. *ambil tissue lagi

Salah satu scene favorit saya, perpustakaan berbentuk kereta.
Yasuaki-Chan sangat bahagia saat momen ini.

Apakah saya merekomendasikan buku atau film Totto-Chan ini? Tentu saja, iya! Bacalah bukunya, atau tonton saja filmnya. Kisah ini juga mengajarkan bagaimana pedihnya perjuangan anak-anak dalam menjalani hidup pada masa perang. Oleh karena itu, seluruh orang di dunia penting untuk menyadari bahwa perang itu buruh dan harus bersama-sama menjaga kedamaian agar kelak seluruh anak-anak tidak merasakan trauma dan pedihnya menjalani hidup karena perang yang mencekam.

Selain film Totto-Chan, ada juga film Grave of Fireflies produksi Ghibli yang menceritakan perjuangan hidup kakak-beradik di desa kecil di Jepang pada masa Perang Dunia II. Saya sendiri belum pernah menonton langsung filmnya karena tidak kuat. Saya sangat tidak tega dan tidak kuat menyaksikan anak yang sangat kecil harus menderita apalagi meregang nyawa. Meski filmnya sangat bagus, namun saya tidak merekomendasikan jika kalian adalah orang tidak tega melihat derita anak kecil.

Setelah menonton Totto-Chan, saya jadi teringat dengan momen saat tahun 2016 dulu pernah berkesempatan mengunjungi monumen Bom Atom di Hiroshima, Jepang. Di area yang sama, ada monumen peringatan khusus yang ditujukan untuk mengenang ribuan anak yang dulu menjadi korban bom atom saat Perang Dunia II.

Monumen Bom Atom di Hirsohima, Jepang

Pada akhirnya, perang akan menyisakan duka dan trauma mendalam kepada orang-orang sipil yang tidak berdaya. Kenangan pahit perang di masa lalu biarlah hanya menjadi sejarah dan janganlah terjadi lagi di era modern dimana hak manusia untuk merdeka adalah yang terutama dan mendasar. Saya yakin, semua anak di dunia ingin melihat langit biru yang cerah setiap hari sambil berusaha untuk mencapai cita-cita dan impian untuk masa depan.

Salam damai!

Orang Tua Super Produktif di Singapura

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengunjungi Singapura. Tujuan utamanya mungkin terdengar mainstream, ya untuk nonton konser Coldplay. Namun, dalam perjalanan singkat ini, banyak hal berkesan yang saya alami, terlepas dari begitu menyenangkannya konse Coldplay.

Sejujurnya, ini bukan pertama kali saya menginjakkan kaki di Singapura. Pertama kali yaitu pada April 2017 saat transit menuju Phuket, Thailand. Namanya transit, saat itu kami hanya stay di ruang tunggu bandara, jadi tidak jalan-jalan sama sekali. Oleh karena itu, kali kedua ini, meski waktu yang saya punya juga tidak banyak, saya ingin memaksimalkan bisa mengunjungi beberapa tempat.

Perdana menginjakkan kaki di Changi, Singapura di tahun 2017 lalu.

Satu hal yang mencuri perhatian saya selama di Singapura adalah: saya menyadari bahwa banyak orang tua yang dipekerjakan dalam sektor hospitality. Ini mulai saya sadari saat melihat banyak orang tua menjadi petugas kebersihan di Terminal 4 Bandara Changi, dimana saya mendarat. Mulai dari petugas kebersihan toilet sampai kebersihan lounge, banyak orang tua yang bertugas. Saat itu, saya masih sempat meragukan hipotesis saya, ahh mungkin kebetulan saja, saya pikir.

Namun, hipotesis ini makin kuat saat saya menjajal Jewel, Changi. Di Jewel, saya hampir mengelilingi seluruh lantai, mulai dari dasar sampai rooftop karena penasaran ingin tahu apa saja yang ada. Di sini pun saya bertemu lagi dengan beberapa petugas orang tua. Kalau di Terminal 4 saya bertemu dengan beberapa orang tua Chinese, di Jewel saya bertemu beberapa orang tua India. Mereka ada yang bertugas di bagian kebersihan, ada yang di bagian informasi. Saya bahkan berbincang dengan mereka saat menanyakan jam berapa Rain Fortex yang terkenal itu mulai turun. Dengan sangat ramah dan bijaksana, Bapak Petugas India ini menjelaskan ke saya bahwa di hari Senin-Kamis biasanya dioperasikan jam 11.00 Waktu Singapura, sementara di hari Jumat, Weekend atau hari libur lainnya biasanya mulai dibuka dioperasikan pukul 10.00.

Jewel Changi saat Rain Fortex belum beroperasi
Rain Fortex yang sudah beroperasi jadi latar saja, hehe

Selepas dari Jewel, saya menuju Stasiun MRT karena tujuan saya selanjutnya adalah Marina Bays. Saya akan mengunjungi Arts Science Museum yang tidak jauh dari Marina Bay Mall karena memang ada dalam Kawasan Marina Bay. Di stasiun MRT yang saya singgahi pun banyak petugas orang tua yang berdinas, mulai dari petugas informasi sampai security. Di sini saya bertemu dengan Orang Tua Kaukasian, dan saya juga sempat berbincang saat  menanyakan jalur mana yang saya naiki jika ingin menuju Bayfront.

Salah satu Stasiun MRT di Singapura

Di Marina Bay Mall, saya juga melihat banyak orang tua yang bekerja sebagai security atau petugas kebersihan. Selama di Marina Bay Mall, banyak hal menarik sih seperti perahu yang didayung dalam kanal dalam mall, air terjun dalam mall, dan berbagai sudut mall yang wah. Banyak brand terkenal juga yang baru pertama saya lihat storenya. Seperti Lululemon, brand pakaian olahraga mahal ini setahu saya belum ada store offlinenya di Indonesia.

Marina Bay Mall

Saya tak lama di dalam mall karena tidak ada yang ingin saya beli juga, hahaha. Saya langsung menuju Artscience Museum yang ada di seberang mall. Sepanjang jalan kaki menuju Gedung museum, saya melihat Merlion di kejauhan. Sungguh ya, Singapura ini merupakan negara kecil sama-sama di ASEAN, tapi nuansanya sangat berbeda dari negara sesame ASEAN lainnya. Gedung-gedungnya megah dan futuristic.

Merlion di kejauahn
Apple Store di Marina Bay
Artscience Museum

Saat di dalam Artsience Museum, saya bertemu lagi dengan petugas orang tua yang menjadi petugas museumnya. Artscience Museum ini terdiri dari berbagai tema exhibition, tapi karena keterbatasan waktu, saya hanya memilih 1 exhibition yaitu Eden. Saya beli tiket masuknya di aplikasi tiket.com dengan harga sekitar Rp200.000 (ini tidak diendorse loh). Saya memilih beli di aplikasi karena lebih mudah, murah, dan saya punya kupon potongan TO DO juga jadi lebih murah lagi harga akhirnya, hehehe. Selama di museum, para petugas yang juga kebanyakan orang tua sangat ramah dan helpful.

Salah satu orang tua yang bertugas mendampingi di karya yang dipamerkan dalam Eden Exhibition
Eden Exhibition yang futuristik

Setelah puas keliling-keliling menikmati karya yang dipajang di museum, saya pun bersiap menuju National Stadium untuk konser Coldplay (seputar Konser Coldplay akan saya bahas terpisah ya). Dan di konser Coldplay pun lebih dari setengah petugasnya adalah para orang tua loh, saya salut sekali.

Artscience Museum yang reccomended untuk dikunjungi saat berwisata ke Singapura

Karena penasaran, saya pun bertanya tentang hal ini ke teman-teman saya yang biasa ke Singapura. Menurut mereka, pengamatan saya memang benar adanya. Di Singapura, orang tua bahkan manula masih diberi kepercayaan bekerja dan kebanyakan memang di sektor hospitality. Ini karena selain biaya hidup yang memang tidak murah di Singapura, juga karena budaya kerja produktif yang sudah kental tertanam di masyarakat Singapura. Makanya, jarang ada orang tua yang santai-santai di siang bolong. Saya juga cari bererapa referensi berita terkait hal ini, dan ternyata benar. Salah satu berita yang saya baca adalah di link ini, silakan dibaca ya. (https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-3579963/mengapa-banyak-manula-masih-bekerja-di-singapura

Wisatawan dan warga lokal yang sedang bersantai di salah satu taman

Sejujurnya, masih banyak lokasi lain yang ingin saya jelajahi di Singapura. Akses yang mudah dari satu tempat ke tempat lain jadi daya tarik utama para wisatawan di Singapura. Semoga bisa segera kembali lagi ya, see you soon Singapura.

See you soon, Singapura!

My Best of 2023

Tahun 2023 adalah tahun rollercoster untuk saya. Meski harus menjalani Posko Nataru dengan nyaris 30 hari bekerja nonstop tanpa libur, ternyata tidak membuat saya eneg seperti tahun sebelumnya. Mungkin pengalaman dan waktu membuat saya menjadi terbiasa menghadapi jam kerja yang panjang, deadline yang ketat, dan tekanan dari berbagai pihak. Memang benar kata orang bijak, hal pertama memang selalu terlihat sulit. Namun, setelah dijalani ternyata kita mampu dan hal-hal sukar tersebut bisa kita lalui. 

Tahun 2023 juga membuat saya lebih dewasa dalam menyikapi banyak hal. Jika dibandingkan, saya versi tahun 2023 dengan saya versi tahun 2022, akan terasa sekali perbedaannya. Tahun 2023 memberikan saya banyak pelajaran baru.

Meskipun tahun 2024 sudah nyaris 3 pekan berlalu, tapi saya akan mulai tahun ini dengan tekad yang mungkin hampir saya berulang setiap tahunnya, yakni akan lebih rajin mengisi blog ini setidaknya sebulan sekali, dimulai dengan membuat ulasan The Best of 2023.

Best Book : Visual MBA. Buku ini jadi pengobat untuk belajar management otodidak. Harapan saya untuk bisa Tugas Belajar MBA dari kantor di kampus impian yakni SBM ITB kandas sudah. Akhirnya untuk pertama kali saya merasakan umur menjadi batasan dalam satu hal. Perkaranya, umur saya sudah melewati batas persyaratannya tugas belajar, sehingga saya sudah tidak bisa mengikuti program ini. Namun, saya yakin dengan kata-kata bijak “Jika 1 pintu tertutup, sejauh kita selalu berharap, berusaha dan percaya pada Tuhan, maka Tuhan akan membukakan pintu-pintu yang lainnya.” Jadi, semangat Fen!

Best Anime : Suzume. Tak perlu diragukan lagi, anime karya Makoto Shinkai-Sensei ini. Kualitas grafis dan ceritanya selalu mengagumkan, apalagi selalu ada unsur spiritual dan alam dalam karyanya. Ditambah lagi, lagu-lagu Radwimps yang menambah kesempurnaan Suzume. Saya juga nonton Slam Dunk The Movie tahun 2023, tapi meskipun feels nostalgia sangat kental, sensasi nonton anime paling komplit saya dapatkan saat nonton Suzume.

Best Movie : Spider-man: Across The Spiderverse. Jujur, saya sampai menangis saat akhirnya bisa menyaksikan lagi film Spiderverse yang versi perdananya keluar di tahun 2019. Saya selalu kagum dengan grafisnya yang segar, ide kreativitasnya di luar perkiraan, dan tentunya cerita yang bikin saya terpana. Tak sabar menunggu kelanjutannya.

Best Song : Style. Semua juga tahu kalau ini lagu lama Taylor Swift, tapi sepanjang tahun 2023 saya sangat senang bahkan selalu memutar lagu ini berulang setiap hari.

Best Music Experience : Konser Black Pink, Fuji Kaze, dan Radwimps. Memutuskan nonton BP karena antisipasi saja. Saya berpikir, ini mungkin akan menjadi tour terakhir mereka sebagai group, karena semua juga tahu sudah santer beredar kabar bahwa beberapa membernya akan keluar dari agensi YG. Ini yang membuat simpang siur bagaimana nasib BP kedepannya. Ini adalah pengalaman pertama saya nonton konser K-POP yang benar-benar murni konser, bukan karena sebagai bintang tamu acara.

Fuji Kaze, karena saya sudah bertekad sejak tahun 2022 kalau ada konser Fuji di Indonesia maka saya akan nonton. Awalnya karena lagu sejuta umatnya Fuji Kaze yang Shinunoga E-Wa, tapi setelah saya ikuti lebih dalam, lagu-lagu Fuji banyak yang asyik dan bagus.

Kalau Radwimps jangan tanya lagi lah ya. Sebagai penggemar berat karya Makoto Shinkai yang kerap memakai karya Radwimps sebagai lagu-lagu utamanya, ditambah memang lagu-lagu Radwimps itu unik dan memang syahdu.

Best Moment : Pulang kampung 2 kali dalam setahun: waktu wisuda adik bungsu dan sebelum Natal.

Best Place : Still home. Puji Tuhan!

Bersyukur bisa pulang 2 kali di 2023 dalam momen yang benar-benar pas.

Best Gadget : Apple watch. Tapi sampai tahun 2024 belum saya pakai, ya ampun. Maafkan saya Tuhan.

Tetap Puji Tuhan! Semoga di 2024 makin murah rejeki
dan bisa beli gadget baru buat produktivitas lagi, Amin

Best Trip : Bromo. Setelah 4 tahun, akhirnya bisa melihat keindahan Bromo lagi. Semua serba hijau asri.

Banyak sekali momen dan pengalaman berharga, baik suka maupun duka di tahun 2023. Mendadak jadi Pelakhar Manager yang menyebabkan saya harus double job selama 4 bulan. Stres yang lumayan tinggi karena double job ditambah kondisi tim yang penuh dengan dinamikanya. Namun, semua itu saya syukuri karena justru memberikan saya banyak pelajaran.

Tahun 2023 juga menjadi stage baru dalam hidup saya. Saya dipromosikan di posisi dan tempat yang baru. Saya harus cepat beradaptasi lagi, belajar lagi, dan tinggal di lingkungan baru lagi. Namun, semua itu adalah perjalanan. Dan sisi baiknya, saya akan belajar banyak dan bertemu banyak orang baru lagi.

Saya sangat berharap tahun 2024 ini bisa jadi “tahunnya saya” lagi. Tahun dimana saya bisa menjadi the best version of myself.

Ketidakpastian selalu ada karena hanya Tuhan yang tahu akan hari esok. Satu yang saya pegang teguh, Tuhan pasti akan mampukan, menopang dan selalu menuntun. Amiiiiin!!!

Let’s fight and be happier di 2024!!!

Amin

Dua Anime Terfavorit dalam Dua Minggu Terakhir, dan Stigma Penyuka Anime

Senang rasanya karena dalam dua minggu terakhir bisa menyaksikan film anime berkualittas tinggi di bioskop lagi. Setelah terakhir kali menonton film anime di bioskop itu pada Maret Tahun 2022 lalu yaitu Jujutsu Kaisen O The Movie, akhirnya di minggu keempat Februari 2023 kemarin, saya bisa bertemu lagi dengan kesukaan saya sejak 20 tahun lalu yakni Slam Dunk.

Film Slam Dunk pertama ini bertajuk “The First Slam Dunk” dengan alur cerita yang maju mundur tapi timeline-nya dimulai saat Tim Basket Shohoku akhirnya memulai debutnya di Interhigh dan berhasil sampai di pertandingan melawan Sanoh, sekolah dengan Tim Basket unggulan yang bahkan sudah sering diulas di berbagai media di Jepang.

Poster resmi Slam Dunk versi Indonesia

Meskipun tokoh utama Slam Dunk adalah Hanamichi Sakuragi, di film ini yang lebih banyak diulas adalah Ryota Miyagi, si Penyerang Cepat Shohoku Nomor 7. Fans termasuk saya yang walaupun mengikuti cerita anime atau manganya mendapat lebih banyak pencerahan tentang latar belakang hidup Ryota di film ini. Ada juga sekilas tentang masa muda pemain favorit saya, Hisashi Mitsui si Three Pointer andalan, yang ternyata sangat ganteng saat SMP, hahaha.

Okeee okee, kembali ke laptop.

Secara desain, sebenarnya kurang lebih sama dengan versi animenya kecuali Haruko yang menurut saya jauh lebih cantik versi anime series-nya dibanding versi movie ini, tapi itu pendapat saya ya. Sedangkan untuk animasinya ya tentu berbeda jauh karana saat ini teknologi dalam film anime atau animasi semakin canggih. Film nya tentu sangat mencekam karena terasa sekali bagaimana mereka berjuang detik demi detiknya, apalagi di saat pertandingan sudah hampir berakhir, saya sampái menahan napas, seisi studio bioskop pun hening. Pokoknya tidak rugi menonton film ini di bioskop karena rasa sentimentil dan emosionalnya jauh terasa. Apalagi bagi para pencinta Slam Dunk sejak dulu.

A movie to remember banget sih ini

Sebagai fans sejak 20 Tahun lalu, mengharukan rasanya akhirnya bisa bertemu lagi dengan cerita Sakuragi dan Rukawa yang sukses membawa bernostalgia ke masa-masa SD-SMP saya. Banyak cerita lucu saya saat dengan berbagai keterbatasan saat itu tetap berupaya menonton Slam Dunk. Haha, menarik dan lucu jika dikenang.

Campur aduk bisa bertemu Rukawa lagi

Okee, lanjut.

Berselang dua minggu setelahnya, saya akhirnya bertemu lagi denga karya terbaru Makoto Shinkai-Sensei yakni Suzume. Seperti karya-karya Sensei yang lainnya, Suzume tentu memiliki desain dan animasi yang mempesona dan membuai mata. Ciri khas Sensei yakni langit penuh warna dan bintang tentu bisa ditemui di beberapa scene. 

Tak perlu diragukan memang, Suzume seperti film pendahulunya punya cerita yang kuat, mengaduk-aduk emosi, dan lagu-lagunya pun sudah familiar terdengar karena sering dipakai sebagai sound konten Instagram tau Tiktok. Wajar saja, Suzume sudah rilis pertama kali di Jepang akhir tahun 2022 lalu dan baru masuk Indonesia Maret 2023 ini.

Poster resmi Suzume di Jepang

Menonton Suzume di bioskop sangat saya rekomendasikan karena makin puas menyaksikan animasi khas Sensei yang makin hari makin real dan sangat detail. Tak sabar rasanya menantikan karya-karya Sensei selanjutnya, penasaran kira-kira berkisah tentang apa lagi ceritanya. Makoto Shinkai sepertinya tidak pernah kehabisan ide karena terbukti bisa menghasilkan karya baru setiap dua tahun sekali. Sangat menginspirasi.

Suzume dan petualangannya yang mengharukan

Masih dalam euforia pasca menonton Suzume, hari ini tanpa sengaja saya melihat sebuah konten di instagram yang isinya menunjukkan video para fans suatu grup musik Jepang yang dalam video itu terlihat begitu terhanyut ikut menyanyikan lagu bersama idolanya sambil berteriak dengan sepenuh hati mengucapkan kata demi kata dari lirik lagu tersebut. Mungkin saking menjiwai dan suka, mereka bahkan terlihat seperti tidak peduli bahwa aksi meraka itu mencuri perhatian dan penilaian banyak orang yang mungkin kurang familiar dengan aksi fans seperti itu. Di Jepang hal tersebut sudah lumrah terjadi dan bukan hal yang aneh di sana, tapi sepertinya tidak untuk di Indonesia.

Hal itu bisa terlihat dari berbagai komentar yang dituliskan dengan tendensius dan tersirat memojokkan para penggemar hal-hal berbau Jepang, tidak terkecuali anime. Istilah wibu pun banyak diucapkan. Secara garis besar, para komentator ini menyematkan stigma kepada para penyuka anime sebagai anti sosial yang hanyut dalam dunia khayalan, tidak jelas masa depannya, dan tidak punya kehidupan selain anime. Mungkin pemikiran seperti itu muncul karena mereka mengamati ada oknum yang bertindak seperti itu di lingkungan meraka, tapi hal tersebut tentu tidak bisa digeneralisasi ke semua penyuka anime.

Masih banyak para penyuka anime yang menyikapi rasa sukanya dengan batasan yang jelas. Banyak yang menjadikan anime itu sebagai sumber inspirasi dan motivasi. Mereka tahu mana yang bisa dipetik untuk diimplementasikan di hidup sehari-hari dan mana yang tidak.

Tanpa bermaksud membela diri sebagai penyuka anime, ada beberapa alasan konstruktif yang membuat saya tetap menyukai anime meski sudah di usia kepala 3 saat ini. 

Pertama, sejak kecil saya suka menggambar dan menikmati karya hasil gambar orang lain. Tentu di sini saya sebagai penikmat terhadap karya yang menurut saya style-nya bagus dan sesuai selera saya. Sering juga karya-karya tersebut jadi inspirasi bagi saya untuk sekedar corat-coret membuat gambar untuk mencurahkan apa yang ada di kepala saya meskipun hasilnya tentu tidak seberapa karena latihan yang jarang bahkan hampir tidak pernah. Tapi saya tidak ingin benar-benar terlepas dari kesenangan menggambar itu. Anime-lah yang selalu membuat saya ingat untuk kembali pada dunia menggambar, sesuatu yang saya cintai sejak kecil.

Kedua, banyak cerita dalam anime yang sangat menginspirasi. Banyak cerita tokoh yang sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari sehingga pesan-pesan dan semangat yang diucapkan para tokoh tersebut bisa dijadikan penyemangat dan pengingat untuk menjalani hidup yang penuh makna dan bahagia.

Ketiga, anime sering mengingatkan saya pada begitu banyak mimpi yang saya panjatkan saat kecil dulu. Kehidupan saat ini tentu patut saya syukuri tapi masih ada impian masa kecil yang ingin saya wujudkan dan itu menjadi penyemangat tersendiri bagi saya.

Seperti hobbi atau kegemaran lainnya, anime juga bisa memberikan dampak negatif jika tidak disikapi dengan bijak. Itulah perlunya menerapkan batasan diri dan berusaha untuk selalu disiplin pada batasan itu. Dengan demikian, antara tanggungjawab terhadap kehidupan nyata dan kegemaran akan dunia imaginatif akan seimbang. Apalagi jika bekerja di bidang yang membutuhkan imajinasi dan kreativitas tinggi, anime justru sangat membantu karena banyak sumber inspirasi yang bisa digali. 

Jadi, bijaklah dalam menyukai sesuatu. Pun dengan netizen, setiap hobbi memang berbeda. Hanya karena hobbi yang disenangi berbeda jauh dengan orang lain bukan berarti hobbi yang satu lebih rendah dari yang lain. Jadi respect-lah terhadap hobbi masing-masing sejauh tidak ada pihak yang dirugikan dan hobbi itu bisa membuat penikmatnya lebih bahagia, bersemangat, dan produktif.

Jadi, apa hobbi masa kecilmu yang masih bertahan hingga sekarang?

Bahagia rasanya saat setiap hal dari kenangan masa kecil menyambut pulang

Comfort Spot di Sarinah

Kalau ada yang bertanya, “Apa tempat favoritmu di Jakarta?” Maka tanpa pikir panjang saya akan menjawab Sarinah. Pasca ditranformasi, kini Sarinah tidak hanya bisa menjadi pusat belanja dan hang out bagi para pebisnis maupun pekerja di Jakarta, tapi juga bisa jadi tempat healing sekaligus cari inspirasi. Bahkan buat saya pribadi, Sarinah bisa dibilang jadi Comfort Place. Kalau ada istilah comfort food untuk makanan yang bisa membantu kita dalam memperbaiki suasana hati atau menaikkan mood, maka menurut saya perlu ada istilah comfort place juga untuk tujuan yang sama, hehe.

Buat saya, makanan berkuah terutama mie adalah comfort food terbaik, haha

Loh, bukannya Sarinah itu ramai dan berisik karena banyak orang yang belanja atau lalu lalang? Nah, tidak salah juga. Tapi ada satu spot atau tempat yang bisa dijadikan tempat untuk healing tau sekedar self talk di Sarinah, yaitu Rooftop Area.

Rooftop Sarinah

Dengan area terbuka yang cutup luas, pengunjung akan disajikan pemandangan kota khas Jalan Thamrin Jakarta yang megah dengan segala aktivitasnya.

Syahdu ya viewnya

Bahkan pada momen tertentu, aktivitas di persimpangan Jalan Thamrin akan mengingatkan kita pada Shibuya Crossing di Tokyo, Jepang yang terkenal dengan persimpangan yang satgat padat oleh para pejalan kaki. Duh, jadi rindu Shibuya, haha.

Mengingatkan pada Shibuya Crossing nih

Dari atas pengunjung bisa melihat berbagai kendaraan lalu lalang, belum lagi saat langit cerah maka pemandangannya akan terasa lebih sempurna. Selain foto-foto atau ambil content video, bahkan sekedar duduk menikmati view langit dan kota cambial mendengarkan musik dan ditemani se-cup ice cream juga bisa jadi aktivitas yang oke di sini. Bagi para introvert, aktivitas sederhana seperti ini sudah cukup mahal rasanya dan sanggup untuk merecharge energi. Hayoo, siapa kaum introvert di sini?

Tidak diendorse, tapi Pipiltin Cocoa ini enak banget

Tapi jangan berekspektasi tinggi bisa melihat matahari terbenam yang Indah di sini, arena itu tida akan terjadi. Matahari terbenam di sisi yang tertutup dari Sarinah, jadi begitu jelang maghrib maka langat akan langsung gelap. 

Sunsetnya tertutup gedung
Tidak ada sunset, tapi night viewnya tetap oke

Namun, jangan sedih jangan gundah, karena pemandangan transisi dari sore ke night view di sepanjang Jalan Thamrin dilihat dari Roof Top Sarinah ini juga tidak kalah keren. Makanya tak heran kalau banyak yang menikmati momen itu di sini. Selain itu, tak jarang para content creator juga mengambil moment dari roof top ini karena memang view malamnya juga Bagus.

Suasana rooftop Sarinah di malam hari

Rooftop Sarinah di malam hari

Oh ya, agin di roof top ini cukup kencang, jadi membawa jaket atau baju longan panjang bisa jadi alternatif yang Bagus agar sepulangnya dari Sarinah tidak maus angin.

Anginnya kenceng, jadi jangan lupa bawa baju lengan panjang buat opsi

2022, Thanks for Everything!

Tahun 2022 buat saya dimulai dengan serba campur aduk. Rasa lelah karena bekerja nyaris 30 hari nonstop tanpa libur mulai membuat saya hampir eneg tiap dengar kata “pekerjaan/tugas/deadline”. Mungkin buat saya waktu itu adalah masa puncaknya, tidak hanya karena kerja tanpa libur dengan beban kerja dan deadline yang kadang bikin nyut-nyutan, tapi keharusan bekerja dengan waktu terikat 24 jam nonstop merupakan pengalaman pertama buat saya. Tapi selalu ada kali pertama untuk setiap hal bukan? Saya ambil hikmahnya dan anggap itu sebagai pengalaman dan pelajaran berharga. 

Namun, awal 2022 jadi indah dan berbeda dengan lahirnya Syalomitha di tengah keluarga besar kami. Syalom adalah cucu pertama bagi Mama dan Bapak, sekaligus jadi ponakan pertama buat saya. Pulang ke Bandung tiap dua minggu sekali jadi semakin bahagia.

Syalomitha ^^

Tak berselang lama, tepatnya 3 bulan kemudian, Arga pun lahir. Arga adalah cucu kedua Mama dan Bapak, sekaligus ponakan kedua buat saya. Keluarga jadi semakin ramai, Puji Tuhan! Dan tahun 2022 makin happy karena saya berkesempatan bisa pulang kampung dan ketemu Arga setelah sebelumnya hanya lihat via video call, hehehe

Arga ^^

Selain itu, di tahun 2022 juga lebih baik dari sebelumnya karena saya bisa meluangkan waktu lebih banyak dengan teman-teman lama. Tahun 2022 penuh suka duka yang makin saya kenang makin saya syukuri.

Meskipun tahun 2023 sudah sepekan berlalu, tapi saya akan mulai tahun ini dengan lebih rajin mengisi blog ini setidaknya sebulan sekali, dimulai dengan membuat ulasan The Best of 2022.

Best Book : Filosofi Teras. Buku ini semakin membuka pikiran saya bahwa sangat penting untuk tidak overthinking dan fokus pada hal-hal yang berarti dan penting saja.

Best Anime : Komi Can’t Communicate. Sebenarnya di Tahun 2022 tak banyak anime yang sempat saya tonton, dan Komi ini yang terpanjang rekornya yang hampir tamat saya tonton. Ceritanya juga unik meskipun ya absurd, hahaha

Best Movie : Wakanda Forever. Selain dari sisi cerita dan cinematografinya yang bagus, nonton film ini di CGV Screen X juga membuat pengalaman nonton film ini jadi makin berkesan.

Pengalaman nonton Wakanda Forever di CGV Screen X,
membuat ketagihan nonton film lain di Screen X juga

Best Song : Asmalibrasi. Sebenarnya lagu ini bukan keluaran tahun 2022 tapi 3 tahun sebelumnya. Namun, saya pertama kali mendengar lagu ini di tahun 2022 karena viral di socmed dan langsung jatuh cinta tengan melodinya. Tentu jadi masuk dalam repeat one playlist saya, hahaha.

Best Music Experience : Playlist Festival 0.2. Akhirnya bisa nonton festival musik lagi setelah pandemik. Terakhir kali nonton festival musik ya Playlist Festival 0.1 di Februari 2020. Perasaan haru biru akhirnya bisa jingkrak-jingkrakan offline lagi bersama penyanyi asli di lokasi yang sama.

Best Moment : Kelahiran Syalomitha dan Arga. Pengalaman jadi Ongah dan Mak Tua di tahun yang sama.

Best Place : Still home. Puji Tuhan!

Senang sekali bisa jalan pagi bersama Mama dan bestienya di kampung

Best Gadget : Setelah hampir 4 tahun, akhirnya saya ganti handphone ke merek iPhone, dan sejujurnya ini adalah pengalaman belanja barang terbaik menurut saya. Saya merasa Iphone sangat membantu pekerjaan dan memudahkan banyak hal. Sistemnya ringkas dan apalagi kalau gadget kita satu ekosistem maka hanya dengan airdrop semua dapat diproses dalam hitungan detik. Puji Tuhan!

Puji Tuhan! Semoga di 2023 murah rejeki
dan bisa beli gadget baru buat produktivitas lagi, Amin

Best Trip : Yogyakarta. Akhirnya bisa traveling lagi! Ternyatab trip ke Yogyakarta ini adalah yang pertama setelah terakhir kali saya ke Jogja di tahun 2016! Wow 5 tahun, lama juga yaa, hahaha

Banyak pengalaman berharga, baik suka maupun duka di tahun 2022. Tapi setiap kenangan, sekalipun yang tidak menyenangkan akan menjadi pengalaman dan bagian dari perjalanan hidup.

Tentunya saya berharap tahún 2023 bisa menjadi tahun yang lebih baik, dan saya bisa menjadi the best version of my self. Tidak perlu muluk-muluk, tidak apa-apa sedikit-demi sedikit yang penting hasilnya lebih baik.

Selain itu, banyak ketidakpastian di tahun 2023 yang tentunya kadang membuat cemas, tapi Tuhan pasti yang akan menopang dan selalu menuntun. Amiiiin!!!

So, Tahun 2023, let’s fight and be happy!!!

Amin

Semangaaaat!!

Pertama Kali Nonton Festival Musik Lagi Setelah Pandemik

Kapan kalian terakhir kalinya nonton festival musik atau konser sebelum Pandemik Covid-19 melanda? Kalau saya jawabannya adalah Playlist Festival awal Februari 2020. Waktu itu Covid-19 belum masuk di Indonesia dan bisa dibilang bahkan di Asia Tenggara pun belum terdeteksi sama sekali karena salah satu bintang performernya saat itu adalah MYMP, band ternama asal Filipina. 

Pandemik Covid-19 yang hampir tiga tahun melanda ini tentu membuat banyak orang ingin merasakan kembali kehidupan layaknya saat semuanya masih normal. Salah satu kebiasaan yang hilang setidaknya dalam kurang dari 3 tahun ini adalah konser atau festival musik. Aturan selama pandemik membuat batasan yang cukup ketat terkait aktivitas berkerumun. Alhasil, tak boleh ada kerumunan apalagi konser musik.

Saking ingin merasakan keseruan nonton konser atau festival musik, saya dulu sempat menulis tentang bagaimana saya rindu nonton konser Coldplay. Sekedar informasi (ehem ehem), konser Coldplay adalah konser musisi internasional pertama yang saya tonton di luar negeri. Tentu pengalamannya double ya kan…(Kenangan saya saat menonton konser Coldplay bisa dibaca di linik berikut ya https://everywheretowalk.com/2020/04/08/kenangan-nonton-konser-coldplay-di-bangkok/

Musisi internasional pertama yang saya tonton konsernya adalah Hillsong, band/musisi lagu-lagu rohani yang karyanya tidak main-main bahkan pernah menang Grammy Awards.

Nah, sejalan dengan kondisi pandemik di Indonesia yang sudah sangat membaik, kelonggaran untuk aktivitas berkerumun pun sudah diubah. Di triwulan III Tahun 2022 ini sudah banyak acara konser atau festival musik yang bermunculan. Salah satunya adalah Playlist Festival 2.0. Yap, ini adalah konser yang sama seperti yang saya tonton terakhir kali sebelum pandemik dulu.

Sejujurnya, saya tidak pernah berencana sama sekali nonton Playlist Festival 2.0 di September 2022 lalu di Laswi Heritage. Saya tahu infonya pun tidak disengaja saat lagi scrolling IG stories waktu naik ojek online sepulang dari kantor ke kosan, hahaha (tidak untuk ditiru ya, please maaf). Tapi karena saat itu saya lagi stres dan butuh hiburan, akhirnya tanpa berpikir panjang saya pun langsung pesan tiketnya. Pucuk dicinta ulam pun tiba, hari konsernya pas saat jadwal libur saya. Ya, saya liburnya dua minggu sekali jadi waktu libur itu bagaikan harta karun yang sangat berharga. 

Sudah ala-ala Coachella lah yaa, haha

Ada beberapa alasan kenapa saya ingin menonton Playlist Festival 2.0 ini. Pertama, konsernya di Bandung, di rumah saya, jadi vibes nya akan sangat berbeda dibandingkan dengan di Jakarta yang penuh dengan hustle culture, plus kemana-mana juga mudah dan tidak perlu pusing soal penginapan.

Vibes Bandung memang terbaiks YGY

Kedua, ini adalah Playlist Festival 2.0 yang artinya akan banyak musisi top yang perform. Saya juga ingin membandingkan feel saat nonton Playlist Festival yang pertama dulu dan yang sekarang. 

Feel yang saya rasakan sangat berbeda. Mungkin karena orang-orang, baik musisi maupun penontonnya sama-sama merasakan kerinduan untuk bernyanyi bersama dalam satu moment dan sama-sama bergelut dengan perjuangan masing-masing selama pandemik, jadi rasanya sangat berharga bisa menyaksikan konser dan bernyanyi sepuasnya tanpa peduli suara sumbang (ini saya, karena suara saya sumbang sekali, hahaha).

Tapi karena saya datangnya lumayan sore, jadi tidak sempat menikmati semua stagenya. Beberapa performance yang saya tonton adalah Bondan Prakoso, TBA, Andien, dan Kotak. Meskipun begitu saya tetap merasa puas. Apalagi bisa bernyanyi langsung dengan penyanyi aslinya diiringi musik dan sound system yang nggak main-main memang punya rasa tersendiri.

Kalau nonton festival musik atau konser, saya selalu pilih-pilih musisinya yang memang relevan atau karyanya relate dengan saya. Lagu Bondan yang “Ya Sudahlah” dengan lirik terfamiliar “Everything is Gonna Be Okay” sangat berkesan buat saya karena selain maknanya memang dalam, lagu ini dulu menemani era perjuangan saya untuk lulus kuliah. 

Cause everything is gonna be okaaay

Lagu Andien pun beberapa relate dengan saya seperti “Moving On”, dan ada satu lagi lagu “Let It Be My Way” yang awalnya saya berharap sekali akan dinyanyikan tapi ternyata tidak. Meskipun begitu saya tidak kecewa karena lagu-lagu Andien yang lainnya pun asyik dan suaranya merdu, adem pokoknya.

Gaya Andien di sini Harajuku Style sekali, terlihat seperti anggota JKT48

TBA yang isinya merupakan anak-anak CJR minus Iqbal pun saya sangat suka, apalagi lagu “Terhebat” isinya motivasi semua. Ya, mungkin karena saya memang lagi butuh semangat dan motivasi makanya lagu ini selalu membekas di hati saya.

Bastian Steel sudah sebesar ini ya ampuuun, tandanya saya bertambah tua, haha

Dan terakhir adalah Kotak. Heyyy, siapa yang tidak kagum sama stage performance band satu ini. Bisa menyanyikan lagu “Beraksi” sambil teriak-teriak dan loncat-loncat sepuasnya lumayan bisa jadi stress relieve juga, hahahaha. 

Jujur, nonton konser Kotak bisa jadi stress relieve ampuh

Oh ya, ada satu hal yang lucu saat Playlist Festival 2.0. Karena Laswi Heritage ini terletak di sekitar permukiman, jadi bagi warga yang rumahnya bertingkat dan dekat dengan LH, bisa nonton konser gratis sepuasnya, hahahaha. Tinggal naik ke loteng, singkap gorden, nonton gratis deh, lucu sih ya. Ya saya juga kalau rumah dekat dengan lokasi festival musik begini pasti akan memanfaatkan kesempatan yang ada, ya kan?

Warga sini yang beruntung YGY, hahaha

Selanjutnya, apa saya ingin nonton konser atau festival musik lagi? ABSOLUTELY!!! Saya ingin nonton konser Coldplay lagi, nonton konser Hillsong apalagi. Dan kalau Tuhan kasih kesempatan dan rezeki, saya juga ingin nonton Coachella. Terdengar seperti mimpi, tapi saya optimis tidak ada yang mustahil jika Tuhan berkenan ya kan? Amin.

Kalau dalam waktu dekat ini saya belum punya rencana akan nonton konser atau festival musik lagi karena lumayan pilih-pilih dan waktu juga sangat terbatas. Semoga bisa nonton festival musik lagi ya, nanti akan saya update lagi.

Oh ya, sekedar saran kalau pergi nonton konser atau festival musik di area terbuka, sebisa mungkin bawa jas hujan, payung, dan cover sepatu yang terbuat dari plastik ya. Trust me, it works. 

Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Gob bless you!

 Pulang

Menjadi dewasa itu pilihan. Menjadi dewasa bukan hanya perkara fisik atau jasmni tapi lebih kepada pola pikir dan mentalitas. Seiring bertambahnya usia, kita seperti dibuat terpaksa meninggalkan kesenangan yang kita nikmati pada masa kecil demi kata-kata “sudah dewasa, orang dewasa harus punya prioritas yang lebih penting”. Namun, saya menyadari kalau hal-hal yang kita senangi saat bertumbuh merupakan bagian dari identitas kita. Seakan-akan bagaimana adanya kita saat ini juga andil dari hal-hal yang kita senangi tersebut.

Saya justru menemukan rasa nyaman dan damai saat bisa kembali ke hal-hal yang saya senangi pada masa kecil atau saat bertumbuh dulu. Toko buku, komik TINTIN, menulis, menonton anime, dan menggambar adalah hal-hal yang saya gandrungi saat kecil. Bahkan salah satu mimpi saya untuk mengunjungi negeri Jepang saat sudah punya penghasilan sendiri adalah buah angan-angan polos yang dibuat saat saya SD. Sebelum tidur, sambil menatap poster Captain Tsubasa dan Slam Dunk di dinding kayu kamar di kampung, saya memanjatkan impian itu kepada Tuhan. Puji Tuhan, mimpi itu sudah terwujud.

Beranjak remaja dan dewasa muda, saya mulai mengenal Drama Korea dan boyband/girlband Korea. Saya pun jadi senang variety show Korea dan tertarik dengan keseharian mereka, makanan dan minuman, serta tentunya fashion dan make up mereka. Sesekali saya bahkan mengkhususkan waktu makan-makanan khas Korea dan jadi terbiasa kalau makan harus menggunakan sumpit, hahaha, absurd ya. Cara dan warna pakaian yang saya suka pun jadi agak ke-Korea-Korea-an: warna pastel atau warna yang cerah. Ya, mungkin yang satu ini generalisasi saya saja, haha.

Seiring waktu, saya pun memantik satu angan-agan baru untuk bisa mengunjungi Korea Selatan. Puji Tuhan, mimpi itu pun terjawab lewat kemenangan saya dalam sebuah lomba menulis yang berhadiah jalan-jalan gratis ke Korea Selatan.

Mimpi-mimpi saat saya masih kecil dan bertumbuh dulu yang satu per satu dijawab oleh Tuhan kini jadi penyemangat saya saat mulai jenuh dan lelah dengan keseharian. Tanggung jawab yang semakin bertambah membuat saya terkadang lupa dengan hal-hal yang dulu pernah disenangi. Bahkan saat stress sedang menyerang, tak jarang saya tak punya gairah sama sekali untuk menyentuh hal-hal tersebut. Alasan terakhir lebih pada pola pikir sebenarnya, saya sering berpikir kalau menulis, membaca, atau menggambar akan menguras energi jadi lebih baik saya pakai untuk beristirahat. Namun pada akhirnya, waktu istirahat itu malah saya pakai scrolling social media dan membuat saya tidak menjadi lebih baik.

Belajar dari kesalahan itu, saat akhirnya punya waktu, saya manfaatkan untuk melakukan hal-hal yang saya senangi dulu. Saat bisa mengunjungi toko buku lagi, membaca santai di kafe, menulis jurnal lagi, saya sangat bersyukur bisa merasakan lagi sensasi seolah-olah saya “pulang”. Rasa nyaman dan damai, itulah yang saya rasakan.

My sanctuary, menghabiskan waktu di toko buku selalu menyenangkan.

Saat mudik ke Bandung, saya mengunjungi restoran Korea favorit dan memesan ramyun dan soda Korea. Asyiknya saat menunggu pesanan datang, saya disuguhkan semangkuk odeng. Awalnya tentu bingung karena saya tidak pesan odeng, tapi kata waitressnya odengnya disuguhkan gratis, yeaay, hahaha.

Ramyun favorit

Ke Bandung akan lebih lengkap dengan jalan-jalan pagi santai menikmati taman-taman yang ada. Meski sudah tidak sesejuk dulu, tapi udara pagi di Bandung tetap favorit, apalagi kalau suasananya sedang sepi. Sebagai seorang introvert, inilah recharge yang dibutuhkan. Menikmati alam, suasana yang tenang, dan diri sendiri.

Duduk manis dan menikmati suasana yang tenang.

Besoknya, saya pergi ke toko buku favorit, ada yang bisa tebak dimana? Setelah sejam lebih baca-baca sekilas dan melihat-lihat, tanpa disangka saya menemukan komik TINTIN di pojokan. Saya hampir ingin menangis rasanya setelah ingat terakhir kali beli komik TINTIN itu 10 tahun yang lalu. Waktu itu saya baru lulus kuliah, dan dalam masa mencari pekerjaan. Saya tidak pernah mau bilang kalau masa-masa itu disebut pengangguran, tidak sama sekali. Untuk hal yang satu ini, saya akan ceritakan di tulisan yang berbeda (kira-kira, ada yang tertarik untuk tahu tidak ya? hehehe).

TINTIN, teman bertumbuhku dan harta karun buat anak-anakku kelak. amin

Waktu itu, uang saku saya sangat pas-pasan tapi rasa ingin membaca tuntas TINTIN membuncah, makanya saya tekadkan menyisihkan uang bulanan yang ada. Akhirnya, saya bisa membeli komik TINTIN berkat diskon 30% di toko buku. Setiap punya rejeki lagi, saya bersyukur bisa membeli komik TINTIN lagi, dan bersyukur sekali karena toko buku favorit saya ini selalu rajin memberikan diskon 30% semua buku. Puji Tuhan.

Sekarang 10 tahun berselang, saya bisa memegang komik TINTIN lagi di toko buku dengan versi yang berbeda. Sudah lama sekali punya keinginan membaca TINTIN versi bahasa Inggris, tapi karena dulu tidak punya uang akhirnya urung. Puji Tuhan, sekarang sudah bekerja jadi punya rejeki dan bisa membeli TINTIN English version tanpa harus menunggu diskon. Puji Tuhan sekali lagi.

“Pulang” kali ini bisa dibilang sebagai salah satu bentuk “healing” buatku. Sederhana tapi bermakna. Healing menurutku bukan karena jalan-jalannya tapi perasaan nyaman dan damai di hati.

Menikmati kopi sambil membaca buku dengan santai, Puji Tuhan nikmatnya.

Kalau kamu, apa “pulang” yang ingin kamu lakukan? Share di komentar yaaa!

Bonus foto! Hahaha

Feni dengan style Korea yang digandrunginya, masih cocok kan? Haha

The Greatest Jujutsu Kaisen and CGV Coway

Kalau ada yang tidak berubah dari saya sejak dulu selain masih gendut-gendut aja dan status single, jawabannya ialah “saya pencinta anime”. Saya suka anime sejak belum masuk sekolah hingga sekarang. Mungkin orang melihatnya konyol, seorang perempuan yang harusnya sudah menikah dan punya anak ternyata masih gandrung nonton anime. Hmmm, saya penganut paham jangan jadikan umur sebagai pembunuh hal yag bisa membuat kita bahagia dan berkembang apalagi tidak ada orang yang dirugikan juga. Percayalah, banyak ilmu yang justru saya baru tahu karena nonton anime. Saya juga banyak dapat teman baru karena sama-sama suka anime.

Banyak anime yang ada di top list saya, tapi saat ini, bagi saya Jujutsu Kaisen adalah puncaknya. Tiap tahun selalu ada saja manga atau anime baru, tapi Jujutsu Kaisen sudah jadi bagian hidup saya kurang-lebih hampir 3 tahun ini. Perkenalan saya dengan Jujutsu Kaisen pun tanpa sengaja, teman saya sesame pencinta Haikyuu cerita kalau baru membaca edisi terbaru Jujutsu Kaisen. Cover dan desain karakternya yang cukup unik membuat saya tertarik untuk membaca dan boom! Saya langsung tidak sabar menunggu animenya keluar, saya butuh 6 bulan menunggu sampai episode 1 nya mengudara.

FYI, Jujutsu Kaisen 0 ini adalah prequel dari serial Jujutsu Kaisen,
jadi secara timeline kejadian JJK 0 ini terjadi kira-kira setahun sebelum timeline cerita JJK.

Jadi, jangan heran saat beberapa waktu lalu saya sangat senang saat akhirnya bisa menonton film Jujutsu Kaisen 0 di bioskop. Itu adalah pemutaran perdana di seluruh Indonesia. Karena jadwal film yang saya tonron merupakan jadwal terawal dari seluruh bioskop di Indonesia, alhasil kursi teaternya penuh. Tapi untungnya saya sudah pesan tiket online sebelumnya dan dapat kursi yang terbaik, haha.

Duileh, bahagianya, hahaha

Bukan Cuma saya fans JJK yang antusias. Bahkan banyak yang memakai kaos JJK keluaran UNIQLO mauoun apparel lain. Ada juga yang cosplay jadi Yuuta dan Rika, keren tapi saying saya tidak sempat foto.

Ini adalah Collectible Ticket yang bisa didapat kalau pesan paket combo.
Seru, dapat tiket para karakter utamanya.

Saya tidak akan banyak bercerita tentang filmnya karena sampai tulisan ini terbit, filmnya masih tayang di bioskop. Tentu kurang etis bagi para penggemar yang masih ingin menonton langsung tanpa bocoran. Satu-satunya bocoran yang saya ingin bagikan adalah, tetap duduk sampai credit tittle selesain karena ada scene tambahan di akhir.

Begitu film selesai, seluruh penonton heboh bertepuk tangan karena filmnya memang keren. Ada fanservice scene juga dari salah satu karakter yang punya fanbase kuat di fandom JJK (saya tidak akan sebutkan namanya, intinya sangat worth it, hehehehe).

Oh ya, saya nontonnya di CGV Grand Indonesia dan saya baru tahu ada spot bioskopnya yang berkolaborasi dengan Coway. Ini adalah brand asal Korea Selatan yang bergerak dalam bidang home living alias peralatan elektronik kebutuhan rumah.

CGV x Coway, saya sangat senang lihat desain dan pilihan warnanya.

Desainnya bagus dan cara kerjanya praktis. Selain fungsinya yang sangat memudahkan, tentunya sudut rumah jadi terlihat lebih estetik. Kenapa saya tahu ini? Karena sejak 10 tahun lalu, saya sering nonton iklan Coway yang dibintangi SNSD alias Girls Generation, hahaha.

Air Purifier-nya keren yaaa

Resto kolaborasi CGV dan Coway ini nyaman sekali. Warna-warnanya saya banget, maklum penyuka warna pastel dan hangat, haha. Awalnya saya tidak berencana datang ke resto ini, tapi berhubung mulai lapar dan warna interiornya mempesona, akhirnya saya memutuskan untuk makan siang sambal menunggu film JJK 0 dimulai di resto ini.

Nyaman sekali, suasananya juga sangat mendukung buat membaca atau menulis..
Enak dan langsung kenyang.

Semoga season terbaru JJK bisa datang lebih cepat yaa. Semoga juga ada film kedua dan seterusnya. Sangat tidak sabar dan excited pokoknya, hahaha.

Seperti biasa, ditutup dengan foto random saya ya, hahaha. Sampai jumpa!

Outfit nonton JJK 0, hehehe