Pulang

Menjadi dewasa itu pilihan. Menjadi dewasa bukan hanya perkara fisik atau jasmni tapi lebih kepada pola pikir dan mentalitas. Seiring bertambahnya usia, kita seperti dibuat terpaksa meninggalkan kesenangan yang kita nikmati pada masa kecil demi kata-kata “sudah dewasa, orang dewasa harus punya prioritas yang lebih penting”. Namun, saya menyadari kalau hal-hal yang kita senangi saat bertumbuh merupakan bagian dari identitas kita. Seakan-akan bagaimana adanya kita saat ini juga andil dari hal-hal yang kita senangi tersebut.

Saya justru menemukan rasa nyaman dan damai saat bisa kembali ke hal-hal yang saya senangi pada masa kecil atau saat bertumbuh dulu. Toko buku, komik TINTIN, menulis, menonton anime, dan menggambar adalah hal-hal yang saya gandrungi saat kecil. Bahkan salah satu mimpi saya untuk mengunjungi negeri Jepang saat sudah punya penghasilan sendiri adalah buah angan-angan polos yang dibuat saat saya SD. Sebelum tidur, sambil menatap poster Captain Tsubasa dan Slam Dunk di dinding kayu kamar di kampung, saya memanjatkan impian itu kepada Tuhan. Puji Tuhan, mimpi itu sudah terwujud.

Beranjak remaja dan dewasa muda, saya mulai mengenal Drama Korea dan boyband/girlband Korea. Saya pun jadi senang variety show Korea dan tertarik dengan keseharian mereka, makanan dan minuman, serta tentunya fashion dan make up mereka. Sesekali saya bahkan mengkhususkan waktu makan-makanan khas Korea dan jadi terbiasa kalau makan harus menggunakan sumpit, hahaha, absurd ya. Cara dan warna pakaian yang saya suka pun jadi agak ke-Korea-Korea-an: warna pastel atau warna yang cerah. Ya, mungkin yang satu ini generalisasi saya saja, haha.

Seiring waktu, saya pun memantik satu angan-agan baru untuk bisa mengunjungi Korea Selatan. Puji Tuhan, mimpi itu pun terjawab lewat kemenangan saya dalam sebuah lomba menulis yang berhadiah jalan-jalan gratis ke Korea Selatan.

Mimpi-mimpi saat saya masih kecil dan bertumbuh dulu yang satu per satu dijawab oleh Tuhan kini jadi penyemangat saya saat mulai jenuh dan lelah dengan keseharian. Tanggung jawab yang semakin bertambah membuat saya terkadang lupa dengan hal-hal yang dulu pernah disenangi. Bahkan saat stress sedang menyerang, tak jarang saya tak punya gairah sama sekali untuk menyentuh hal-hal tersebut. Alasan terakhir lebih pada pola pikir sebenarnya, saya sering berpikir kalau menulis, membaca, atau menggambar akan menguras energi jadi lebih baik saya pakai untuk beristirahat. Namun pada akhirnya, waktu istirahat itu malah saya pakai scrolling social media dan membuat saya tidak menjadi lebih baik.

Belajar dari kesalahan itu, saat akhirnya punya waktu, saya manfaatkan untuk melakukan hal-hal yang saya senangi dulu. Saat bisa mengunjungi toko buku lagi, membaca santai di kafe, menulis jurnal lagi, saya sangat bersyukur bisa merasakan lagi sensasi seolah-olah saya “pulang”. Rasa nyaman dan damai, itulah yang saya rasakan.

My sanctuary, menghabiskan waktu di toko buku selalu menyenangkan.

Saat mudik ke Bandung, saya mengunjungi restoran Korea favorit dan memesan ramyun dan soda Korea. Asyiknya saat menunggu pesanan datang, saya disuguhkan semangkuk odeng. Awalnya tentu bingung karena saya tidak pesan odeng, tapi kata waitressnya odengnya disuguhkan gratis, yeaay, hahaha.

Ramyun favorit

Ke Bandung akan lebih lengkap dengan jalan-jalan pagi santai menikmati taman-taman yang ada. Meski sudah tidak sesejuk dulu, tapi udara pagi di Bandung tetap favorit, apalagi kalau suasananya sedang sepi. Sebagai seorang introvert, inilah recharge yang dibutuhkan. Menikmati alam, suasana yang tenang, dan diri sendiri.

Duduk manis dan menikmati suasana yang tenang.

Besoknya, saya pergi ke toko buku favorit, ada yang bisa tebak dimana? Setelah sejam lebih baca-baca sekilas dan melihat-lihat, tanpa disangka saya menemukan komik TINTIN di pojokan. Saya hampir ingin menangis rasanya setelah ingat terakhir kali beli komik TINTIN itu 10 tahun yang lalu. Waktu itu saya baru lulus kuliah, dan dalam masa mencari pekerjaan. Saya tidak pernah mau bilang kalau masa-masa itu disebut pengangguran, tidak sama sekali. Untuk hal yang satu ini, saya akan ceritakan di tulisan yang berbeda (kira-kira, ada yang tertarik untuk tahu tidak ya? hehehe).

TINTIN, teman bertumbuhku dan harta karun buat anak-anakku kelak. amin

Waktu itu, uang saku saya sangat pas-pasan tapi rasa ingin membaca tuntas TINTIN membuncah, makanya saya tekadkan menyisihkan uang bulanan yang ada. Akhirnya, saya bisa membeli komik TINTIN berkat diskon 30% di toko buku. Setiap punya rejeki lagi, saya bersyukur bisa membeli komik TINTIN lagi, dan bersyukur sekali karena toko buku favorit saya ini selalu rajin memberikan diskon 30% semua buku. Puji Tuhan.

Sekarang 10 tahun berselang, saya bisa memegang komik TINTIN lagi di toko buku dengan versi yang berbeda. Sudah lama sekali punya keinginan membaca TINTIN versi bahasa Inggris, tapi karena dulu tidak punya uang akhirnya urung. Puji Tuhan, sekarang sudah bekerja jadi punya rejeki dan bisa membeli TINTIN English version tanpa harus menunggu diskon. Puji Tuhan sekali lagi.

“Pulang” kali ini bisa dibilang sebagai salah satu bentuk “healing” buatku. Sederhana tapi bermakna. Healing menurutku bukan karena jalan-jalannya tapi perasaan nyaman dan damai di hati.

Menikmati kopi sambil membaca buku dengan santai, Puji Tuhan nikmatnya.

Kalau kamu, apa “pulang” yang ingin kamu lakukan? Share di komentar yaaa!

Bonus foto! Hahaha

Feni dengan style Korea yang digandrunginya, masih cocok kan? Haha

The Greatest Jujutsu Kaisen and CGV Coway

Kalau ada yang tidak berubah dari saya sejak dulu selain masih gendut-gendut aja dan status single, jawabannya ialah “saya pencinta anime”. Saya suka anime sejak belum masuk sekolah hingga sekarang. Mungkin orang melihatnya konyol, seorang perempuan yang harusnya sudah menikah dan punya anak ternyata masih gandrung nonton anime. Hmmm, saya penganut paham jangan jadikan umur sebagai pembunuh hal yag bisa membuat kita bahagia dan berkembang apalagi tidak ada orang yang dirugikan juga. Percayalah, banyak ilmu yang justru saya baru tahu karena nonton anime. Saya juga banyak dapat teman baru karena sama-sama suka anime.

Banyak anime yang ada di top list saya, tapi saat ini, bagi saya Jujutsu Kaisen adalah puncaknya. Tiap tahun selalu ada saja manga atau anime baru, tapi Jujutsu Kaisen sudah jadi bagian hidup saya kurang-lebih hampir 3 tahun ini. Perkenalan saya dengan Jujutsu Kaisen pun tanpa sengaja, teman saya sesame pencinta Haikyuu cerita kalau baru membaca edisi terbaru Jujutsu Kaisen. Cover dan desain karakternya yang cukup unik membuat saya tertarik untuk membaca dan boom! Saya langsung tidak sabar menunggu animenya keluar, saya butuh 6 bulan menunggu sampai episode 1 nya mengudara.

FYI, Jujutsu Kaisen 0 ini adalah prequel dari serial Jujutsu Kaisen,
jadi secara timeline kejadian JJK 0 ini terjadi kira-kira setahun sebelum timeline cerita JJK.

Jadi, jangan heran saat beberapa waktu lalu saya sangat senang saat akhirnya bisa menonton film Jujutsu Kaisen 0 di bioskop. Itu adalah pemutaran perdana di seluruh Indonesia. Karena jadwal film yang saya tonron merupakan jadwal terawal dari seluruh bioskop di Indonesia, alhasil kursi teaternya penuh. Tapi untungnya saya sudah pesan tiket online sebelumnya dan dapat kursi yang terbaik, haha.

Duileh, bahagianya, hahaha

Bukan Cuma saya fans JJK yang antusias. Bahkan banyak yang memakai kaos JJK keluaran UNIQLO mauoun apparel lain. Ada juga yang cosplay jadi Yuuta dan Rika, keren tapi saying saya tidak sempat foto.

Ini adalah Collectible Ticket yang bisa didapat kalau pesan paket combo.
Seru, dapat tiket para karakter utamanya.

Saya tidak akan banyak bercerita tentang filmnya karena sampai tulisan ini terbit, filmnya masih tayang di bioskop. Tentu kurang etis bagi para penggemar yang masih ingin menonton langsung tanpa bocoran. Satu-satunya bocoran yang saya ingin bagikan adalah, tetap duduk sampai credit tittle selesain karena ada scene tambahan di akhir.

Begitu film selesai, seluruh penonton heboh bertepuk tangan karena filmnya memang keren. Ada fanservice scene juga dari salah satu karakter yang punya fanbase kuat di fandom JJK (saya tidak akan sebutkan namanya, intinya sangat worth it, hehehehe).

Oh ya, saya nontonnya di CGV Grand Indonesia dan saya baru tahu ada spot bioskopnya yang berkolaborasi dengan Coway. Ini adalah brand asal Korea Selatan yang bergerak dalam bidang home living alias peralatan elektronik kebutuhan rumah.

CGV x Coway, saya sangat senang lihat desain dan pilihan warnanya.

Desainnya bagus dan cara kerjanya praktis. Selain fungsinya yang sangat memudahkan, tentunya sudut rumah jadi terlihat lebih estetik. Kenapa saya tahu ini? Karena sejak 10 tahun lalu, saya sering nonton iklan Coway yang dibintangi SNSD alias Girls Generation, hahaha.

Air Purifier-nya keren yaaa

Resto kolaborasi CGV dan Coway ini nyaman sekali. Warna-warnanya saya banget, maklum penyuka warna pastel dan hangat, haha. Awalnya saya tidak berencana datang ke resto ini, tapi berhubung mulai lapar dan warna interiornya mempesona, akhirnya saya memutuskan untuk makan siang sambal menunggu film JJK 0 dimulai di resto ini.

Nyaman sekali, suasananya juga sangat mendukung buat membaca atau menulis..
Enak dan langsung kenyang.

Semoga season terbaru JJK bisa datang lebih cepat yaa. Semoga juga ada film kedua dan seterusnya. Sangat tidak sabar dan excited pokoknya, hahaha.

Seperti biasa, ditutup dengan foto random saya ya, hahaha. Sampai jumpa!

Outfit nonton JJK 0, hehehe

Mengakar

Hufft, kata itu yang pertama keluar diiringi muka cemberut saat setelah sekian lama baru berkesempatan membuka blog ini lagi. Luapan rasa kesal dan kecewa pada diri sendiri karena bisa-bisanya menelantarkan blog ini nyaris 5 bulan tak tersentuh. “Sibuk” dan “tidak punya waktu” selalu jadi alasan (sok sibuk sekali). Padahal ya karena kurang diniatkan saja dan tidak pintar mengatur waktu. Penyakit klasik saya, hahaha.

Eits, tapi saya dalam tahap belajar untuk mengatur waktu lebih bijak sekarang.

Tapi selain itu, mungkin saya juga sedang merasakan apa yang disebut orang dengan istilah “demotivasi”. Ini adalah state dimana saya jadi tidak merasa tertarik lagi untuk mengerjakan hal-hal yang dulu menyenangkan buat saya. Saya seperti hilang semangat bahkan untuk hal yang sangat saya gandrungi. Banyak faktornya, mungkin karena kelelahan atau bosan. Tapi, jauh di lubuk hati saya, ingin sekali rasanya mengerjakan berbagai hal seperti dulu lagi saat energi saya sedang banyak-banyaknya. Belakangan, yang ada kadang menggerakkan ujung jari pun berat rasanya.

Sambil menata lagi dari dalam, secara parallel saya pun mencoba mencari lagi semangat dan motivasi dari sekeliling saya. Dimulai dari keluarga dan teman-teman dekat, karena merekalah akar saya. Mereka orang yang melihat saya berkembang, jadi setidaknya mereka tahu dan bisa menilai apa yang membuat saya semangat, apa yang membuat saya bisa bercerita dengan mata berbinar tanpa merasakan lelah sedikitpun.

Mama adalah teman curhat terbaik dan terpercaya sejak saya mengenal apa itu kata “curhat”

Pertemuan dengan teman-teman meski terasa perlahan tapi cukup membantu saya me-recharge kembali energi yang sempat tertidur. Memang tidak kembali persis seperti dulu, tapi setidaknya pikiran dan perasaan saya menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Mereka bagaikan pengingat bahwa saya tidak sendirian di tengah hiruk pikuknya dan sibuknya Ibu Kota ini.

Teman-teman asrama, bertumbuh bersama mereka setiap hari.

Memang benar kata orang bijak, kembali ke akar adalah salah satu cara untuk mengenali diri sendiri dan menikmati kembali hidup yang dulu pernah dinikmati dengan baik.

Mendengar cerita mereka selalu membuat saya bisa menilai hal dari berbagai perspektif

Selain itu, saya juga bersyukur sekali tinggal di kosan bersama teman-teman yang perhatian dengan keunikan cerita masing-masing. Bertemu mereka menjadi oase tersendiri bagi saya. Saya seperti bisa belajar dan melihat dunia lain dari perspektif yang berbeda. Saya tak akan menemukan orang-orang dan pengalaman seperti yang saya lewati bersama mereka kalau tidak tinggal di kosan yang sekarang.

Teman-teman kosan yang sangat perhatian.
Masih ada beberapa orang lagi tapi belum punya foto bareng, soon!

Masih jauh perjalanan yang harus saya tempuh untuk menjadi lebih baik dan masih banyak hal yang harus dipelajari lagi, tapi saya yakin secara perlahan, sedikit demi sedikit, saya akan sampai ke sana dengan cara saya sendiri.

Banyak mendengar, ternyata sangat menyenangkan.

Selalu dekat dengan akar, terlebih lagi memiliki relasi yang baik dengan Sang Pencipta adalah cara terbaik agar saya bisa menikmati lagi semuanya dan meninggalkan stase “demotivasi” ini.

Mereka adalah bagian dari “akar” saya.

Jika kalian yang membaca ini merasa cukup relate dan sedang merasakan hal yang sama, semoga apa yang saya tulis ini bisa sedikit membantu ya. Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda dan it’s okay untuk beristirahat sejenak dan kembali ke akar. It’s okay untuk bergerak pelan dan tidak terburu-buru. Karena yang paling penting adalah kita bisa menikmati semua proses hidup kita dengan baik dan penuh rasa syukur.

Bisa melihat senja secantik ini saat bersama teman-teman membuat saya merasa lebih bersyukur
apapun keadaan dan tantangan yang ada di masa depan.

Tetap semangat semuanya! Selamat bertemu lagi di tulisan selanjutnya.

Meskipun low resolution karena di-screenshoot dari video
tapi saya sangat suka foto ini. Kali ini tidak ada foto narsis di akhir tulisan hahaha

Sisi Sentimentil SCBD Bagi Saya yang Melankolis

Ini adalah salah satu spot favorit saya di Jakarta.

SCBD, menurut Wikipedia merupakan sebuah distrik bisnis di Kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Mungkin mirip seperti Silicon Valley kalau di San Francisco Bay Area, California, Amerika Serikat. Belakangan, SCBD ramai diperbincangkan netizen Indonesia karena sebuah trend di Tiktok yang menyebutkan “Mbak SCBD” dengan asesoris dari brand ternama dan lokasi kerjanya di SCBD. Alih-alih membahas trend tersebut, saya justru lebih ingin membahas kenapa saya senang berada di SCBD.

Mari kita mulai.

Perkenalan saya dengan SCBD terjadi di tahun 2017 silam. Saat itu, saya yang jarang sekali ke Jakarta selain urusan dinas ini mau tidak mau harus ke SCBD demi pameran Dunia Ghibli alias The World of Ghibli yang dibuka di Ritz Carlton, Pacific Place, SCBD. Saya sangat gandrung dengan film-film Ghibli dan pameran ini adalah yang terbesar dan pertama di Indonesia. Beruntungnya saat itu sudah ada ojek online, jadi dari Stasiun Gambir saya tinggal langsung duduk manis di ojek.

The World of Ghibli, 4 tahun silam.

Pertama kali melihat SCBD tentu saya takjub, maklum di Bandung apalagi di Simalungun (daerah asal saya) tidak ada area bisnis yang megah seperti SCBD. Anehnya, meskipun Jakarta sangat panas, Kawasan SCBD cukup nyaman karena banyak pohon-pohon dan taman di sepanjang jalanannya.

Inilah alasan kenapa belakangan ini saya dan teman-teman sangat suka jalan santai di SCBD setiap punya kesempatan untuk olahraga bersama. Tak hanya kami, banyak orang dari berbagai penjuru pun datang untuk berolahraga di SCBD. Ada freeletics, bersepeda, sepatu roda, skateboard, lari, senam, bahkan yoga ala-ala. Saat pagi udaranya sangat sejuk, karena banyaknya pepohonan rindang dan taman yang sangat terawat. Bikin betah.

Nyamannya olahraga santai di SCBD

Selain itu, ada Ashta 8 di SCBD dimana ada gerai kopi asal Jepang yang terkenal itu dan ada gerai pastry yang sempat viral juga karena enak dan harganya cukup terjangkau. Tak jauh dari Ashta, ada GrandLucky, supermarket asal Korea Selatan yang sangat lengkap dan jadi incaran orang-orang sehabis olahraga pagi.

Salah satu taman tersembunyi di SCBD
Bahkan ada kandang burungnya, haha
Kopi yang terkenal itu di Ashta 8

Cukup bicara SCBD saat pagi.

Saat malam, SCBD terlihat sangat megah dengan lampu-lampu hampir di tiap gedung pencakar langitnya.

How cool!

Oh ya, ada satu Japanese restaurant dengan gaya bangunan yang sangat khas dan terlihat sangat cantik dengan lampu-lampunya di malam hari. Saya dan teman-teman punya rencana ke sana suatu saat nanti di malam hari, kalau jadwal kerja kita memungkinkan, maklum masing-masing punya jadwal berbeda hahaha (sok sibuk)

saya lupa taruh dimana foto versi malamnya, maaf.

Bisa dibilang, bagi saya menghabiskan waktu di SCBD itu semacam terapeutik. Tak perlu nongkrong atau jajan, hanya jalan santai di antara taman dan pepohonannya sambil menyaksikan orang-orang hanyut dalam aktivitas masing-masing sudah lebih dari cukup.

SCBD yang prestise untuk jiwaku yang melankolis

Tak sabar untuk ekslplor SCBD lebih banyak lagi, karena pasti masih ada cerita lain dari sisi SCBD yang menarik dan seru untuk dibahas. Tunggu ya.

Maaf narsis, haha

Akhirnya Mengurus Paspor Lagi, Kali ini di Masa Pandemik

Setelah tertunda hampir satu tahun, akhirnya saya memutuskan ke Kantor Imigrasi untuk mengurus pergantian paspor. Masa berlaku paspor lama saya sebenarnya sudah habis per Agustus 2020 lalu, tapi karena masih suasana pandemik, saya memutuskan belum perlu mengurus pergantiannya. Selain itu, sayang-sayang saja rasanya kalau sudah mengurus paspor tapi setahun akan berlalu begitu saja tanpa dipakai sama sekali. Yang ada, masa berlaku paspor akan terpangkas tanpa ada pengalaman traveling yang berarti. Hiks.

Namun, karena keperluan dokumen pekerjaan, mau tidak mau saya harus mengurus pergantian paspor. Dibandingkan dengan saat mengurus paspor pertama kali pada tahun 2015 silam yang semuanya masih serba manual, kali ini pengambilan jadwal pengurusan paspor sudah bisa dilakukan secara online lewat aplikasi “Layanan Paspor Online”. Aplikasinya bisa didownload di playstore (bagi pengguna android). Setelah itu, harus baca ketentuannya dulu ya, baru lanjut terus mendaftar sesuai dengan data yang valid. Lalu, tinggal ambil jadwal pengurusan dengan memilih kantor imigrasi yang diinginkan. Artinya, pengurusan tetap bisa dilakukan meskipun alamat di KTP berbeda dengan tempat tinggal saat ini, karena semua sudah online dan terpusat.

Quota untuk jadwal pengurusan paspor akan dibuka per hari Jumat pukul 14.00, jadi rajin-rajin refresh aplikasinya biar nanti kebagian quota. Apa saja syarat dokumen yang dibutuhkan, semua diuraikan dengan lengkap di aplikasi, jadi semua serba mudah dan praktis. *Oh ya, karena saya tidak mengambil foto terkait pengurusan paspor, maka saya akan sisipkan foto-foto kenangan sejauh mana paspor lama tercinta telah membawa saya pergi.

Paspor lama saya masih banyak yang kosongnya. Ya iyalah ya, total ada 48 halaman. Ada perasaan haru dan mellow saat menatap paspor lama saya yang harus pensiun. Selama kurun waktu 5 tahun itu, saya hanya menggunakan paspor sebanyak 3 kali. Pertama kali saat ke Jepang di tahun 2016, kedua saat ke Thailand dan Malaysia di tahun 2017, dan terakhir saat ke Korea Selatan di tahun 2019. Tentu saja tadinya sudah ada angan-angan agar tahun 2020 bisa pakai paspor lagi minimal sekali lagi. Tapi kondisi sudah sangat tidak mendukung karena pandemik, sedih pastinya.

Nara Park di Jepang. Taman yang indah dan menenangkan.
Seru-seruan di Tokyo Disneysea

Saya sendiri tidak terlalu terobsesi untuk sering-sering ke luar negeri, selain karena keterbatasan dana, durasi cuti tahunan juga terbatas. Jadi, prinsip saya, sekali setahun bisa ke luar negeri sudah sangat-sangat-sangat bersyukur. Bagi saya, traveling ke luar negeri itu sangat bermakna karena bisa melihat dunia luar, bagaimana alam di sana, bagaimana budaya dan kebiasaan di negara orang, bagaimana berinteraksi dengan warga lokalnya, hingga mencoba berbagai makanan, hiburan, dan hal-hal menarik lainnya. Membayangkannya saja sudah bikin hati bahagia! Tak sabar bisa jalan-jalan lagi. Huhuhu.

Big Budha di Phuket, Thailand
Kawasan yang jadi lokasi shooting film The Beach yang dibintangi Leonardo Dicaprio di Phi Phi Islands, Thailand.

Jadi, tentu saja harapan dengan adanya paspor baru ini, saya bisa mengunjungi negara-begara baru di masa yang akan datang. Baik itu karena urusan pekerjaan, traveling bersama teman-teman, atau bahkan menang lomba berhadiah jalan-jalan lagi seperti 2 tahun lalu. Amin ya Tuhan *berdoa kencang

Cantiknya Pegunungan di Seoraksan, Korea Selatan.
Pulau Nami yang jadi lokasi shooting Winter Sonata. Ps: Saya senang sekali bisa capture suasana ini loh,
karena mirip poster drama Korea, hahaha

Semoga pandemik ini segera berlalu ya. Kalaupun tidak bisa selesai 100%, semoga saja ada sistem traveling baru yang tetap aman dan memudahkan para traveller sehingga tetap bisa jalan-jalan dengan menjalankan protokol kesehatan yang baik.  Jujur saja, badan kayak berasa sakit dan pegal karena hampir dua tahun tidak bisa jalan-jalan lagi. Traveling itu ampuh memberikan persepektif, energi, dan semangat baru buatku. Memang harusnya jangan menjadikan itu sebagai excuse, tapi tetap akan berbeda rasanya dan lebih bersemangat lagi apabila bisa jalan-jalan lagi. Semoga ya, amin!

Tahun 2020 yang Jungkir Balik

Seharusnya, tulisan ini lebih cocok jika dipublikasikan sebelum akhir tahun lalu. Tapi, akhir tahun lalu saya harus mengikuti berbagai rangkaian kegiatan keluarga yang cukup penting sembari masih menjalankan Work from Home. Saya sangat bersyukur bisa melewati tahun 2020 yang penuh tantangan. Tanpa saya rinci pun, masing-masing dari kita punya pergumulan tersendiri di tahun 2020. Semua berkaitan dengan pandemic Covid-19.

Sebagian besar waktu saya pada tahun 2020 habis di rumah saja, baik itu bekerja maupun menahan diri untuk tidak banyak beraktivitas di tempat-tempat ramai. Apakah banyak yang saya lewatkan? Tentu saja. Semua serba terbatas, banyak rencana yang ingin dilakukan terpaksa batal. Kecewa? Tentu ada rasa kecewa, tapi tetap harus bersyukur karena saat ini yang terutama adalah kesehatan diri kita sendiri dan keluarga yang kita cintai.

WFH situation

Saya tetap memandang tahun 2020 sebagai tahun yang penuh pengalaman. Oleh karena itu, saya akan merinci beberapa hal yang bisa saya golongkan kepada “best things in 2020”. Ini juga sebagai bentuk refleksi bagi saya agar tetap bersyukur, tetap semangat memperbaiki diri, dan terus melakukan yang terbaik ke depannya.

Jadi, beginilah kurang lebihnya:

Best Book : Dreams are Made of A Box OF Crayons by Naela Ali. Buku ini sangat relate dengan kehidupan saya. Apa yang diceritakan oleh Naela dalam bukunya, tentang kehidupan dan kebiasaan masa kecilnya serta mimpi-mimpinya secara garis besar hampir sama dengan yang saya miliki. Bedanya, Naela mewujudkannya, sementara saya meninggalkannya karena dulu saya masih terombang ambing dan tidak yakin mau jadi apa saat dewasa nanti. Tapi saya yakin tidak ada kata terlambat untuk meraih mimpi sejauh kita punya niat dan tekad yang kuat. Tentunya dengan berkat dari Tuhan.

Best Anime : Fugou Keiji Balance Unlimited. Saya sangat suka cerita tentang detektif yang penuh misteri dan tidak bisa ditebak jalan ceritanya. Apalagi dua pemeran utamanya, duo detektif Daisuke dan Haru punya chemistry yang sangat kuat.

Best Movie : Kimetsu No Yaiba Infinity Train. Ahh, perasaan saya campur aduk. Memang ini film anime, tapi plot dan pesan di dalamnya bukan kacangan.

Oh ya, salah satu yang asyik di 2020, Uniqlo merilis edisi khusus Kimetsu no Yaiba.

Best Song : Future by Red Velvet. Bukan karena saya suka K-Dram-nya, tapi karena lagu ini memang punya music yang enak didengar dan liriknya pun dalam, membuat yang mendengarnya menjadi semangat dan optimis akan masa depan. Plus, saya sangat suka girlband Red Velvet.

Best Sport Experience : Menonton langsung Proliga. Akhirnya, keinginan saya sejak zaman SMP bisa terpenuhi, Puji Tuhan. Menonton pertandingan voli paling bergengsi dengan level tertinggi di Indonesia memang memberikan pengalaman dan kesan berbeda jika ditonton langsung di stadion.

Best Writing Experience : Saat Natal kemari, salah satu fandom international yang saya ikuti membuat event, jadi saya harus menulis sebuah cerpen sesuai dengan clue yang diinginkan anggota yang lainnya. Hasil tulisan saya itu menjadi kado Natal bagi anggota lain yang dipilih secara acak. Ya, seperti acara tukar kado.

Best Work Experience : Ternyata Work from Home itu ada plus-minusnya ya. Pandemik mengharuskan kami work from home. Oh ya, selain itu saya juga lulus sebuah ujian di kantor, Puji Tuhan.

Best Moment : Kakak perempuan saya dapat melangsungkan pernikahannya meski di tengah pandemic dengan lancar dan aman. Oh ya, saya juga membantu jadi fotografer saat prewedding kakak saya, ternyata cukup seru. Selain itu, saya juga ternyata cukup berbakat, haha.

Ini aslinya di jalan umum tapi saat pagi jadi masih sepi

Prewedding no budget karena pakai smartphone saja.
Ini di pinggi jalan di kawasan Dago Pakar
Ini kuncinya di angle karena kolam yang brasa-biasa saja bisa terlihat unik.
Masih hasil ngulik angle, karena ini aslinya cuma jalan setapak biasa.

Best Place : Rumah yang penuh dengan keluarga tercinta.

Home Sweet Home

Best Gadget : Akhirnya harus ganti laptop karena laptop lama sudah tidak support, maklum usianya sudah 8 tahun. 

Best Trip : Pulang kampung saat Natal kemarin.

Hanya bisa mengucap Puji Tuhan

Oh ya, saat akan pulang kampung maupun sebelum akan kembali lagi ke perantauan, persiapan yang harus saya lakukan memang sangat berbeda dari sebelumnya. Saya harus test swab antigen di lab karena tidak memungkinkan mengantre di bandara dari subuh saat itu. Tapi demi Kesehatan keluarga, mengeluarkan uang lebih banyak dari biasanya juga tidak apa-apa. Ingat, kesehatan keluarga kita lebih mahal harganya. 

Saya tetap optimis tahun 2021 bisa lebih baik dari tahun sebelumnya. Salah satu resolusi saya di tahun 2021 adalah ingin lebih aktif berolahraga meskipun hanya di sekitar rumah saja. Selain itu, saya juga ingin lebih rajin memasak sendiri di rumah, jadi tidak sering-sering order makanan secara online lagi. Semoga bisa terlaksana. 

Tortila low budget
Jus jambs untuk 2021 yang lebih sehat

Semoga tahun 2021 kita lebih cerah dan lebih baik. Semoga semakin banyak prestasi dan kebaikan yang senantiasa menyertai kehidupan kita sehari-hari. Viva 2021!

Tuhan memberkati tahun 2021 yang penuh harapan. Amin

Explore Terakhir di Museum Macan Sebelum Era Pandemik Dimulai

Tidak terasa sudah bulan September saja ya. Kita sudah enam bulan menjalani era pandemik. Selama enam bulan ini, saya belum pernah meninggalkan kota kediaman saya. Selain pekerjaan juga lebih mendukung semua serba remote selagi memungkinkan, saya juga memilih tidak banyak jalan-jalan dulu. Apa tidak bosan dan stres? Oh tentu saja bosan. Bayangkan orang yang biasanya selalu exploring saat akhir pekan atau libur panjang jadi hanya stay at home atau paling tidak ke supermarket, tentu jenuh. Tapi ini adalah pilihan. Sampai stres kah? Puji Tuhan, tidak stres. Mungkin karena pada dasarnya saya orang yang menyadari “segala hal ada waktunya” jadi saya selalu menjalani apapun itu dengan lebih ikhlas.

Saya menghabiskan waktu libur panjang dengan membaca, menonton, atau surfing internet. Secara nature saya adalah seorang introverted, jadi saya sangat menikmati saat-saat di rumah saja. Meskipun begitu, saya juga punya sisi yang suka mengeksplor hal-hal yang menggugah keingintahuan saya. Bisa dikatakan saya punya rasa ingin tahu yang cukup tinggi. Saya ingin melihat, mendengar, dan merasakan sendiri secara langsung hal-hal yang sebelumnya hanya bisa saya baca atau tonton. Itulah salah satu yang menjadi fondasi kenapa saya sangat cinta traveling.

Salah satu hal yang biasa saya lakukan adalah melihat kembali foto-foto perjalanan dan sesekali menulis pengalaman perjalanan tersebut. Seperti ini, tepat enam bulan lalu sebelum pandemik tiba di Indonesia, saya masih sempat exploring salah satu museum kontemporer yang sudah cukup terkenal di Jakarta. Ini pertama kalinya saya datang ke museum ini.

Pintu masuk museum.

Nama museumnya yakni Museum Macan. Sepertinya sudah tidak asing lagi ya. Saya beli tiketnya H-2 via aplikasi Tiket.com karena kebetulan ada promo juga saat itu. Waktu iyu harga tiketnya Rp100.000 per orang dewasa.

Salah satu penyambut di pintu masuk.

Untuk lokasi Museum Macan, kalian sangat mudah menemukannya menggunakan maps, jadi rasanya saya tidak akan menjelaskan panjang lebar ya. Saya akan bercerita tentang apa yang saya rasakan saat pertama kali main ke Museum Macan.

Saat ke sana, beruntung sekali karena bertepatan dengan exhibition Melati Suryodarmo. Kalau kalian pernah lihat video clip Tulus yang berjudul Ruang Sendiri, nah model dalam video clip itu adalah Melati Suryodarmo.

Melati Suryadarmo.

Dia adalah seorang seniman Performance Arts. Jujur, aliran seni yang dia pertunjukkan merupakan hal baru bagi saya pribadi. Mungkin banyak orang di luar sana sudah familiar dengan seni aliran ini, tapi bagi saya, ini adalah dunia yang baru.

Melati tengah mempertunjukkan karyanya “I’m A Ghost in My Own House”

Maka, beruntung sekali rasanya saat diperkenalkan dengan aliran ini dengan langsung menyaksikan salah satu pertunjukan yang dibawakan salah satu seniman terkenal. Saat itu, Melati tengah mempertunjukkan sebuah karya seni yang berjudul “I’m A Ghost in My Own House” yang pertama kali dia pertunjukkan tahun 2012. Karya performans ini dia bawakan dalam durasi 12 jam dan melibatkan ratusan kilogram arang. Melati menggiling arang berulang-ulang sampai tangan dan bajunya yang putih kontras menjadi sama hitam dengan arang.

Karya Melati yang berjudul “The Black Ball”

Setelah melihat hasil-hasil karyanya yang lain, saya jadi tahu bahwa Melati lebih banyak melakukan pertunjukan seni di luar negeri. hasil karyanya lebih banyak menggunakan pemaknaan melalui berbagai gerakan tubuhnya, ekspresi wajahnya, pakaian, dan peralatan pendukung lainnya. Benar-benar hal baru bagi saya.

Salah satu spot karya Melati.

Selain pertunjukan Melati, salah satu yang berkesan bagi saya adalah instalasi Yayoi Kusama yang bernama “Infinity Mirrors Room” yang tentunya sudah sangat marak diunggah di berbagai social media oleh para traveler.

Infinity Mirrors Room karya Yayoi Kusama.

Karya seni ini berupa ruangan cermin dengan ratusan gantungan bulat berwarna-warni. Cermin di seluruh sisi ruangan ini memberikan efek optis sehigga membuat kita terasa berada di ruangan tak terbatas, sesuai namanya. Uniknya, sekali masuk ke dalam ruangan, hanya diperbolehkan maksimal dua orang dengan waktu dibatasi kurang dari 30 detik per sekali masuk. Hati-hati terhadap instalasi saat berada di dalam ya.

Benar-benar terasa sureal.

Sebenarnya masih banyak instalasi terkenal Yayoi Kusama, salah satunya Labu Kuning Polkadot tapi saat itu si labu kuning tidak ada di Museum Macan. Saya jadi terbersit untuk bisa melihat karya-karya Yayoi Kusama yang lainnya. Setelah baca-baca, banyak karya Yayoi yang dipamerkan di salah satu museum di Jepang. Hmmm, semoga bisa ke sana suatu saat dan melihat karya-karya kontemporernya yang lengkap.

Yayoi Kusama merupakan salah satu seniman perempuan terkenal di dunia. Apalagi karya-karyanya dinilai out of the box. Karya-karyanya merupakan salah satu bentuk terapi baginya karena ternyata dia mengidap beberapa gangguan mental sejak kecil. Hasil-hasil karya itu merupakan caranya untuk mewujudkan ekspresi dari apa yang ia alami dan rasakan saat mengalami halusinasi sebagai dampak dari gangguan mentalnya. Wah, dalam sekali bukan?

Karya seni di lantai yang berbeda.

Saya adalah penggemar museum, jadi kadang saya mengunjungi museum hanya sendiri atau mengajak orang yang benar-benar senang dengan museum juga. Ini karena tidak semua orang betah atau sabar untuk berada di ruangan dengan hanya mengamati dan membaca. Jika bersama orang yang tidak kerasan berada di dalam museum seperti itu, yang ada malah kita tidak bisa menikmati hasil-hasil karya yang sedang dipajangkan. Jadi, itu juga salah satu hal penting menurut saya saat ingin mengunjungi museum.

Bagiku, seni adalah salah satu cara untuk mengekspresikan hidup secara bebas.

Merayakan Hari Kemerdekaan Sambil Nostalgia

Pandemik membuat perayaan Hari Kemerdekaan tahun ini jadi sangat berbeda. Tidak ada upacara maupun acara semarak khas 17 Agustus-an. Saya pun tidak kemana-mana kali ini. Dulu saya selalu explore ke berbagai daerah di Indonesia saat jelang 17 Agustus-an, entah itu gunung ataupun pantai.

Meskipun tahun ini libur cukup lebih panjang dibanding dulu, tapi untuk saya pribadi masih mengurungkan keinginan untuk pergi-pergi kecuali sangat urgen. Kebutuhan dan kondisi setiap orang tentu berbeda-beda, termasuk kebutuhan untuk bepergian di momen seperti sekarang ini.

Karena tidak kemana-mana, saya memutuskan untuk mengulas beberapa tempat di Indonesia yang menurut saya sangat pantas dimasukkan di daftar keinginan untuk dikunjungi setidaknya sekali seumur hidup. Kalau bisa berulang kali malah lebih bagus. Apalagi, saya baru tahu setelah beberapa kali explore bahwa panorama alam di satu tempat akan sangat berbeda saat musik kemarau dan musim hujan. Jadi, jika ada kesempatan dan rejeki, saya juga berkeinginan mengunjungi tempat yang sudah pernah saya kunjungi di musim yang berbeda.

Nah, ini tempat-tempat yang entah kenapa terngiang di ingatan saya di momen menjelang perayaan 17 Agustus tahun ini.

  • Mangunan, Yogyakarta

Pertama kali ke Mangunan, Yogyakarta saya lakukan di Agustus 2015. Waktu itu sedang musim kemarau. Mangunan merupakan sebuah kawasan wisata di ketinggian di Yogyakarta. Kondisinya cukup sejuk karena saat itu masih dikelilingi banyak bukit dan pepohonan.

Mangunan terkenal dengan pemandangan bukit yang berkelok unik. Saat pertama kali datang, sungai yang mengisi kelokan itu sedang kering dan bukitnya pun tidak hijau. Namun, saat saya datang untuk kedua kalinya pada Februari 2016, situasinya sangat berbeda. Bukitnya sangat hijau dan sungainya mengalir.

Mangunan saat pertama kali saya kunjungi di musim Kemarau 2015.
Kali kedua ke Mangunan, saat musim hujan 2016. Sangat berbeda kan dengan foto sebelumnya?

Satu yang belum kesampaian tentang Mangunan ini adalah mengunjunginya saat matahari terbit. Saya sudah melihat beberapa foto di instagram para pejalan lainnya. Saat subuh, kelokan bukti itu akan dipenuhi embun tebal bagaikan awan rendah. Entahlah, rasanya saya harus melihatnya sendiri. Semoga kesampaian ya suatu saat nanti. Amin.

  • Wayag, Raja Ampat, Papua Barat

Saya bersyukur, jauh sebelum pandemik, tepatnya akhir Juli 2017, saya berkesempatan mengunjungi salah satu surga wisata Indonesia, yakni Raja Ampat. Dari beberapa spot yang sempat saya datangi saat itu, salah satunya adalah Wayag. Bukan rahasia lagi kalau Wayag terkenal dengan pemandangan lautnya yang indah dengan gradasi wana biru dan hijau dihiasi dengan bukit-bukit yang ditumbuhi mangrove. Sangat indah.

Wayag, Raja Ampat

Saya ingat, untuk menyaksikan pemandangan itu butuh pendakian ke puncik bukit yang cukup tinggi. Tidak begitu berat, tapi bukitnya terdiri dari batuan yang cukup tajam. Jadi sangat penting untuk mempersiapkan stamina dan perlengkapan seperti sepatu tracking dan sarung tangan. Ingat, paling penting adalah keselamatan.

Pemandangan setelah mendaki bukit yang cukup tajam.

Saya baru sekali ke Raja Ampat dan itu saat Juli yang notabene musim kemarau. Sejujurnya, saya penasaran juga bagaimana pemandangan alam Raja Ampat di musim yang berbeda. Namun, mengingat medan menuju Raja Ampat harus mengarungi lautan yang kondisinya sangat tergantung dengan cuaca, maka menurut pemandu yang mendampingi kami dulu, waktu terbaik memang di musim saat curah hujan tidak tinggi.

Batu indah yang bertebaran di salah satu pantai di Wayag.
  • Gili Lawa Darat, Flores, NTT

Daerah di Indonesia Timur yang pertama kali saya sentuh adalah Nusa Tenggara Timur. Saya sangat berterimakasih kepada Tuhan karena memberikans aya kesempatan dan keberanian untuk melakukan berbagai perjalanan yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Selama 4 hari 3 malam saya melakukan momen yang tak akan saya lupakan seumur hidup yakni Sailing Komodo. Saya tinggal di kapal di tengah laut dan mengarungi lautan setiap harinya. Kami mengunjungi pulau-pulau, tracking ke bukit-bukit, snorkeling, bermain di pantai, hunting foto, dan yang paling penting adalah menikmati pemandangan yang sangat sangat sangat indah.

Pemandangan matahari terbenam yang indah setiap harinya selama Sailing Komodo.

