Setelah 18 Tahun, Akhirnya Kesampaian Nonton PROLIGA LIVE

Tahun 2002, saya masih kelas 1 SMP (ketahuan deh, hahaha). Meskipun sudah sering menyaksikan remaja-remaja kampung main bola voli sejak kecil, namun bisa dipastikan kalau kecintaan saya pada voli dimulai sejak kelas 1 SMP. Waktu itu, saya kerap bermain voli dengan teman-teman di kampung. Bolanya bukan bola voli asli, tapi cuma bola plastik yang biasa dimainkan anak-anak SD. Lapangannya pun hanya lapangan depan rumah yang netnya pakai tiang asal dipancak dan tali plastik. Kocak memang, tapi yang terpikirkan saat itu hanya kesenangan bermain dengan teman, menerima dan memukul bola tanpa peduli menang atau kalah.

Entah bagaimana ceritanya waktu itu, saya menonton TV dan membuka channel TVRI dan seketika melihat ada program pertandingan bola voli. Saya tahu ada NBA dan kalau di Indonesia ada IBL karena bola basket memang populer. Tapi saat itu, saya baru tahu kalau ada liga untuk bola voli nasional juga.

Setelah menonton siaran pertandingannya dan mendengarkan pembicaraan para komentatornya hampir tiap hari, saat itu saya tahu bahwa PROLIGA merupakan sebuah turnamen voli yang diikuti klub-klub se-tanah air. Meskipun yang bisa saya ingat, saat itu klub-klub yang ikut ada dari Jakarta (dengan klub terbanyak), Bandung, Yogyakarta, Gresik, dan Surabaya. Setiap klub diperbolehkan mengontrak pemain asing. Tahun 2002 merupakan perhelatan PROLIGA untuk pertama kalinya.

Klub favorit saya adalah Bandung Tectona, kenapa? Karena Ace klub puterinya bernama Fenny, sama dengan nama saya (beda penulisan saja tapi intinya sama, hahaha). Saya senang menyaksikan Fenny dengan tubuhnya yang tinggi melakukan vertical jump dan menggebuk bola dengan menukik ke lapangan lawan. Saya lupa siapa yang menjadi pemenang tiap kategori. Yang pasti, saya makin getol dan suka dengan voli.

Waktu kelas 2 SMP, ada liga HUT sekolah dan saat itu para siswa perempuan mengikuti pertandingan voli. Jadi kelas 1 melawan kelas 2. Kelas 3 sudah tidak ikut karena harus persiapan ujian kelulusan. Saat itu, dengan pengalaman dan latihan yang minim, saya selalu masuk dalam tim kelas. Berbekal wawasan menonton PROLIGA, akhirnya kami bisa menjadi pemenang saat itu.

Hampir setahun kemudian, salah satu guru olahraga di sekolah mendatangi kelas kami dan berbicara ke Wali Kelas bahwa saya masuk dalam Tim Inti Voli Putri sekolah yang akan bertanding melawan SMP sekabupaten. Tentu saya sangat senang. Entah karena guru tersebut melihat saya bertanding saat acara sekolah dulu, atau dapat rekomendasi dari teman yang sudah lebih dulu masuk tim inti, saya tidak tahu. Tapi, dari kelas kami, saya adalah satu-satunya yang mengikuti proglam latihan ini. Meskipun kami gugur di tahap awal karena melawan tim sekolah lain yang jauuuh lebih berpengalaman, kenangan itu akan menjadi pengalaman sekolah yang tidak akan saya lupakan.

18 tahun kemudian, saya kembali ke cinta lama saya yakni voli karena tanpa sengaja menemukan anime Haikyuu. Anime ini bercerita tentang klub bola voli SMA Karasuno, sebuah sekolah di Prefektur Miyagi, Jepang. Semua ceritanya pun mengingatkan saya pada kenangan saat sekolah dulu. Kembali gandrung pada voli membuat saya mulai lagi mencari berbagai hal yang berkaitan dengan olahraga ini. Dari situ, saya akhirnya menemukan bahwa PROLIGA 2020 akan berlangsung. Menetap dan bekerja di Bandung tentu akan memudahkan saya jika benar-benar berkeinginan menonton pertandingan ini langsung di lapangan. Maklum, saat di kampung dulu, saya hanya bisa menonton lewat TV pertandingan yang dilangsungkan di Jakarta saat itu.

Jasen Kilanta dari Pertamina Energi, mengingatkan dengan siapa di Haikyuu?

Kali ini, PROLIGA 2020 dilaksanakan di beberapa daerah, bahkan di Palembang, Sumatera Selatan. Saya langsung mencari jadwal pelaksanaannya, dan berteriak senang saat tahu bahwa salah satu putaran akan dihelat di Bandung. Saya tidak perlu susah payah untuk ke luar kota. Setelah penantian pengumuman penjualan tiketnya, akhirnya tiket untuk 3 hari pertandingan beruntun pun bisa saya dapatkan.

Para atlet puteri yang tangguh.

Pertama kali melihat para bintang voli secara langsung tentu menyisakan kekaguman. Bagaimana tinggi badan mereka yang menjulang, otot-otot kaki yang kuat, tangan-tangan yang biasa menggebuk bola, dan mata mereka yang selalu bisa menyesuaikan kapan untuk tenang dan kapan untuk mawas dan siap membunuh bola.

Para atlet saat melakukan peregangan.
Pertandingan seru antara Jakarta Pertamina Energi VS Surabaya Bhayangkara Samator.
Dimenangkan dengan telak 3-0 oleh SBS.

Yang mengesankan, karena membeli tiket VIP, saya berkesempatan memilih tempat duduk yang sangat dekat dengan lokasi para pemainnya. Saya bisa melihat dengan dekat bagaimana mereka melakukan persiapan sebelum bertanding, bagaimana pemanasannya, apa yang mereka makan dan minum, sampai kebiasaan mereka saat rekannya berhasil memukul bola maupun saat gagal meraih poin. Tentu muncul pemikiran di benak, “Enak juga ya sepertinya jadi atlet voli?!” Hahaha, tentu itu hanya pemikiran iseng, karena di usia segini dan pengalaman latihan yang sangat minim, mana mungkin bisa memasuki dunia voli lagi.

Rivan Nurmulki, spiker dari Surabaya Bhayangkara Samator
sedang melayani permintaan selfie para fansnya, kebanyakan cewek pastinya, hahaha.

Selama tiga hari, saya menyaksikan hampir seluruh tim bertanding, baik putera maupun puteri. PROLIGA 2020 masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, apalagi setelah virus corona mewabah, beberapa jadwalnya harus diundur. Saya berharap dapat menyaksikan putaran finalnya, atau 4 besar di Jakarta nanti. Tentunya saat semua kondisi telah memungkinkan dan mendukung.

Biasanya melihat cheerleader di pertandingan basket,
tapi saat PROLIGA 2020 di Bandung ada juga nih waktu jeda istirahat antar babak.

Meksipun bukan pemain andal, tapi saya memiliki ikatan tersendiri dengan voli. Jadi, kalau impian saya saat kelas 1 SMP untuk bisa menyaksikan PROLIGA secara langsung bisa tercapai, saya pun yakin impian saya yang lebih tinggi tentang voli bisa juga kesampaian. Ya, saya berkeinginan  bisa menyaksikan Olimpiade cabang Voli secara langsung suatu saat nanti. Berharapnya bisa menyaksikan di Olimpiade 2020 ini, semoga ada jalan, semoga semesta dan Tuhan mendukung. Amin.  

Published by Feni Saragih

Everywhere is my study field, everywhere is worth to walk.

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: