Pengalaman Pertama Ikut TEDx

Selain senang traveling dan menulis, saya juga senang mengikuti forum, workshop, atau konferensi. Menurut saya, menghadiri acara-acara begini akan membuka wawasan, saya jadi lebih tahu berbagai hal, dan menambah kosakata. Mengikuti acara seperti ini pun membuat saya semakin peka dengan lingkungan dan sosial.

Sekarang semakin banyak orang atau pihak yang ingin memfasilitasi ide-ide dan agar semakin diketahui khalayak luas. Hal-hal seperti ini sudah banyak di luar negeri. Sering lihat kan di berbagai film barat ada scene sekelompok orang yang duduk di kursi membentuk lingkaran dan bercerita satu sama lain, tentang pengalaman, gagasan, atau harapan mereka.

Bersyukurnya, hal seperti ini sudah mulai marak di Indonesia. Banyak talkshow atau festival berbagai genre yang mulai hadir di tengah-tengah masyarakat, meskipun hampir semuanya masih diselenggarakan di pusat-pusat kota. Seperti yang saya ikuti baru-baru ini, yakni TEDxJakarta.

TEDxJakarta Tahun 2019 bertema Ribut Reboot

TED sendiri merupakan organisasi media yang menyelenggarakan dan mempublikasikan pembicaraan atau talkshow. Mereka memiliki tagline “Ideas Worth Spreading” atau ide-ide yang layak disebarkan. Sejak tahu tentang TED beberapa tahun lalu lewat youtube, saya pun pernah berandai-andai suatu saat bisa mengikuti forum ini.

Di luar negeri, acara ini sudah sering dilaksanakan sejak lama. Beruntunglah karena saat ini, di Indonesia pun sudah diadakan beberapa kali oleh berbagai pihak di berbagai kota. Seperti TEDxJakarta, TEDxBandung, TEDxUbud, bahkan ada yang berafiliasi dengan kampus-kampus seperti TEDxUGM, TEDxTelkomU, TEDxITB, dll. Bersyukur sekali karena generasi muda sudah sangat peka dengan hal-hal seperti ini. Yeaaay!

Harga tiket TEDx seperti ini di kisaran Rp400 ribuan. Tapi biasanya ada harga khusus jika pembelian lebih awal. Namun, saya sangat beruntung karena bisa mendapatkan tiket VI P gratis karena ikut giveaway dari DBS yang merupakan sponsor acara TEDxJakarta 2019 lalu. Giveaway-nya yakni saya harus memberikan ide ataupun menceritakan hal yang sudah mulai saya lakukan untuk gerakan zero waste. Karena beberapa waktu belakangan hal ini sudah saya lakukan, jadi saya tinggal menceritakannya dengan sederhana. (Tentang hal ini akan saya ceritakan di artikel khusus nantinya ya).

Ikon TEDx menyambut di sepanjang trotoar menuju gedung acara.

TEDxJakarta kali ini diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Seumur hidup, saya belum pernah ke taman ini. Jadi, ini akan menjadi “sekali mendayuh, dua tiga pulau terlampaui” bagi saya. Dari Bandung, saya naik Kereta Api Argo Parahyangan dengan tujuan Stasiun Gambir. Dari Gambir, saya tinggal naik ojek online dan ternyata tidak begitu jauh.

Menyapa Pak Ismail Marzuki sebelum masuk.

Pertama kali sampai di Taman Ismail Marzuki, saya cukup takjub melihat begitu megah dan lengkapnya taman ini. Banyak anak muda yang beraktivitas bersama di sekitar taman ini, seperti latihan menari, latihan teater, dan lain sebagainya. TIM sangat bagus dan lengkap.

Keseruan di TIM

Awalnya hanya dua pembicara yang memang sudah cukup familiar bagi saya yakni Kenny Santana atau yang lebih dikenal dengan nama Kartupos di berbagai akun media sosialnya, dan Grace Natalie yang mantan jurnalis dan kini menjadi anggota legislatif. Saya sangat antusias dengan Kenny Santana karena merupakan salah satu traveller yang cukup punya nama dan diakui di Indonesia.

Namun, setelah mengikuti semua sesinya, ternyata semua pembicara ini adalah orang-orang yang sangat kaya wawasan dan sudah melakukan “sesuatu” bagi masyarakat melalui bidangnya masing-masing. Saya akan menceritakan secara garis besar apa saja materi, ide, dan harapan yang disampaikan oleh masing-masing pembicara.

  • Widharmika Agung

Dia seorang kelahiran Bali yang menjadi pendiri Indorelawan.org, sebuah organisasi non profit yang bergerak dalam bidang volunteering berbasis web. Organisasi ini telah memiliki ribuan voluntir dari berbagai latar belakang baik suku, agama, pekerjaan, pendidikan, dan lain-lain.

Bli Widhar bahkan bercerita mengenai salah satu voluntir militannya yang merupakan seorang OB yang tinggal di daerah kumuh di pinggiran Jakarta. Namun, OB ini berhasil membuat gerakan pendidikan di daerah tempat tinggalnya, yakni mengajari anak-anak yang tidak bisa memperoleh pendidikan seperti menulis, membaca, berhitung, dan lain-lain.