Salah satu pulau yang kami kunjungi saat itu adalah Gili Lawa Darat. Pulau ini terkenal dengan bukit-bukitnya yang indah dan pertemuan dua cekungan ujung pulau yang sangat unik dan indah. Kenapa pulau ini sangat membekas? Karena pada 2 tahun lalu, pulau ini akhirnya ditutup bahkan hingga saat ini.

Indahnya Gili Lawa Darat.

Tidak ada lagi kunjungan ke pulau ini sampai ada pemberitahuan lebih lanjut dari otoritas setempat. Pulau indah ini sedang menyembuhkan dirinya setelah kebakaran dahsyat pada 2 tahun lalu. Berita kebakaran ini cukup ramai di media massa dan online saat itu. Asli, saya sangat sedih saat tahu pulau indah ini sedang terkena kebakaran.

Menikmati pemandangan Gili Lawa Darat dari salah satu sisi bukit.

Ya, saya sangat ingin datang ke pulau ini suatu saat nanti di musim yang berbeda. Dulu saya datang saat kemarau dan bukitnya sangat indah berwarna keemasan karena rumput yang mulai mengering. Nah, saya tentu penasaran saat musim hujan bagaimana indahnya pulau ini. Pastinya rerumputan hijau bak karpet akan menutupi permukaan pulau. Cepat sembuh Gili Lawa Darat!

Membayangkan bukit ini saat musim hujan pasti bak karpet hijau membentang.

Ketiga tempat itulah yang tidak tahu kenapa sering terlintas di benak saya beberapa hari belakangan ini. Saya penasaran ingin menemukan, kenapa tiga tempat itu selalu terngiang-ngiang di pikiran saya. Bagaimana dengan teman-teman? Apakah ada tradisi mengunjungi tempat baru di bulan Agustus? Adakah yang sudah mulai melakukan perjalanan lagi? Yuk ceritakan di kolom komentar ya!

Selamat memperingati hari kemerdekaan, teman-teman! Selamat ulang tahun Indonesiaku! Indonesia yang alamnya indah mempesona. Dirgahayu bangsaku!

Haikyuu, I Owe You

Tak terasa sudah akhir bulan Juli saja. Saya baru sadar kalau selama Juni kemarin tak ada tulisan baru di blog ini. Jujur, saya punya materi tulisan terkait traveling sebenarnya tapi saya khawatir itu akan dianggap mendorong pembaca untuk melakukan perjalanan atau exploring. Sementara, saya pribadi masih sangat menjunjung yang namanya stay at home selama masa pandemik ini. meskipun berbagai protokol terkait COVID-19 sudah diterapkan, tapi saya rasa beraktivitas di rumah masih jauh lebih aman dan sehat. Kalau tidak benar-benar mendesak, saya tidak akan beraktivitas di lokasi yang banyak dilalui atau dikunjungi orang.

Namun, saya juga jadi berpikir. Hal itu harusnya tidak boleh menjadi alasan untuk tidak menulis atau update blog. Saya bisa menulis apa saja selain traveling atau pengalaman perjalanan. Meskipun  tema besar blog saya memang tidak jauh-jauh dari traveling. Kemudian, pertengahan Juli 2020 kemarin menjadi momen yang istimewa dan membuat saya ingin menulis lagi tentang impian untuk berkelana suatu saat nanti jika situasi sudah aman dan memungkinkan.

Berawal dari manga Haikyuu karya Haruichi Furudate-Sensei yang akan memasuki chapter terakhirnya. Sensei menunjukkan beberapa karakter dalam manganya berkelana ke berbagai negara untuk mengejar impian mereka masing-masing. Oikawa Tooru yang bergabung dengan sebuah klub voli di Argentina, Yaku Morisuke di Rusia, Hinata Shouyou yang dua kali berkelana ke Brazil (pertama kali untuk berlatih, kedua kali untuk bergabung dengan klub voli Brazil sebagai atlet profesional), Kageyama Tobio di Italia, dan Ushikawa Wakatoshi di Polandia. Selain sebagai atlet, ada juga karakter lain yang berkelana untuk sekolah atau pendidikan. Sebelumnya, ada Iwaizumi Hajime yang melanjutkan kuliah ke California, Amerika Serikat dan akhirnya menjadi pelatih atlet Timnas Jepang, dan Satori Tendou yang belajar mengenai dunia cokelat di Amerika dan terakhir diceritakan bekerja di Paris, Prancis.

Satori Tendou and his journey.
Since we didn’t see a picture of Yaku-San in Russia, so i put this instead.

Salah satu karakter kesukaanku yakni Nishinoya Yuu bahkan secara jelas dan ekstrem meninggalkan negaranya demi berkelana yang “benar-benar” berkelana. Dia begitu bahagia dan bebas saat menangkap ikan di Italia lalu menikmati berkelana ke Mesir bersama Asahi. Mereka menunjukkan bahwa ada kalanya kita benar-benar tidak bisa terus diam di satu tempat yang sama untuk selamanya jika kita ingin sesuatu yang baru dan menjadi lebih baik dalam hidup.

He is literally a “Libero”
They’re in Egypt!!

Begitu juga dengan apa yang saya rasakan selama melakukan traveling beberapa tahun terakhir. Melakukan perjalanan bukan tentang pamer pernah jalan-jalan ke suatu tempat. Tapi lebih kepada menemukan sisi diri kita yang baru, yang ternyata tersembunyi yang selama ini tidak kita sadari. Kita kadang harus meninggalkan cubicle yang sudah terlalu familiar dan nyaman untuk menemukannya.

Bagi yang sudah membaca blog saya sejak awal, pasti tahu kalau saya sangat menyukai anime dan manga. Jadi, saya ingin menutup bulan Juli yang indah ini dengan merekomendasikan pembaca saya untuk membaca manga Haikyuu atau menonton animenya. Awalnya, saya menyukai Haikyuu karena saya rindu dengan dunia voli yang dulu saya gemari saat SMP dan SMA. Tapi saya jatuh cinta dengan ceritanya, terutama tentang perjuangan dan perjalanan seluruh karakternya dalam menemukan jati diri dan impian mereka.

Paling spesial adalah perjalanan Hinata. Di awal diceritakan bahwa Hinata memiliki talenta dan bekal tapi dia belum menyadari dan kurang mengembangkannya. Banyak faktor dan keterbatasan yang membuat hal tersebut terjadi. Tapi, saat dia sudah diberi kebebasan untuk memilih, dia memilih mengalahkan kenyamanannya dan berjuang untuk menjadi versi terbaik dirinya. Awalnya, dia sosok yang mudah cemas, gugup, bicara tidak jelas, percaya diri yang tak berdasar, bahkan penakut untuk situasi tertentu. Tapi, Brazil membuatnya menjadi sosok yang berbeda.

This baby defeated his fear and embraced his weakness.
He learned so much in Brazil.

Dan ya, seperti biasa. Setiap film atau buku (atau manga) yang saya nikmati pada akhirnya mendorong saya untuk kembali melakukan perjalanan. Tentunya saat situasi sudah aman dan memungkinkan. Saya ingin kembali lagi ke Jepang, terutama Sendai dan Iwate, di Miyagi karena hampir sebagian besar cerita Haikyuu berlatar di daerah tersebut. Bahkan tempat-tempat yang ada di animenya benar-benar berlatar lokasi yang ada di dunia nyata. Salah satu wishlist saya adalah bisa berfoto di depan Sendai Kamei Arena dengan memakai jersey Karasuno, Amin.

Satu hal lagi, saat chapter terakhir dirilis, semua penggemar tahu kalau Oikawa Tooru akhirnya menjadi warga negara Argentina dan menjadi atlet nasional di sana. Dia bermain untuk klub di San Juan. Kebetulan saya memiliki seorang teman warga negara Argentina dan tinggal di Buenos Aires. Dia bercerita bahwa San Juan merupakan privinsi dengan pesona alamnya yang indah. San Juan terkenal dengan bukit-bukitnya dan wine di sana sangat luar biasa. Aduh, jadi tambah saja list tempat yang semoga suatu saat bisa saya kunjungi. Saya pun penasaran dan segera googling, ternyata memang seindah itu.

Oikawa and his new life in Argentina.

Ya, pada akhirnya inspirasi bisa datang dari mana saja dan muncul di mana saja. Bagi saya, apapun inspirasinya dan dari mana pun asalnya, tak tahu kenapa selalu berujung dengan munculnya semangat untuk menemukan sisi diri saya yang lain dengan melakukan perjalanan. Meskipun menemukan sisi diri yang lain tidak melulu harus traveling apalagi pada kondisi seperti sekarang ini. Saya juga orang yang berprinsip bahwa masing-masing orang punya cara, jalan, dan waktunya sendiri.

Jadi, jangan pernah berhenti melakukan “perjalanan” karena makna sebenarnya dari perjalanan itu sangatlah luas. Stay safe dan selamat memasuki bulan Agustus! Beberapa image/art di artikel ini adalah sebagian dari perjalanan karakter Haikyuu yang menginspirasi saya. Jujur, banyak sekali gambar/arts yang menginspirasi tapi ini beberapa pilihan yang cukup mewakili. (All of arts belong to Haruichi Furudate-Sensei).

Who is my favorite character of Haikyuu? All of Them!!!

Haru for Flower Power

Sejauh ini, saya baru pernah mendatangi dua negara dengan empat musim, yakni Jepang dan Korea Selatan. Dari empat musim yang ada di negara subtropis, saya paling suka musim semi alias musim dimana bunga-bunga bermekaran saling adu siapa yang memiliki mahkota paling cantik.

Musim semi di Hakodate, Hokkaido, Jepang.

Saat saya bepergian ke Jepang dan Korea, dua-duanya saya lakukan di bulan Mei. Ya, bulan Mei bisa dikatakan sebagai puncak musim semi di dua negara ini. Bunga-bunga sakura bermekaran dan bunga-bunga lainnya juga tidak kalah cantiknya.

Sakura putih.

Di Jepang, musim semi disebut dengan Haru. Hmmm, pantas ya salah satu karakter utama di Fugou Keiji: Balance Unlimited yang lahir di tanggal 2 Mei itu bernama Haru Katou. Ya, karena mantan Letnan Detektif dari Divisi Pertama itu lahir saat musim semi. Biasanya, orang yang lahir saat musim semi selalu ceria, santai, dan bersemangat. Itu juga yang sering ditunjukkan Inspektur Katou, meski tampaknya kesalahan di masa lalu saat di divisi lamanya membuatnya jadi orang yang serba serius. Oke, cukup membahas Detektif Haru, hahaha (maklum, demam FKBU).

Meskipun lahir di masa musim gugur, saya sangat menyukai musim semi.

Bicara tentang musim semi di Jepang pasti identik dengan bunga Sakura. Tapi, di Korea Selatan pun ada banyak bunga sakura seperti halnya di Jepang. Hal karena musim dan cuaca di kedua negara itu hampir sama persis. Tapi, menikmati keindahan bunga Sakura memang paling nikmat di negara Jepang, apalagi jika bisa berbaur bersama warga lokal melakukan tradisi Hanami.

Hanami, piknik bersama keluarga dan teman menikmati bunga sakura yang bermekaran.

Tentu pernah lihat kan di berbagai anime ada kebiasaan unik saat musim semi yakni piknik menikmati bunga sakura dengan menghamparkan tikar, membawa berbagai bekal makanan dan minuman, bernyanyi dan menari bersama sambil menikmati bunga sakura bermekaran? Nah, itulah yang disebut dengan tradisi Hanami bagi masyarakat Jepang.

Semoga bisa menikmati Hanami lagi dalam waktu dekat, amin.

Cara menikmati bunga sakura yang tak kalah asyik, apalagi bagi non warga Jepang adalah memakai kimono/yukata lengkap dengan aksesorisnya sambil berjalan santai di bawah pohon sakura. Layaknya gadis-gadis Jepang yang biasa ditunjukkan di berbagai film dan anime.

Impian untuk memakai kimono di bawah bunga sakura di Jepang akhirnya tercapai.

Nah, untuk di negara Korea sendiri, saya belum begitu mendalami apakah ada tradisi menikmati bunga di musim semi yang khusus seperti di Jepang.

Saat musim semi di Korea, kurang tahu apa nama bunga ini, tapi cantik langsung cekrek deh.

Untuk tahun ini karena wabah Covid-19, pemerintah Jepang meniadakan aktivitas Hanami. Tentu saja Hanami berpotensi jadi ajang berkumpul banyak orang yang sangat dihindari sepanjang pandemik masih berlangsung. Keselamatan dan kesehatan banyak orang tentu lebih utama. Tradisi kekeluargaan dan kebersamaan seperti Hanami masih bisa dinikmati di tahun-tahun mendatang.

Oke, mengakhiri bulan Mei ini, akan terasa lengkap rasanya dengan mengupload kembali beberapa foto-foto selama musim semi di Jepang dan Korea Selatan.

Pertama kali lihat bunga tulip tumbuh di taman di Gotemba, Jepang.
Kedua kalinya melihat bunga tulip tumbuh di taman, di Seoul, Korea Selatan.
Bunga-bunga di Monumen Peringatan Bom Atom Hiroshima, Jepang
Tampak depan monumen.
Sekilas, bunga yang sama ada di Nami Island, Korea Selatan juga.

Ini juga bagai penyemangat bagi saya, bahwa di tengah ketidakpastian hidup dan kegundahan akan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, kita tetap bisa menikmati harihari dengan melihat hal positif dan keindahan yang diberikan Tuhan di sekitar. Salah satunya dengan keindahan bunga-bunga. Tuhan saja merawat bunga-bunga yang tumbuh liar di berbagai tempat, apalagi kita manusia yang merupakan ciptaan yang Dia kasihi dan banggakan, pasti Tuhan akan merawat dan menjaga kita. Amin.

Hwaiting!!! Bunga-bunga cantik di perumahan warga di Seoul.
Bunga yang mirip juga ada di Stasiun Himeiji, di Jepang.
Salah satu kegemaran saya saat traveling, foto bunga-bunga.

Tentu seperti biasa, saya tetap berharap bisa merasakan musim semi di berbagai negara lainnya, yang terkenal dengan bunga-bunganya yang indah. Belanda, Swiss, Turki, New Zealand, Kanada, dan negara-negara lainnya. Amin.

Bunga-bunga di Taman Disneysea, Tokyo