Gerakan ini sudah merambah di seluruh Indonesia dan di berbagai sektor yang beragam. Mulai dari pendidikan, lingkungan, kesehatan, dan lainnya. Sangat-sangat menginspirasi! (Tapi, saya minta maaf karena lupa ambil foto Bli Widhar, saking terbawa suasana, hahaha).

  • Kenny Santana

Ko Kenny lebih dikenal dengan nama alias Kartupos karena kegemarannya traveling dan hunting berbagai kartu pos unik dari negara-negara atau tempat yang pernah dia datangi. Dia menceritakan banyak hal yang tidak pernah ia ceritakan di seluruh social media-nya. Bagaimana ia dicap sangat beruntung oleh orang-orang di sekitarnya, padahal proses yang ia lewati juga tidak mudah.

Ia menceritakan bahwa ketidakberuntungan mungkin akan diikuti dengan keberuntungan dalam bentuk yang berbeda. Jadi, hidup ini semacam circle yang harus kita jalani dengan happy dan ikhlas, termasuk dalam hal traveling. Akan ada ketidakberuntungan saat melakukan traveling yang kelihatannya merupaka hal yang gampang dan sangat menyenangkan. Namun, di balik ketidakberuntungan itu ada saja keberuntungan yang menanti.

Sesi Kenny Santana, Sang Travel Storyteller.
  • Fadly Rahman

Seorang sejawaran dan dosen dari almamater tercinta, Universitas Padjadjaran. Beliau memfokuskan dirinya mempelajari sejarah kuliner dan berbagai panganan di Indonesia. Ini salah satu sesi yang sangat mindblowing buat saya. Ternyata saya tidak tahu apa-apa mengenai sejarah makanan yang hampir tiap hari saya makan.

Bahwa makanan jenis Soto saja pun memiliki filosofi dan hubungan dengan perkembangan bangsa Indonesia. Indonesia sangat kaya, dan generasi sekarang harus bisa mempertahankan kekayaan itu dengan mempelajari sejarah bangsa dan bagaimana bangsa ini dibentuk, berdiri, dan berkembang. Banyak faktor yang sangat mempengaruhi, bahkan kuliner pun menjadi salah satu di antaranya. (Di sesi ini pun saya lupa ambil foto, saking terkesima dengan materinya.)

  • Grace Natalie
Grace Natalie dan paparannya yang menggugah.

Dulu saya mengenalnya sebagai seorang jurnalis di salah satu TV swasta nasional. Namun, saat ini dia berkiprah dalam dunia politik Indonesia. Saya tidak akan membicarakan mengenai parpolnya atau kubunya, karena acara TEDx ini murni mengenai ide yang berharga dan pantas untuk disebarkan bagi seluruh masyarakat.

Salah satu yang saya soroti adalah faktor yang mendorong Grace terjun ke dunia politik karena keresahan dan keprihatinannya dengan berbagai regulasi yang kebanyakan diskriminatif, salah satunya terhadap kaum perempuan. Berbagai perda di berbagai daerah juga ternyata diskriminatif terhadap golongan tertentu.

Grace juga bercerita bahwa tak pernah dalam impiannya untuk terjun ke dunia politik dan berkutat di dalamnya. Namun, keresahan yang dirasakannya adalah motivasi yang membuatnya harus berbuat sesuatu. Ia tidak ingin kehidupannya dikontrol oleh segelintir orang. Itulah arti politik yang sebenarnya, yakni memberikan andil, perhatian, dan suara untuk membentuk regulasi yang akan mengatur kehidupan masyarakat.

Setiap masyarakat memiliki hak untuk dapat mengarahkan hidupnya. Maka, jangan cuek dengan politik, jangan menganggapnya sebagai hal yang hanya memusingkan dan tidak berguna. Percayalah, jika kita pasrah dan tidak mau tahu, itu artinya kita sedang membiarkan segelintir orang yang akan menentukan hidup dan masa depan kita melalui berbagai regulasi.

  • My-Lan Dodd
Sesi yang membuat saya menangis.

Satu-satunya pembicara yang langsung datang dari luar negeri, yakni Amerika Serikat. Dia merupakan mantan atlet profesional yang kini mengabdikan dirinya untuk membantu orang-orang tidak mampu, khususnya perempuan terkait hak kepemilikan tanah. Dia dan organisasinya sudah membantu banyak orang di berbagai negara, termasuk saat ini mereka tengah bekerja membantu orang-orang di Indonesia, salah satunya di daerah Sulawesi. My-Lan bercerita dengan full english namun ceritanya juga sangat mindblowing dan sangat mengharukan.

Dia bercerita bahwa yang memotivasinya untuk melakukan pekerjaannya sekarang adalah seorang perempuan asal Vietnam yang setelah perang Vietnam mengadu nasib ke Amerika Serikat. Dari tak punya apa-apa, dia bekerja keras, sedikit demi sedikit mengumpulkan materi. Seiring waktu, perempuan Vietnam ini berkeluarga dan memiliki keturunan. Ia kemudian menyadari bahwa memiliki hak tanah sangat penting bagi setiap orang, khususnya yang akan melanjutkan hidup dengan meneruskan sebuah keluarga.

Meski serba terbatas, perempuan Vietnam ini bahkan tidak bisa membaca dan menulis, namun dengan kegigihannya, ia akhirnya bisa memiliki tanahnya sendiri dan membangun tempat tinggal bagi keluarga dan anak-anaknya. Perempuan Vietnam itu adalah ibu kandung My-Lan sendiri. (Huaaa, asli semua langsung standing ovation dengar paparannya yang sangat inspiratif dan mengharukan. Saya bahkan menitikkan air mata. Saya sangat jatuh cinta dengan caranya bercerita, dia menyimpan GONG-nya di akhir. Aduh, teknik bercerita ini yang harus dipelajari).

  • Ahmad Arif
Sang Penggiat Tanggap Bencana.

Mas Ahmad Arif merupakan jurnalis KOMPAS yang saat ini mengfokuskan diri untuk membuat berita dan berbagai artikel kajian mengenai lingkungan, khususnya bencana alam. Dia jugalah yang menjadi penggagas Ekspedisi Cincin Api KOMPAS yang dulu sangat terkenal. Saya bahkan sempat mengikuti tiap episodenya. Mas Ahmad Arif menceritakan pengalaman mendalam bahkan trauma yang mendorongnya untuk mengabdikan diri mempelajari dan mensosialisasikan bencana alam di Indonesia.

Saat ini, selain terus menulis di KOMPAS, dia pun mengabdikan diri untuk berkeliling Indonesia membuat sosialisasi ke masyarakat mengenai pengetahuan sadar bencana sejak dini. Hal ini karena tingkat kesadaran dan wawasan masyarakat Indonesia mengenai bencana alam masih sangat minim. Padahal, alam Indonesia memang secara geografis sangat rentan terkena berbagai bencana alam, seperti gempa, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, dan lain sebagainya.

Ia bahkan membuat quote yang membuat merinding “Bukan gempa dan tsunami yang bisa membunuh kita, tapi ketidaktahuan kita”. Dalam!

  • Erik Prasetya
Sang Pembeku Kenangan.

Pak Erik merupakan jurnalis foto senior. Dia sudah menerbitkan buku berisi essay foto di balik hingar-bingarnya Kota Jakarta. Dalam sesinya, Pak Erik menunjukkan hasil jepretan kameranya, mulai dari era lawas hingga yang anyar.

Salah satu hasil foto yang membekas bagi saya adalah foto portrait seorang Pak Tua korban kesewenang-wenangan salah satu rezim di Indonesia. Sangat mengenaskan. Namun, hal itu menyadarkan saya bahwa kita memiliki kendali agar pemimpin yang diinginkan bukanlah orang dari golongan tersebut. Bahkan, pemimpin yang saya inginkan adalah yang takut berbuat jahat dan menempatkan kepentingan rakyat di atas segalanya.

  • Farwiza Farhan
Sang Konservator.

Sesi pamungkas yang ditutup dengan indah dan kuat. Kak Farwiza mengabdikan diri sebagai seorang pekerja konservasi di Taman Nasional Leuser, Aceh. Perjuangannya sangatlah berat karena banyak tekanan dari berbagai pihak. Tadinya, dia sudah sangat nyaman di Australia. Namun, kenyamanan itu justru membuatnya resah.

Beruntungnya, Kak Farwiza dikelilingi orang-orang profesional yang sangat peduli dengan lingkungan dan satwa yang terancam punah. Salah satunya fotografer idolaku, Paul Hilton. Kak Farwiza juga menceritakan berbagai kasus yang berhasil dimenangkan yang akhirnya berpihak pada satwa yang hampir punah ini. Kak Farwiza juga menyampaikan materinya full english. Ia mengajak semua pihak untuk peduli terhadap alam khususnya daerah-daerah konservasi yang menjadi rumah bagi para satwa yang dilindungi.

Selain para pembicara tunggal ini, ada beberapa sesi pemutaran video TED pilihan dan semuanya sangat menginspirasi dan membuka mata. Ada juga sesi materi yang sangat menghibur dari Keroncong Musyawarah dan Teater Pandora.

Mereka membawakan semua lagunya dengan indah.

Lucunya, saya bukanlah penikmat musik keroncong dan sangat awam dengan dunia teater. Namun, kehadiran dua grup seni ini membuka pemahaman saya bahwa dua dunia itu ternyata sangat menyenangkan dan ada pesan filosofis yang dibawa.

Sesi TEDx hari itu saya tutup dengan menikmati senja di TIM bersama puluhan anak muda yang menghabiskan sore itu dengan berbagai aktivitas seni. Di tengah sengkarutnya kehidupan negeri ini, ternyata selalu ada sisi dan titik yang peduli. Yang cinta kepada negeri ini dan menyuguhkannya dengan keindahan yang menawan.

Tidak lupa menuliskan ide-ide yang berharga bagi lingkungan sekitar.

Published by Feni Saragih

Everywhere is my study field, everywhere is worth to walk.

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: