Explore Terakhir di Museum Macan Sebelum Era Pandemik Dimulai

Tidak terasa sudah bulan September saja ya. Kita sudah enam bulan menjalani era pandemik. Selama enam bulan ini, saya belum pernah meninggalkan kota kediaman saya. Selain pekerjaan juga lebih mendukung semua serba remote selagi memungkinkan, saya juga memilih tidak banyak jalan-jalan dulu. Apa tidak bosan dan stres? Oh tentu saja bosan. Bayangkan orang yang biasanya selalu exploring saat akhir pekan atau libur panjang jadi hanya stay at home atau paling tidak ke supermarket, tentu jenuh. Tapi ini adalah pilihan. Sampai stres kah? Puji Tuhan, tidak stres. Mungkin karena pada dasarnya saya orang yang menyadari “segala hal ada waktunya” jadi saya selalu menjalani apapun itu dengan lebih ikhlas.

Saya menghabiskan waktu libur panjang dengan membaca, menonton, atau surfing internet. Secara nature saya adalah seorang introverted, jadi saya sangat menikmati saat-saat di rumah saja. Meskipun begitu, saya juga punya sisi yang suka mengeksplor hal-hal yang menggugah keingintahuan saya. Bisa dikatakan saya punya rasa ingin tahu yang cukup tinggi. Saya ingin melihat, mendengar, dan merasakan sendiri secara langsung hal-hal yang sebelumnya hanya bisa saya baca atau tonton. Itulah salah satu yang menjadi fondasi kenapa saya sangat cinta traveling.

Salah satu hal yang biasa saya lakukan adalah melihat kembali foto-foto perjalanan dan sesekali menulis pengalaman perjalanan tersebut. Seperti ini, tepat enam bulan lalu sebelum pandemik tiba di Indonesia, saya masih sempat exploring salah satu museum kontemporer yang sudah cukup terkenal di Jakarta. Ini pertama kalinya saya datang ke museum ini.

Pintu masuk museum.

Nama museumnya yakni Museum Macan. Sepertinya sudah tidak asing lagi ya. Saya beli tiketnya H-2 via aplikasi Tiket.com karena kebetulan ada promo juga saat itu. Waktu iyu harga tiketnya Rp100.000 per orang dewasa.

Salah satu penyambut di pintu masuk.

Untuk lokasi Museum Macan, kalian sangat mudah menemukannya menggunakan maps, jadi rasanya saya tidak akan menjelaskan panjang lebar ya. Saya akan bercerita tentang apa yang saya rasakan saat pertama kali main ke Museum Macan.

Saat ke sana, beruntung sekali karena bertepatan dengan exhibition Melati Suryodarmo. Kalau kalian pernah lihat video clip Tulus yang berjudul Ruang Sendiri, nah model dalam video clip itu adalah Melati Suryodarmo.

Melati Suryadarmo.

Dia adalah seorang seniman Performance Arts. Jujur, aliran seni yang dia pertunjukkan merupakan hal baru bagi saya pribadi. Mungkin banyak orang di luar sana sudah familiar dengan seni aliran ini, tapi bagi saya, ini adalah dunia yang baru.

Melati tengah mempertunjukkan karyanya “I’m A Ghost in My Own House”

Maka, beruntung sekali rasanya saat diperkenalkan dengan aliran ini dengan langsung menyaksikan salah satu pertunjukan yang dibawakan salah satu seniman terkenal. Saat itu, Melati tengah mempertunjukkan sebuah karya seni yang berjudul “I’m A Ghost in My Own House” yang pertama kali dia pertunjukkan tahun 2012. Karya performans ini dia bawakan dalam durasi 12 jam dan melibatkan ratusan kilogram arang. Melati menggiling arang berulang-ulang sampai tangan dan bajunya yang putih kontras menjadi sama hitam dengan arang.

Karya Melati yang berjudul “The Black Ball”

Setelah melihat hasil-hasil karyanya yang lain, saya jadi tahu bahwa Melati lebih banyak melakukan pertunjukan seni di luar negeri. hasil karyanya lebih banyak menggunakan pemaknaan melalui berbagai gerakan tubuhnya, ekspresi wajahnya, pakaian, dan peralatan pendukung lainnya. Benar-benar hal baru bagi saya.

Salah satu spot karya Melati.

Selain pertunjukan Melati, salah satu yang berkesan bagi saya adalah instalasi Yayoi Kusama yang bernama “Infinity Mirrors Room” yang tentunya sudah sangat marak diunggah di berbagai social media oleh para traveler.

Infinity Mirrors Room karya Yayoi Kusama.

Karya seni ini berupa ruangan cermin dengan ratusan gantungan bulat berwarna-warni. Cermin di seluruh sisi ruangan ini memberikan efek optis sehigga membuat kita terasa berada di ruangan tak terbatas, sesuai namanya. Uniknya, sekali masuk ke dalam ruangan, hanya diperbolehkan maksimal dua orang dengan waktu dibatasi kurang dari 30 detik per sekali masuk. Hati-hati terhadap instalasi saat berada di dalam ya.

Benar-benar terasa sureal.

Sebenarnya masih banyak instalasi terkenal Yayoi Kusama, salah satunya Labu Kuning Polkadot tapi saat itu si labu kuning tidak ada di Museum Macan. Saya jadi terbersit untuk bisa melihat karya-karya Yayoi Kusama yang lainnya. Setelah baca-baca, banyak karya Yayoi yang dipamerkan di salah satu museum di Jepang. Hmmm, semoga bisa ke sana suatu saat dan melihat karya-karya kontemporernya yang lengkap.

Yayoi Kusama merupakan salah satu seniman perempuan terkenal di dunia. Apalagi karya-karyanya dinilai out of the box. Karya-karyanya merupakan salah satu bentuk terapi baginya karena ternyata dia mengidap beberapa gangguan mental sejak kecil. Hasil-hasil karya itu merupakan caranya untuk mewujudkan ekspresi dari apa yang ia alami dan rasakan saat mengalami halusinasi sebagai dampak dari gangguan mentalnya. Wah, dalam sekali bukan?

Karya seni di lantai yang berbeda.

Saya adalah penggemar museum, jadi kadang saya mengunjungi museum hanya sendiri atau mengajak orang yang benar-benar senang dengan museum juga. Ini karena tidak semua orang betah atau sabar untuk berada di ruangan dengan hanya mengamati dan membaca. Jika bersama orang yang tidak kerasan berada di dalam museum seperti itu, yang ada malah kita tidak bisa menikmati hasil-hasil karya yang sedang dipajangkan. Jadi, itu juga salah satu hal penting menurut saya saat ingin mengunjungi museum.

Bagiku, seni adalah salah satu cara untuk mengekspresikan hidup secara bebas.

Merayakan Hari Kemerdekaan Sambil Nostalgia

Pandemik membuat perayaan Hari Kemerdekaan tahun ini jadi sangat berbeda. Tidak ada upacara maupun acara semarak khas 17 Agustus-an. Saya pun tidak kemana-mana kali ini. Dulu saya selalu explore ke berbagai daerah di Indonesia saat jelang 17 Agustus-an, entah itu gunung ataupun pantai.

Meskipun tahun ini libur cukup lebih panjang dibanding dulu, tapi untuk saya pribadi masih mengurungkan keinginan untuk pergi-pergi kecuali sangat urgen. Kebutuhan dan kondisi setiap orang tentu berbeda-beda, termasuk kebutuhan untuk bepergian di momen seperti sekarang ini.

Karena tidak kemana-mana, saya memutuskan untuk mengulas beberapa tempat di Indonesia yang menurut saya sangat pantas dimasukkan di daftar keinginan untuk dikunjungi setidaknya sekali seumur hidup. Kalau bisa berulang kali malah lebih bagus. Apalagi, saya baru tahu setelah beberapa kali explore bahwa panorama alam di satu tempat akan sangat berbeda saat musik kemarau dan musim hujan. Jadi, jika ada kesempatan dan rejeki, saya juga berkeinginan mengunjungi tempat yang sudah pernah saya kunjungi di musim yang berbeda.

Nah, ini tempat-tempat yang entah kenapa terngiang di ingatan saya di momen menjelang perayaan 17 Agustus tahun ini.

  • Mangunan, Yogyakarta

Pertama kali ke Mangunan, Yogyakarta saya lakukan di Agustus 2015. Waktu itu sedang musim kemarau. Mangunan merupakan sebuah kawasan wisata di ketinggian di Yogyakarta. Kondisinya cukup sejuk karena saat itu masih dikelilingi banyak bukit dan pepohonan.

Mangunan terkenal dengan pemandangan bukit yang berkelok unik. Saat pertama kali datang, sungai yang mengisi kelokan itu sedang kering dan bukitnya pun tidak hijau. Namun, saat saya datang untuk kedua kalinya pada Februari 2016, situasinya sangat berbeda. Bukitnya sangat hijau dan sungainya mengalir.

Mangunan saat pertama kali saya kunjungi di musim Kemarau 2015.
Kali kedua ke Mangunan, saat musim hujan 2016. Sangat berbeda kan dengan foto sebelumnya?

Satu yang belum kesampaian tentang Mangunan ini adalah mengunjunginya saat matahari terbit. Saya sudah melihat beberapa foto di instagram para pejalan lainnya. Saat subuh, kelokan bukti itu akan dipenuhi embun tebal bagaikan awan rendah. Entahlah, rasanya saya harus melihatnya sendiri. Semoga kesampaian ya suatu saat nanti. Amin.

  • Wayag, Raja Ampat, Papua Barat

Saya bersyukur, jauh sebelum pandemik, tepatnya akhir Juli 2017, saya berkesempatan mengunjungi salah satu surga wisata Indonesia, yakni Raja Ampat. Dari beberapa spot yang sempat saya datangi saat itu, salah satunya adalah Wayag. Bukan rahasia lagi kalau Wayag terkenal dengan pemandangan lautnya yang indah dengan gradasi wana biru dan hijau dihiasi dengan bukit-bukit yang ditumbuhi mangrove. Sangat indah.

Wayag, Raja Ampat

Saya ingat, untuk menyaksikan pemandangan itu butuh pendakian ke puncik bukit yang cukup tinggi. Tidak begitu berat, tapi bukitnya terdiri dari batuan yang cukup tajam. Jadi sangat penting untuk mempersiapkan stamina dan perlengkapan seperti sepatu tracking dan sarung tangan. Ingat, paling penting adalah keselamatan.

Pemandangan setelah mendaki bukit yang cukup tajam.

Saya baru sekali ke Raja Ampat dan itu saat Juli yang notabene musim kemarau. Sejujurnya, saya penasaran juga bagaimana pemandangan alam Raja Ampat di musim yang berbeda. Namun, mengingat medan menuju Raja Ampat harus mengarungi lautan yang kondisinya sangat tergantung dengan cuaca, maka menurut pemandu yang mendampingi kami dulu, waktu terbaik memang di musim saat curah hujan tidak tinggi.

Batu indah yang bertebaran di salah satu pantai di Wayag.
  • Gili Lawa Darat, Flores, NTT

Daerah di Indonesia Timur yang pertama kali saya sentuh adalah Nusa Tenggara Timur. Saya sangat berterimakasih kepada Tuhan karena memberikans aya kesempatan dan keberanian untuk melakukan berbagai perjalanan yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Selama 4 hari 3 malam saya melakukan momen yang tak akan saya lupakan seumur hidup yakni Sailing Komodo. Saya tinggal di kapal di tengah laut dan mengarungi lautan setiap harinya. Kami mengunjungi pulau-pulau, tracking ke bukit-bukit, snorkeling, bermain di pantai, hunting foto, dan yang paling penting adalah menikmati pemandangan yang sangat sangat sangat indah.

Pemandangan matahari terbenam yang indah setiap harinya selama Sailing Komodo.

Salah satu pulau yang kami kunjungi saat itu adalah Gili Lawa Darat. Pulau ini terkenal dengan bukit-bukitnya yang indah dan pertemuan dua cekungan ujung pulau yang sangat unik dan indah. Kenapa pulau ini sangat membekas? Karena pada 2 tahun lalu, pulau ini akhirnya ditutup bahkan hingga saat ini.

Indahnya Gili Lawa Darat.

Tidak ada lagi kunjungan ke pulau ini sampai ada pemberitahuan lebih lanjut dari otoritas setempat. Pulau indah ini sedang menyembuhkan dirinya setelah kebakaran dahsyat pada 2 tahun lalu. Berita kebakaran ini cukup ramai di media massa dan online saat itu. Asli, saya sangat sedih saat tahu pulau indah ini sedang terkena kebakaran.

Menikmati pemandangan Gili Lawa Darat dari salah satu sisi bukit.

Ya, saya sangat ingin datang ke pulau ini suatu saat nanti di musim yang berbeda. Dulu saya datang saat kemarau dan bukitnya sangat indah berwarna keemasan karena rumput yang mulai mengering. Nah, saya tentu penasaran saat musim hujan bagaimana indahnya pulau ini. Pastinya rerumputan hijau bak karpet akan menutupi permukaan pulau. Cepat sembuh Gili Lawa Darat!

Membayangkan bukit ini saat musim hujan pasti bak karpet hijau membentang.

Ketiga tempat itulah yang tidak tahu kenapa sering terlintas di benak saya beberapa hari belakangan ini. Saya penasaran ingin menemukan, kenapa tiga tempat itu selalu terngiang-ngiang di pikiran saya. Bagaimana dengan teman-teman? Apakah ada tradisi mengunjungi tempat baru di bulan Agustus? Adakah yang sudah mulai melakukan perjalanan lagi? Yuk ceritakan di kolom komentar ya!

Selamat memperingati hari kemerdekaan, teman-teman! Selamat ulang tahun Indonesiaku! Indonesia yang alamnya indah mempesona. Dirgahayu bangsaku!

Haikyuu, I Owe You

Tak terasa sudah akhir bulan Juli saja. Saya baru sadar kalau selama Juni kemarin tak ada tulisan baru di blog ini. Jujur, saya punya materi tulisan terkait traveling sebenarnya tapi saya khawatir itu akan dianggap mendorong pembaca untuk melakukan perjalanan atau exploring. Sementara, saya pribadi masih sangat menjunjung yang namanya stay at home selama masa pandemik ini. meskipun berbagai protokol terkait COVID-19 sudah diterapkan, tapi saya rasa beraktivitas di rumah masih jauh lebih aman dan sehat. Kalau tidak benar-benar mendesak, saya tidak akan beraktivitas di lokasi yang banyak dilalui atau dikunjungi orang.

Namun, saya juga jadi berpikir. Hal itu harusnya tidak boleh menjadi alasan untuk tidak menulis atau update blog. Saya bisa menulis apa saja selain traveling atau pengalaman perjalanan. Meskipun  tema besar blog saya memang tidak jauh-jauh dari traveling. Kemudian, pertengahan Juli 2020 kemarin menjadi momen yang istimewa dan membuat saya ingin menulis lagi tentang impian untuk berkelana suatu saat nanti jika situasi sudah aman dan memungkinkan.

Berawal dari manga Haikyuu karya Haruichi Furudate-Sensei yang akan memasuki chapter terakhirnya. Sensei menunjukkan beberapa karakter dalam manganya berkelana ke berbagai negara untuk mengejar impian mereka masing-masing. Oikawa Tooru yang bergabung dengan sebuah klub voli di Argentina, Yaku Morisuke di Rusia, Hinata Shouyou yang dua kali berkelana ke Brazil (pertama kali untuk berlatih, kedua kali untuk bergabung dengan klub voli Brazil sebagai atlet profesional), Kageyama Tobio di Italia, dan Ushikawa Wakatoshi di Polandia. Selain sebagai atlet, ada juga karakter lain yang berkelana untuk sekolah atau pendidikan. Sebelumnya, ada Iwaizumi Hajime yang melanjutkan kuliah ke California, Amerika Serikat dan akhirnya menjadi pelatih atlet Timnas Jepang, dan Satori Tendou yang belajar mengenai dunia cokelat di Amerika dan terakhir diceritakan bekerja di Paris, Prancis.

Satori Tendou and his journey.
Since we didn’t see a picture of Yaku-San in Russia, so i put this instead.

Salah satu karakter kesukaanku yakni Nishinoya Yuu bahkan secara jelas dan ekstrem meninggalkan negaranya demi berkelana yang “benar-benar” berkelana. Dia begitu bahagia dan bebas saat menangkap ikan di Italia lalu menikmati berkelana ke Mesir bersama Asahi. Mereka menunjukkan bahwa ada kalanya kita benar-benar tidak bisa terus diam di satu tempat yang sama untuk selamanya jika kita ingin sesuatu yang baru dan menjadi lebih baik dalam hidup.

He is literally a “Libero”
They’re in Egypt!!

Begitu juga dengan apa yang saya rasakan selama melakukan traveling beberapa tahun terakhir. Melakukan perjalanan bukan tentang pamer pernah jalan-jalan ke suatu tempat. Tapi lebih kepada menemukan sisi diri kita yang baru, yang ternyata tersembunyi yang selama ini tidak kita sadari. Kita kadang harus meninggalkan cubicle yang sudah terlalu familiar dan nyaman untuk menemukannya.

Bagi yang sudah membaca blog saya sejak awal, pasti tahu kalau saya sangat menyukai anime dan manga. Jadi, saya ingin menutup bulan Juli yang indah ini dengan merekomendasikan pembaca saya untuk membaca manga Haikyuu atau menonton animenya. Awalnya, saya menyukai Haikyuu karena saya rindu dengan dunia voli yang dulu saya gemari saat SMP dan SMA. Tapi saya jatuh cinta dengan ceritanya, terutama tentang perjuangan dan perjalanan seluruh karakternya dalam menemukan jati diri dan impian mereka.

Paling spesial adalah perjalanan Hinata. Di awal diceritakan bahwa Hinata memiliki talenta dan bekal tapi dia belum menyadari dan kurang mengembangkannya. Banyak faktor dan keterbatasan yang membuat hal tersebut terjadi. Tapi, saat dia sudah diberi kebebasan untuk memilih, dia memilih mengalahkan kenyamanannya dan berjuang untuk menjadi versi terbaik dirinya. Awalnya, dia sosok yang mudah cemas, gugup, bicara tidak jelas, percaya diri yang tak berdasar, bahkan penakut untuk situasi tertentu. Tapi, Brazil membuatnya menjadi sosok yang berbeda.

This baby defeated his fear and embraced his weakness.
He learned so much in Brazil.

Dan ya, seperti biasa. Setiap film atau buku (atau manga) yang saya nikmati pada akhirnya mendorong saya untuk kembali melakukan perjalanan. Tentunya saat situasi sudah aman dan memungkinkan. Saya ingin kembali lagi ke Jepang, terutama Sendai dan Iwate, di Miyagi karena hampir sebagian besar cerita Haikyuu berlatar di daerah tersebut. Bahkan tempat-tempat yang ada di animenya benar-benar berlatar lokasi yang ada di dunia nyata. Salah satu wishlist saya adalah bisa berfoto di depan Sendai Kamei Arena dengan memakai jersey Karasuno, Amin.

Satu hal lagi, saat chapter terakhir dirilis, semua penggemar tahu kalau Oikawa Tooru akhirnya menjadi warga negara Argentina dan menjadi atlet nasional di sana. Dia bermain untuk klub di San Juan. Kebetulan saya memiliki seorang teman warga negara Argentina dan tinggal di Buenos Aires. Dia bercerita bahwa San Juan merupakan privinsi dengan pesona alamnya yang indah. San Juan terkenal dengan bukit-bukitnya dan wine di sana sangat luar biasa. Aduh, jadi tambah saja list tempat yang semoga suatu saat bisa saya kunjungi. Saya pun penasaran dan segera googling, ternyata memang seindah itu.

Oikawa and his new life in Argentina.

Ya, pada akhirnya inspirasi bisa datang dari mana saja dan muncul di mana saja. Bagi saya, apapun inspirasinya dan dari mana pun asalnya, tak tahu kenapa selalu berujung dengan munculnya semangat untuk menemukan sisi diri saya yang lain dengan melakukan perjalanan. Meskipun menemukan sisi diri yang lain tidak melulu harus traveling apalagi pada kondisi seperti sekarang ini. Saya juga orang yang berprinsip bahwa masing-masing orang punya cara, jalan, dan waktunya sendiri.

Jadi, jangan pernah berhenti melakukan “perjalanan” karena makna sebenarnya dari perjalanan itu sangatlah luas. Stay safe dan selamat memasuki bulan Agustus! Beberapa image/art di artikel ini adalah sebagian dari perjalanan karakter Haikyuu yang menginspirasi saya. Jujur, banyak sekali gambar/arts yang menginspirasi tapi ini beberapa pilihan yang cukup mewakili. (All of arts belong to Haruichi Furudate-Sensei).

Who is my favorite character of Haikyuu? All of Them!!!

Haru for Flower Power

Sejauh ini, saya baru pernah mendatangi dua negara dengan empat musim, yakni Jepang dan Korea Selatan. Dari empat musim yang ada di negara subtropis, saya paling suka musim semi alias musim dimana bunga-bunga bermekaran saling adu siapa yang memiliki mahkota paling cantik.

Musim semi di Hakodate, Hokkaido, Jepang.

Saat saya bepergian ke Jepang dan Korea, dua-duanya saya lakukan di bulan Mei. Ya, bulan Mei bisa dikatakan sebagai puncak musim semi di dua negara ini. Bunga-bunga sakura bermekaran dan bunga-bunga lainnya juga tidak kalah cantiknya.

Sakura putih.

Di Jepang, musim semi disebut dengan Haru. Hmmm, pantas ya salah satu karakter utama di Fugou Keiji: Balance Unlimited yang lahir di tanggal 2 Mei itu bernama Haru Katou. Ya, karena mantan Letnan Detektif dari Divisi Pertama itu lahir saat musim semi. Biasanya, orang yang lahir saat musim semi selalu ceria, santai, dan bersemangat. Itu juga yang sering ditunjukkan Inspektur Katou, meski tampaknya kesalahan di masa lalu saat di divisi lamanya membuatnya jadi orang yang serba serius. Oke, cukup membahas Detektif Haru, hahaha (maklum, demam FKBU).

Meskipun lahir di masa musim gugur, saya sangat menyukai musim semi.

Bicara tentang musim semi di Jepang pasti identik dengan bunga Sakura. Tapi, di Korea Selatan pun ada banyak bunga sakura seperti halnya di Jepang. Hal karena musim dan cuaca di kedua negara itu hampir sama persis. Tapi, menikmati keindahan bunga Sakura memang paling nikmat di negara Jepang, apalagi jika bisa berbaur bersama warga lokal melakukan tradisi Hanami.

Hanami, piknik bersama keluarga dan teman menikmati bunga sakura yang bermekaran.

Tentu pernah lihat kan di berbagai anime ada kebiasaan unik saat musim semi yakni piknik menikmati bunga sakura dengan menghamparkan tikar, membawa berbagai bekal makanan dan minuman, bernyanyi dan menari bersama sambil menikmati bunga sakura bermekaran? Nah, itulah yang disebut dengan tradisi Hanami bagi masyarakat Jepang.

Semoga bisa menikmati Hanami lagi dalam waktu dekat, amin.

Cara menikmati bunga sakura yang tak kalah asyik, apalagi bagi non warga Jepang adalah memakai kimono/yukata lengkap dengan aksesorisnya sambil berjalan santai di bawah pohon sakura. Layaknya gadis-gadis Jepang yang biasa ditunjukkan di berbagai film dan anime.

Impian untuk memakai kimono di bawah bunga sakura di Jepang akhirnya tercapai.

Nah, untuk di negara Korea sendiri, saya belum begitu mendalami apakah ada tradisi menikmati bunga di musim semi yang khusus seperti di Jepang.

Saat musim semi di Korea, kurang tahu apa nama bunga ini, tapi cantik langsung cekrek deh.

Untuk tahun ini karena wabah Covid-19, pemerintah Jepang meniadakan aktivitas Hanami. Tentu saja Hanami berpotensi jadi ajang berkumpul banyak orang yang sangat dihindari sepanjang pandemik masih berlangsung. Keselamatan dan kesehatan banyak orang tentu lebih utama. Tradisi kekeluargaan dan kebersamaan seperti Hanami masih bisa dinikmati di tahun-tahun mendatang.

Oke, mengakhiri bulan Mei ini, akan terasa lengkap rasanya dengan mengupload kembali beberapa foto-foto selama musim semi di Jepang dan Korea Selatan.

Pertama kali lihat bunga tulip tumbuh di taman di Gotemba, Jepang.
Kedua kalinya melihat bunga tulip tumbuh di taman, di Seoul, Korea Selatan.
Bunga-bunga di Monumen Peringatan Bom Atom Hiroshima, Jepang
Tampak depan monumen.
Sekilas, bunga yang sama ada di Nami Island, Korea Selatan juga.

Ini juga bagai penyemangat bagi saya, bahwa di tengah ketidakpastian hidup dan kegundahan akan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, kita tetap bisa menikmati harihari dengan melihat hal positif dan keindahan yang diberikan Tuhan di sekitar. Salah satunya dengan keindahan bunga-bunga. Tuhan saja merawat bunga-bunga yang tumbuh liar di berbagai tempat, apalagi kita manusia yang merupakan ciptaan yang Dia kasihi dan banggakan, pasti Tuhan akan merawat dan menjaga kita. Amin.

Hwaiting!!! Bunga-bunga cantik di perumahan warga di Seoul.
Bunga yang mirip juga ada di Stasiun Himeiji, di Jepang.
Salah satu kegemaran saya saat traveling, foto bunga-bunga.

Tentu seperti biasa, saya tetap berharap bisa merasakan musim semi di berbagai negara lainnya, yang terkenal dengan bunga-bunganya yang indah. Belanda, Swiss, Turki, New Zealand, Kanada, dan negara-negara lainnya. Amin.

Bunga-bunga di Taman Disneysea, Tokyo

Merasakan Ramadhan untuk Pertama Kalinya di Korea Selatan

Tak terasa sudah masuk bulan puasa Ramadhan lagi ya! Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan untuk yang menjalankannya. Saya seorang nonmuslim tapi karena tumbuh dan besar di Indonesia dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam membuat suasana bulan Ramadhan juga memberikan nuansa tersendiri bagi saya. Lingkungan saya hampir semuanya menjalankan ibadah puasa, saya pun jadi ikut belajar menahan diri agar tidak mengganggu ibadah mereka.

Meskipun tidak puasa, tapi saya juga sering ikut serta merasakan sebagian tradisi masyarakat Indonesia saat Ramadhan. Sebut saja munggahan alias makan bersama untuk menyambut bulan puasa, buber alias buka bersama (meskipun tidak sahur dan tidak puasa tapi ikut berbuka puasanya, hahaha), mendapat THR dari kantor (puji Tuhan), mendapat bingkisan kue-kue kering, sampai tentunya jajan berbagai penganan khas Ramadhan seperti kolak, sop buah, dan jajanan lainnya.

Bahkan saat masih kecil dulu, di hari-hari tertentu, saya bersama adik dan Bapak sering main ke rumah tante, adik Bapak saya, yang merupakan muslim dan menjalankan puasa. Dia selalu memasak banyak makanan untuk buka puasa dan memanggil kami untuk ikut makan bersama. Apalagi saat malam takbiran, tante akan memasak jauh lebih banyak dan beraneka ragam. Di Hari Raya Idul Fitri, mereka sekeluarga akan datang ke rumah kami dengan membawa banyak makanan. Kami sekeluarga akan makan bersama dan diakhiri dengan prosesi maaf-maafan. Meskipun berbeda, tapi kami hidup dalam kebersamaan dan kekeluargaan yang kental.

Pengalaman dan nuansa yang dirasakan teman-teman muslim tentu sangat berbeda karena memang yang menjalankan puasa dan berbagai rangkaian ibadah selama bulan Ramadhan. Tapi, nuansa bulan Ramadhan yang sangat kental sudah menjadi tradisi dan bagian hidup masyarakat Indonesia yang sangat beragam.

Dulu saya sering bertanya, bagaimana ya nuansa Ramadhan di negara-negara yang berbeda dengan Indonesia? Bagaimana suasana Ramadhan di Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, China, Australia, Inggris, India, dan berbagai negara lainnya? Seiring berjalan waktu, berbagai negara pun mulai mengimplementasikan wisata moslem friendly alias wisata yang ramah bagi muslim. Dimulai dengan menyediakan tempat-tempat ibadah seperti musala beserta fasilitasnya, membuka rumah-rumah makan halal, dan lain sebagainya.

Makanya, tahun 2019 lalu, saya sangat beruntung saat berkesempatan traveling ke Korea Selatan tepat saat akan memasuki bulan puasa, saya cukup excited. Saya memenangkan sebuah kompetisi menulis yang hadiahnya jalan-jalan ke Korea Selatan. Di rombongan kami yang berjumlah 8 orang, hanya saya yang tidak berpuasa. Saya benar-benar ingin mengetahui bagaimana suasana bulan puasa Ramadhan di Korea Selatan.

Suasana kawasan muslim di Itaewon, Seoul

Puasa di Korea Selatan dimulai maksimal pukul 4 subuh dan berakhir pukul 7.30 setiap malamnya. Cukup panjang jika dibandingkan dengan di Indonesia. Selain itu, jika diperhatikan di beberapa pusat turis atau wisata, tidak ada perubahan atau nuansa Ramadhan yang signifikan, kecuali di daerah Itaewon, Seoul.

Jalan menuju masjid utama di Itaewon, menaranya langsung terlihat.

Itaewon memang dikenal sebagai kawasan muslim di Seoul. Di sini terdapat salah satu masjid terbesar di Korea Selatan yang bernama Seoul Central Masjid. Masjid ini sangat strategis dan mudah ditemukan karena kubah dan menaranya, serta letaknya yang memang di kawasan ramai dan di tepi jalan.

Kawasan Seoul Central Masjid dari tampak dekat.

Begitu masuk ke kawasan masjid ini, terpampang aturan atau tata tertib memasuki masjid, seperti pakaian tertutup, dan lain sebagainya. Di dalam kawasan masjid ini juga terdapat sekolah khusus muslim. Nuansa masjid ini sangat syahdu, apalagi saat senja karena berlatar matahari terbenam.

Memasuki kawasan masjid.
Panduan dan tata tertib saat berada di dalam masjid.

Kebanyakan jamaah yang datang untuk sholat tampaknya berasal dari Timur Tengah, Turki, India, Malaysia, dan Indonesia. Begitu masuk ke kawasan ini, sampai ke depan masjid, suasananya sangat mirip dengan suasana masjid di Indonesia pada umunya, bedanya hanya jamaahnya yang sangat beragam ras antarbangsa.

Salah satu sisi masjid.

Saat itu, teman-teman saya menunaikan sholat tarawih pertama. Mereka terlihat campur aduk. Tentu saja, ibadah puasa yang biasanya dilaksanakan bersama keluarga dan di tengah suasana yang sangat familiar, kini harus dilakukan di negara asing. Saya menjaga barang-barang mereka di luar masjid, sambil mengabadikan gambar masjid dari berbagai angle. Bagi saya pun, pengalaman seperti ini sangatlah berharga dan sangat langka.

Keindahan Seoul Central Masjid dari jepretan kamera saya sambil jaga barang teman-teman, haha

Begitu selesai tarawih, kami berjalan untuk makan malam di sebuah restoran Malaysia. Ya, di sepanjang jalan masjid ini banyak berderet restoran halal dan berbagai food stall seperti  kebab, es krim Turki, dan makanan khas negara-negara muslim lainnya. Sejauh mata memandang terlihat restoran Turki, India, Malaysia, Timur Tengah hingga Mesir.

Restoran makanan khas Melayu dan Mesir
Restoran Turki.
Restoran India.

Di Itaweon ini juga banyak mahasiswa yang berasal dari Indonesia dan Malaysia. Maka tak heran jika kawasan ini sangat terasa familiar karena kental nuansa muslimnya. Mereka makan sendiri atau paling banyak berempat.

Para mahasiswa muslim yang banyak lalu lalang di kawasan Itaewon.

Memang, tidak seramai suasana di Indonesia, seperti berburu takjil jelang berbuka atau berbuka puasa serombongan. Namun, saya bisa merasakan suasana yang syahdu di sekitar Itaweon bahwa di kawasan ini cukup terasa sambutannya terhadap bulan Ramadhan.

Salah satu takjil di Itaweon, es krim Turki.

Seperti biasa, saya juga tergugah ingin merasakan suasana Ramadhan di negara asing lainnya. Penasaran bagaimana suasana Ramadhan di negara yang panjang durasi hingga matahari terbenam seperti di Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara lainnya. Semoga ada kesempatan lagi ya, Amin.

Islamic School di dalam kawasan Seoul Central Masjid.

Oh iya, saya ingin mengucapkan: Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan untuk semua pembaca everywheretowalk yang menjalankan. Meskipun bulan puasa tahun ini sangat terasa berbeda karena pandemik Covid-19, tetapi tetap semangat dan berbahagia ya! Semoga sehat selalu dan full menjalankan puasanya hingga di Hari Kemenangan nanti.

Kenangan Nonton Konser Coldplay di Bangkok

Salah satu dampak karantina mandiri dan Work From Home selama belasan hari di rumah akibat pandemik Covid-19 ini adalah jadi sering bernostalgia dan halu. Tepat tiga tahun lalu, 7 April 2017, saya dan teman-teman nonton konser band ternama dunia, Coldplay, di Rajamanggala Stadium, Bangkok, Thailand. Ini adalah konser pertama band besar yang saya tonton di luar negeri.

Tidak ada kepastian akan bisa traveling ke luar negeri di tahun 2020 ini membuat saya membuka lagi foto-foto perjalanan yang sudah pernah saya lakukan di tahun-tahun sebelumnya. Saya belum banyak melakukan perjalanan ke luar negeri. Bahkan, pertama kalinya saya keluar negeri adalah tahun 2016 ke Jepang.

Saya adalah “penganut” quote Dalai Lama once a year, go to someplace you’ve never been before. Jadi bagi saya perjalanan itu tidak harus keluar negeri, di dalam negeri pun masih banyak tempat bagus yang belum pernah saya datangi. Jadi, jika ada kesempatan yang bagus, tabungan mencukupi, dan situasi memungkinkan , maka saya akan berusaha untuk bisa melakukan perjalanan. Dalam setiap perjalanan, saya selalu berusaha untuk menambah teman-teman baru.

Bersama teman-teman saat akan naik BTS Skytrain.

Di awal April 2017 lalu, saya dan teman-teman melakukan perjalanan ke Thailand dengan agenda utama adalah menonton konser Coldpay. Saya sangat menyukai lagu-lagu Coldplay, terutama lagu-lagu yang menyemangati hidup. Lagu-lagu mereka tidak melulu soal romantisme tapi juga bagaimana kehidupan nyata itu berjalan. Itulah yang saya sukai dari mereka, selain suara Chris Martin yang benar-benar adem tentunya.

Tiket konser sudah dibeli sebulan sebelumnya, harganya kurang lebih Rp 1 juta. It was worth the price. Apalagi, Coldplay sangat selektif terkait tempat penyelenggaraan tour-nya. Untuk Asia Tenggara, mereka hanya memilih Singapura dan Thailand. Mereka tidak memilih datang ke Indonesia. Mereka tentu memiliki pertimbangan tersendiri untuk hal itu.

Ready to rock and roll.

Konser Coldplay di Thailand berlokasi di salah satu stadium terbesar di Bangkok yakni Rajamanggala Stadium. Tidak susah untuk melakukan perjalanan di Bangkok. Transportasi umumnya sangat membantu. Bangkok sudah dilengkapi dengan Bangkok Mass Transit System atau sering disebut BTS Skytrain.

Naik BTS Skytrain.

Selain itu, ada juga Taksi Sungai berupa perahu yang berfungsi layaknya bus atau taksi. Perahu ini akan berhenti di tiap halte. Transportasi ini cukup efektif sebagai alternatif mengingat Kota Bangkok cukup macet.

Naik Taksi Sungai di siang hari yang cerah di Bangkok.
Penampakan Taksi Sungai di Bangkok.

Cuaca Bangkok di bulan April sama persis seperti di Jakarta, panas terik dan gerah. Begitu sampai di stadium dan berhasil menukarkan tiket, kami langsung berburu Thai Tea. Di sini, Thai Tea dijual dalam cup-cup besar dan cukup murah. Puas rasanya minum Thai Tea di negara asalnya di tengah panas siang bolong. Untuk melengkapi pertualangan konser ini, kami pun membeli kaos merchandise Coldplay dan langsung memakainya agar pengalamannya kian sempurna.

Jajan dullu biar punya energi untuk jingkrak-jingkrak.

Konser sebenarnya berlangsung setelah matahari terbenam, tapi demi menikamti konser ini dengan penuh dan utuh, kami sudah stand by dari siang, hahaha. Kami mengisi perut dengan beli jajanan pasar seperti sosis goreng dengan bumbu Thailand dan lain sebagainya. Lucunya, banyak sekali orang Indonesia yang menonton konser ini. Sampai-sampai setiap pergi kemanapun selalu bertemu dengan orang Indonesia. Serasa di GBK saja, hahaha.

Di dalam Rajamanggala Stadium.
Panggung utama.

Menunggu di dalam stadium cukup menyenangkan apalagi ditemani sunset Bangkok yang cerah dan indah. Setelah dibuka oleh opening band yang maaf saya lupa siapa waktu itu, akhirnya Chris Martin dan kawan-kawan pun menghentak panggung. Belasan lagu hits mereka menggema di seluruh stadium. Ribuan fans bernyanyi dan berlompat.

Sunset Bangkok jelang konser dimulai.

Lagu andalan saya? Jangan tanya lagi, hampir semua lagi hits mereka adalah lagu andalan bagi saya. Tapi, puncak dari semua lagu mereka bagi saya adalah Something Just Like This. Performa Chris yang sudah menyanyikan belasan lagu sambil berjingkrak-jingkrak tetap stabil dan prima. Lagu ini adalah salah satu lagu yang sering saya dengarkan bahkan jadi repeat one di music player saya.

Chris Martin saat membawakan lagu Something Just Like This.

Ini adalah konser terbesar yang pertama kali saya hadiri. Lampu berbagai warna yang indah, balon-balon raksasa yang beterbangan, dan confetty yang diluncurkan di akhir konser membuat seluruh performa Coldplay yang indah makin sempurna.

Konser yang syahdu.
A concert to remember.

Kepuasan bisa bernyanyi sepenuh hati dan berjingkrak-jingkrak berhasil menghilangkan stres saya dan rasanya saya di-recharged! Hidup saya seperti diperbarui lagi. Setiap rupiah yang saya keluarkan untuk konser ini benar-benar berarti. Akhirnya saya mengerti, inilah salah satu arti menikmati hidup.

Coldplay di panggung yang terdekat ke tribun.

Beberapa hari setelah konser berlangsung, kami masih jalan-jalan di Bangkok. Setiap hari itu juga, kami masih terngiang akan konser dan terus membahasnya. Lagu-lagu Coldplay terus kami putar atau kami gumamkan. Benar-benar susah move on. Ya iyalah ya, konser spektakuler itu sangat membekas, rasanya ingin menonton lagi.

Chris saat membawakan lagu Everglow.

Coldplay masih akan singgah ke Jepang dan Korea untuk sisa tour mereka di Asia sebelum akan menutupnya di Amerika. Saat itu, ingin rasanya traveling ke Korea atau Jepang untuk bisa menonton konser mereka lagi. Halu sih rasanya, hahaha. Selain tabungan harus dijaga, cuti pun rasanya harus dihemat-hemat. Tapi, impian untuk bisa menonton konser Coldplay lagi di negara lain yang belum pernah saya datangi masih ada dan semoga bisa terwujud suatu saat nanti. Amin.

Till we meet again, Coldplay.

Konser siapa yang pernah kalian tonton di luar negeri dan sangat membekas? Yuk, share ya!

*Tetap jaga kesehatan dan terapkan perilaku hidup sehat ya selama masa pandemik Covid-19 ini. Tidak apa-apa mengulas lagi cerita perjalanan yang sudah dilakukan untuk mengisi waktu di rumah. Apalagi bagi yang terbiasa melakukan perjalanan setiap tahun, hal ini akan sangat bermanfaat untuk mengobati rasa rindu itu.

Setelah 18 Tahun, Akhirnya Kesampaian Nonton PROLIGA LIVE

Tahun 2002, saya masih kelas 1 SMP (ketahuan deh, hahaha). Meskipun sudah sering menyaksikan remaja-remaja kampung main bola voli sejak kecil, namun bisa dipastikan kalau kecintaan saya pada voli dimulai sejak kelas 1 SMP. Waktu itu, saya kerap bermain voli dengan teman-teman di kampung. Bolanya bukan bola voli asli, tapi cuma bola plastik yang biasa dimainkan anak-anak SD. Lapangannya pun hanya lapangan depan rumah yang netnya pakai tiang asal dipancak dan tali plastik. Kocak memang, tapi yang terpikirkan saat itu hanya kesenangan bermain dengan teman, menerima dan memukul bola tanpa peduli menang atau kalah.

Entah bagaimana ceritanya waktu itu, saya menonton TV dan membuka channel TVRI dan seketika melihat ada program pertandingan bola voli. Saya tahu ada NBA dan kalau di Indonesia ada IBL karena bola basket memang populer. Tapi saat itu, saya baru tahu kalau ada liga untuk bola voli nasional juga.

Setelah menonton siaran pertandingannya dan mendengarkan pembicaraan para komentatornya hampir tiap hari, saat itu saya tahu bahwa PROLIGA merupakan sebuah turnamen voli yang diikuti klub-klub se-tanah air. Meskipun yang bisa saya ingat, saat itu klub-klub yang ikut ada dari Jakarta (dengan klub terbanyak), Bandung, Yogyakarta, Gresik, dan Surabaya. Setiap klub diperbolehkan mengontrak pemain asing. Tahun 2002 merupakan perhelatan PROLIGA untuk pertama kalinya.

Klub favorit saya adalah Bandung Tectona, kenapa? Karena Ace klub puterinya bernama Fenny, sama dengan nama saya (beda penulisan saja tapi intinya sama, hahaha). Saya senang menyaksikan Fenny dengan tubuhnya yang tinggi melakukan vertical jump dan menggebuk bola dengan menukik ke lapangan lawan. Saya lupa siapa yang menjadi pemenang tiap kategori. Yang pasti, saya makin getol dan suka dengan voli.

Waktu kelas 2 SMP, ada liga HUT sekolah dan saat itu para siswa perempuan mengikuti pertandingan voli. Jadi kelas 1 melawan kelas 2. Kelas 3 sudah tidak ikut karena harus persiapan ujian kelulusan. Saat itu, dengan pengalaman dan latihan yang minim, saya selalu masuk dalam tim kelas. Berbekal wawasan menonton PROLIGA, akhirnya kami bisa menjadi pemenang saat itu.

Hampir setahun kemudian, salah satu guru olahraga di sekolah mendatangi kelas kami dan berbicara ke Wali Kelas bahwa saya masuk dalam Tim Inti Voli Putri sekolah yang akan bertanding melawan SMP sekabupaten. Tentu saya sangat senang. Entah karena guru tersebut melihat saya bertanding saat acara sekolah dulu, atau dapat rekomendasi dari teman yang sudah lebih dulu masuk tim inti, saya tidak tahu. Tapi, dari kelas kami, saya adalah satu-satunya yang mengikuti proglam latihan ini. Meskipun kami gugur di tahap awal karena melawan tim sekolah lain yang jauuuh lebih berpengalaman, kenangan itu akan menjadi pengalaman sekolah yang tidak akan saya lupakan.

18 tahun kemudian, saya kembali ke cinta lama saya yakni voli karena tanpa sengaja menemukan anime Haikyuu. Anime ini bercerita tentang klub bola voli SMA Karasuno, sebuah sekolah di Prefektur Miyagi, Jepang. Semua ceritanya pun mengingatkan saya pada kenangan saat sekolah dulu. Kembali gandrung pada voli membuat saya mulai lagi mencari berbagai hal yang berkaitan dengan olahraga ini. Dari situ, saya akhirnya menemukan bahwa PROLIGA 2020 akan berlangsung. Menetap dan bekerja di Bandung tentu akan memudahkan saya jika benar-benar berkeinginan menonton pertandingan ini langsung di lapangan. Maklum, saat di kampung dulu, saya hanya bisa menonton lewat TV pertandingan yang dilangsungkan di Jakarta saat itu.

Jasen Kilanta dari Pertamina Energi, mengingatkan dengan siapa di Haikyuu?

Kali ini, PROLIGA 2020 dilaksanakan di beberapa daerah, bahkan di Palembang, Sumatera Selatan. Saya langsung mencari jadwal pelaksanaannya, dan berteriak senang saat tahu bahwa salah satu putaran akan dihelat di Bandung. Saya tidak perlu susah payah untuk ke luar kota. Setelah penantian pengumuman penjualan tiketnya, akhirnya tiket untuk 3 hari pertandingan beruntun pun bisa saya dapatkan.

Para atlet puteri yang tangguh.

Pertama kali melihat para bintang voli secara langsung tentu menyisakan kekaguman. Bagaimana tinggi badan mereka yang menjulang, otot-otot kaki yang kuat, tangan-tangan yang biasa menggebuk bola, dan mata mereka yang selalu bisa menyesuaikan kapan untuk tenang dan kapan untuk mawas dan siap membunuh bola.

Para atlet saat melakukan peregangan.
Pertandingan seru antara Jakarta Pertamina Energi VS Surabaya Bhayangkara Samator.
Dimenangkan dengan telak 3-0 oleh SBS.

Yang mengesankan, karena membeli tiket VIP, saya berkesempatan memilih tempat duduk yang sangat dekat dengan lokasi para pemainnya. Saya bisa melihat dengan dekat bagaimana mereka melakukan persiapan sebelum bertanding, bagaimana pemanasannya, apa yang mereka makan dan minum, sampai kebiasaan mereka saat rekannya berhasil memukul bola maupun saat gagal meraih poin. Tentu muncul pemikiran di benak, “Enak juga ya sepertinya jadi atlet voli?!” Hahaha, tentu itu hanya pemikiran iseng, karena di usia segini dan pengalaman latihan yang sangat minim, mana mungkin bisa memasuki dunia voli lagi.

Rivan Nurmulki, spiker dari Surabaya Bhayangkara Samator
sedang melayani permintaan selfie para fansnya, kebanyakan cewek pastinya, hahaha.

Selama tiga hari, saya menyaksikan hampir seluruh tim bertanding, baik putera maupun puteri. PROLIGA 2020 masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, apalagi setelah virus corona mewabah, beberapa jadwalnya harus diundur. Saya berharap dapat menyaksikan putaran finalnya, atau 4 besar di Jakarta nanti. Tentunya saat semua kondisi telah memungkinkan dan mendukung.

Biasanya melihat cheerleader di pertandingan basket,
tapi saat PROLIGA 2020 di Bandung ada juga nih waktu jeda istirahat antar babak.

Meksipun bukan pemain andal, tapi saya memiliki ikatan tersendiri dengan voli. Jadi, kalau impian saya saat kelas 1 SMP untuk bisa menyaksikan PROLIGA secara langsung bisa tercapai, saya pun yakin impian saya yang lebih tinggi tentang voli bisa juga kesampaian. Ya, saya berkeinginan  bisa menyaksikan Olimpiade cabang Voli secara langsung suatu saat nanti. Berharapnya bisa menyaksikan di Olimpiade 2020 ini, semoga ada jalan, semoga semesta dan Tuhan mendukung. Amin.  

Pertama Kali Nonton Festival Musik, and I Want More!

Bisa dihitung jari, saya baru pernah nonton konser beberapa kali saja seumur hidup. Pertama kali waktu kuliah, namanya Symphonesia garapan anak-anak fakultas sebelah. Waktu itu lumayanlah akhirnya bisa nonton langsung Ecoutez, Efek Rumah Kaca, dan Glenn Fredly.

Terus baru-baru kerja berkesempatan nonton Konser Hillsong, 2 tahun berturut-turut. Harga tiketnya juga masih terjangkau, Rp100.000. Setelah itu, bertahun-tahun saya tidak terlalu tertarik dengan konser lagi. Langsung terbayang bagaimana masuk ke area konser macet dan mengantre panjang. Di dalam lokasi konser harus desak-desakan dan berdiri berjam-jam. Belum lagi pulangnya bisa antre berjam-jam. Paling naas, karena badan saya tidak begitu tinggi, saya sering kehalang orang-orang di depan saya.

Selain itu, harga tiket konser kadang di luar akal sehat saya. Meskipun saya sudah bekerja, tapi kadang masih sayang saja rasanya. Tapi dunia konser kembali ke kehidupan saya. Dimulai sejak tahun 2017 lalu. Awalnya saya hanya ingin bergabung bersama teman-teman yang ingin jalan-jalan ke Thailand. Fokus utama saya adalah di jalan-jalannya. Namun, karena saya diracuni oleh teman saya bahwa ada konser Coldplay di Bangkok juga saat itu. Saya memang penikmat Coldplay, jadi mulai goyahlah pertahanan saya. Waktu itu, harga tiketnya Rp1.000.000. Saya anggap saja ini sebagai reward kepada diri sendiri dan jarang-jarang juga bisa nonton konser Coldplay, karena mereka sangat selektif buat konser di Asia Tenggara. Belum tentu akan datang ke Indonesia.

Suasana Konser Coldplay.

Setidaknya, uang yang saya keluarkan sangat pantas! Saya mendapatkan pertunjukan yang luar biasa. Belasan lagu yang bisa saya nyanyikan dengan lepas bersama teman-teman. Belum lagi, tidak ada kelelahan yang berlebihan, karena kami nonton di stadium bola dan pengaturan penontonnya sangat profesional. Saya susah move on bahkan sampai seminggu setelah konser. Saya masih nonton video yang saya rekam berulang-ulang. Masih lihat foto-foto jepretan kamera hp. Masih bercerita dengan teman-teman tentang keseruan konser, dan banyak lagi.

Senang, hehehe

Setelah itu, saya belum pernah nonton konser lagi, karena belum menemukan konser yang menurut saya pantas untuk dikucurkan dari uang tabungan. Setahun berlalu, tepat dengan pelaksanaan Asian Games 2018 di Jakarta. Waktu beberapa jam jelang pembukaan, saya dikabarin dapat tiket gratis untuk nonton langsung opening ceremony Asian Games di GBK. Saya kesal campur sedih, pasalnya lokasi saya di Bandung sementara saya harus ke Jakarta kalau menonton itu. Pemberitahuan mendadak ini sia-sia saja, karena durasi berangkat dari Bandung ke Jakarta, belum lagi macet menuju GBK, antre masuk stadion, sudah tidak masuk akal untuk dikejar. Saya akhirnya hanya menonton luar biasanya Tari Ratoe Jaroe dari TV di rumah. Untungnya nonton di NET TV, apalagi TV Samsung sudah FullHD, jadi suasananya terasa sekali dan cukuplah mengobati hati yang kecewa.

Tapi, kekecewaan ini akhirnya terobati sempurna karena satu hari jelang upcara penutupan Asian Games, saya dikabarin dapat tiket gratis nonton di GBK. Kali ini saya tentu tidak akan lewatkan begitu saja. Alhasil, saya bisa nonton Super Junior (waaa, Oppa kahirnya nonton performance kalian secara langsung di dunia nyata), Ikon, Lea Simanjuntak, Bams, Isyana, dan masih banyak lagi waktu itu. Lumayanlah, walaupun mereka terlihat sangat kecil saking luasnya GBK, hahaha.

Closing Ceremony Asian Games 2018 di GBK, Jakarta.

Paling terbaru, hampir 2 tahun setelah nonton konser Asian Games, saya akhirnya bisa nonton konser lagi, Minggu 2 Februari 2020 di Pangkalan Udara Husein Sastranegara, Bandung. Kali ini berbeda, karena berupa festival musik. Apa sih bedanya? Di festival musik, tidak hanya 1 panggung yang tersedia, bahkan bisa sampai 4 panggung di lokasi yang sama. Ingin memaksimalkan konser, maka saya pun sudah membuat list siapa saja yang akan saya tonton dan di jam berapa.

Bahagianya, cuaca Bandung yang belakangan biasanya selalu hujan deras, seharian itu cerah. Bahkan saat senja, langit sangat cantik. Banyak sesama penonton konser yang foto-foto saking langitnya cantik. Berada di Bandara Husein cukup nostalgic bagi saya. Pasalnya, sejak mayoritas penerbangan banyak yang dipindahkan ke Bandara Kertajati, di Majalengka, saya dan keluarga jadi jarang ke Husein.

Cantiknya langit sore di Husein Sastranegara, Bandung.

Hampir 12 jam berada di Playlist Love Festival sangat menyenangkan dan worth it. Mulai dari fasilitas kebutuhan dasar, misalnya toilet portable yang tersedia cukup banyak. Apalagi ada toilet khusus wanita yang disediakan oleh Protex sebagai salah satu sponsor. Jadi, para pengunjung wanita bisa lebih lega karena punya toilet khusus sendiri.

Lounge KAI di lokasi festival.

Untuk kebutuhan makan, ada banyak sekali gerai tersedia. Mulai makanan ringan sampai yang berat sekalipun. Saya sendiri makan ricebbowl isi cumi panggang saus jamur waktu itu. Enak sekali, apalagi memang sudah sangat lapar saking semangatnya nonton konser.

Untuk kebutuhan minum, sama juga, banyak gerai yang tersedia. Meskipun banyak gerai minuman hits seperti boba, tapi saran saya utamakan minum air mineral karena suasana konser biasanya sangat gerah dan butuh cairan banyak karena kita banyak bergerak dan bernyanyi juga, meskipun suara seadanya yang penting nyanyi sengan sepenuh jiwa raga, haha.

Satu dari 4 stage.

Alhasil, saya bisa menuyaksikan Maliq & d’Essentials, Jaz, The Overtune, Hivi, Naif, MYMP, Afgan, Raisa, Callum Scott, dan Agnez Monica. Tentu itu hanya sebagian penyanyi yang berhasil saya tonton, karena banyak yang bentrok dan saya pun tidak nonton sampai penutupan karena sudah sangat larut.

Perjuangan untuk mendapatkan foto ini karena fans Afgan begitu histeris dan aktif, hahaha.

Beberapa yang paling berkesan bagi saya tentu saja MYMP dan Raisa. MYMP adalah band yang sangat dekat dengan saya saat era kuliah dulu. Meskipun saya terhitung telat tahu tentang MYMP, tapi lagunya selalu saya dengarkan setiap sendirian di kosan, saat di DAMRI dari Jatinangor ke Bandung atau sebaliknya, atau saat jalan kaki dari kampus ke kosan. Pokoknya, sangat berkesan. Nah, bisa menyaksikan langsung band ini tentu jadi pengalaman yang tak berkesan.

MYMP uh my love.

Sedangkan alasan utama saya semangat untuk ikut konser ini adalah Raisa. Saya belum pernah menonton Raisa secara langsung. Suara Raisa bisa dibilang sebagai masterpiece. Sangat khas, jernih, dan berpower. Bagian favorit saya adalah Could it Be, apalagi saat Raisa mengambil nada tertinggi di bagian akhir lagu. Selain itu, Raisa juga ternyata sangat komunikatif dan pintar menghibur penontonnya, baik yang laki-laki maupun perempuan.

Sepulang dari konser, sudah hampir tengah malam dan kaki pegal luar biasa. Tak hanya kaki, pinggang dan punggung cukup encok karena banyak berdiri seharian. Saya punya tips untuk yang satu ini. sesampainya di rumah, saya langsung masak air dan begitu mendidih, saya tuang ke sebuah ember dan campur dengan air dingin agar hangat-hangat kuku. Kemudian, saya masukkan garam laut ke dalam air hangat itu, dan rendamlah kaki sampai airnya dingin. Nyessss, enak, nyaman, dan pegal jadi hilang. Nah, agar tidur makin nenyak dan tidak gelisah karena capek, sengantuk apapun jangan lupa mandi pakai air hangat. Biar badan terasa seperti dipijat. Alhasil tidurpun nyenyak dan siap untuk bekerja besoknya.

Jadi, apakah saya akan menonton konser lagi? Tentu saja!

Liburan Awal Tahun, Sepenting Itu!

Buka social media di awal tahun itu nano-nano rasanya. Di satu sisi senang, karena melihat banyak traveler yang masih liburan ke berbagai negara. Di saat yang sama, itu juga bikin gigit jari. Apalagi buat pekerja yang masih menunggu kebijakan cuti tahunan. Di saat seperti ini sering galau melihat para traveler yang kebanyakan freelancer sehingga bisa “cuti” sebebas dan sebanyak yang dimau. Tetapi, tetap harus bersyukur karena apapun itu pasti ada plus-minusnya. Jadi, always be grateful!

Di awal Januari begini, traveling ke negara dengan musim winter sepertinya jadi pilihan banyak traveler. Seperti di timeline instagramku, ada yang ke negara-negara Scandinavia, Inggris, USA, dan negara-negara yang lagi winter lainnya. Meskipun liburan di musim winter lebih butuh persiapan ekstra seperti pakaian musim dingin, sepatu musim dingin, dan perengkapan lainnya. Tapi, pastinya memberikan pengalaman dan kesan yang tak akan terlupakan, apalagi buat orang-orang yang hidup di negara tropis. Which is salju adalah kemustahilan.

Eh tapi, ada sedikit hiburan meskipun tidak bisa liburan. Apa itu? Di instagram tengah banyak bermunculan filter-filter interaktif yang cukup menyenangkan untuk dicoba. Just for fun! Sebagai yang punya rasa penasaran, saya pun mencobanya, tentu memilih yang relevan, such as traveling. Ada satu filter yang judulnya “Where Shoul I Vacation Next?” Biasanya, saya suka mencoba filter berulang sampai dapat yang benar-benar sesuai keinginan, hahaha. Tapi, khusus traveling ini, saya benar-benar coba sesuai apa adanya, siapa tahu itu sign dari Tuhan dan peruntungan, haha (aminkan saja).

Tempat pertama yang muncul adalah North Pole, alias Kutub Utara. Meskipun tampak ngeri, tapi saya tetap excited. Identik dengan hipotermia, tapi saya tetap penasaran seperti apa wujud Kutub Utara itu. Mungkin bisa dimulai dengan tempat-tempat yang dekat dengan Kutub Utara seperti Alaska, Rusia, Denmark, Islandia, atau Kanada, amiiiiiiin.

Alaska, amin! (Pic. Lonely Planet)
Rusia, amin! (Pic. Lonely Planet)

Setelah dapat negara dingin, tentu penasaran mencoba kedua, setidaknya untuk daerah yang hangat. Percobaan kedua, muncullah nama Carribean Island alias Kepulauan Karibia, wohoooo! So so excited karena Karibia secantik itu. Amiiin.

Karibia, amin! (Pic. Lonely Planet)

Jangan tertawa dan sepele dulu! Haha. Meskipun ini cuma permainan, tapi berdasarkan pengalaman saya sebelumnya, hal yang tampak iseng tapi kalau diaminin dan dikasih afirmasi poritif bisa saja terjadi. Contohnya awal tahun lalu. Saya punya harapan dan afirmasi bisa traveling ke Korea Selatan dengan gratis dalam sebuah QnA iseng-iseng di instagram. Hanya selang beberapa bulan, harapan itu tercapai berkat sebuah kompetisi menulis dimana saya menjadi salah satu pemenang dari tiga orang yang dipilih. Puji Tuhan!

Jadi, selama itu adalah harapanmu dan ada niat positif di dalamnya, tetaplah berpengharapan. Yakinkah akan ada saja jalannya sambil tetap berusaha dan mencoba hal-hal positif yang membantu menuju impian tersebut. Niscaya ada harapan dan jalan.

Oke, mari kita lihat, tempat mana yang akan menjadi destinasi nyata selanjutnya? Rusia? Alaska? Kanada? Islandia? Denmark? Karibia? Atau semuanya? Aminkan saja dan berusaha! Amiiin.

*All pictures belong to The Lonely Planet. I adore you so much, The Lonely Planet!

Kembali ke Negeri di Atas Awan, Dieng

Waktu masih kecil dulu, ada sebuah acara di salah satu TV swasta nasional berjudul Anak Seribu Pulau. Alunan lagu Negeri di Awan yang dibawakan Katon Bagaskara selalu berhasil menyita perhatian dan pandangan saya. Saya menyaksikan di TV tabung dengan warna seadanya saat itu secene demi scene. Mulai dari anak-anak yang berlarian di padang rumput nan luas (yang belasan tahun kemudian saya sadari sebagao Tanah Sumba), anak-anak yang berenang dengan tawa riang di birunya laut nan jernih (yang di kemudian hari saya pahami sebagai Labuan Bajo, Flores), anak-anak yang berlarian di pasir hitam yang seperti tak ada habisnya (yang akhirnya saya kenal sebagai Bromo), dan masih banyak scene lainnya yang indah, yang kalau sekarang saya ingat membuat saya menangis karena ternyata sejak kecil saya memang sudah berhasrat untuk traveling di tanah Indonesia yang indah.

Namun, yang paling memikat adalah setiap Katon menyanyikan lirik “sebuah lagu tentang negeri di awan”, bagi seorang anak yang baru masuk sekolah, kalimat dan lirik itu serasa magis buat saya. Imajinasi saya saat itu menyajikan bahwa memang ada tanah di Indonesia yang sangat tinggi bahkan anak-anak di sana bisa menggapai awan setiap hari. Jika saya dan teman-teman bermain tali dan berlari di lapangan rumput, saat itu yang saya pikirkan bahwa beruntung sekali anak-anak Negeri di Atas Awan itu bisa merengkuh putih dan magisnya awan setiap saat mereka mau. Ya, begitulah imajinasi saya pada masanya. (Imajinasi yang sangat saya cintai, karena saat ini saya menyadari bahwa masa kecil saya penuh dengan kenangan indah, terutama tentang bahagianya anak-anak di Indonesia).

Menatap Sang Negeri di Atas Awan.

Aduh, saya tak bisa untuk tidak menyanyikan lirik lagu yang indah itu. (meskipun suara saya pas-pasan, huhuhu).

Setelah mata pelajaran Geografi memperkenalkan saya dengan istilah-istilah kontur bumi seperti dataran tinggi, dataran rendah, pegunungan, pantai, kepualauan, maka saya pun bertemu dengan sebuah nama yang saat mendengarnya pun terasa magis.

Dieng. Kala itu Guru Geografi juga menyebutkan bahwa dataran tinggi di Jawa Tengah ini kerap dijuluki sebagai Negeri di Atas Awan karena kawasan terendahnya pun berada di ketinggian lebih dari 2.000 MDPL (meter di atas permukaan laut). Saya langsung mekhayal kala itu. Suasana yang sejuk, pepohonan pinus, kabut, bukit-bukit, dan awan. Terhenyak, saya langsung teringat lagu Katon Bagaskara, Negeri di Awan. Saya pun penasaran saat itu, apa Dieng ini yang Katon maksudkan sebagai negeri di atas awan itu?

Betah menatap keindahan ini setiap hari.

Selang dua puluh tahun kemudian, saya tak menyangka akhirnya bisa menginjakkan kaki di negeri yang dulu selalu saya imajinasikan. Berawal dari tekad ingin mengunjungi tempat baru yang seumur hidup belum saya datangi, akhirnya saya bertemu dengan Sang Negeri di Atas Awan, Dieng. Bermodalkan keberanian ingin mulai mendaki gunung, saya akhirnya bergabung dengan open trip (yang anggotanya kemudian menjadi bagian penting dalam hidup saya karena merekalah teman perjalanan saya untuk menjelajahi pelosok Indonesia).

Karena perjalanan dilakukan dalam weekend biasa, maka hanya beberapa lokasi saja yang akan kami datangi dengan tujuan utama yakni Gunung Prau. Saat pertama kali sampai di Dieng, hawa dingin langsung terasa. Saat tiba di homestay yang akan kami tumpangi, saya melihat para kaum ibu dengan kulit wajah kemerahan, ciri khas kulit bagi yang tinggal di dekat gunung atau dataran tinggi. Mereka juga memiliki fisik yang kuat karena mereka tampak santai memanggul bakul-bakul besar sambil mendaki. Mata saya langsung bersinar dan berkaca-kaca, betapa saya mengagumi kekuatan mereka (sementara saya masih lemah, mau mendaki saja harus benar-benar percaya diri kalau jogging saya sudah cukup. Kalau masih ada keraguan, saya tidak akan berani mendaki, karena selain membahayakan diri sendiri, saya juga tidak ingin menjadi beban bagi rekan perjalanan saya).

Telaga Warna. Ini adalah titik pertama yang kami datangi sebelum mendaki ke Prau. Kala itu bulan April dan saya simpulkan bahwa bulan ini bukan saat yang paling tepat untuk mendaki. Baru tiba di tepi danau setelah tracking sekitar 20 menit, gerimis mulai turun. Kami hanya sempat sebentar menikmati keindahan telaga vulkanik yang berwarna hijau ini. Pasalnya, hujan makin deras dan kami tidak membawa payung.  Saat menaiki jalan setapak, saya diberitahu bahwa tak jauh dari tempat kami ada Candi Arjuna. Saya berteriak ingin melihatnya, tapi apa daya, hujan yang deras mematahkan semangat itu. Kami berlari ke tepi jalan yang ada sedikit tempat berteduhnya. Kala itu saya hanya bergumam, semoga saya bisa datang lagi ke Dieng, khususnya ke Telaga Warna dan Candi Arjuna saat cuaca cukup bersahabat.

Tetap tersenyum melihat Telaga Warna meskipun mulai diguyur hujan.
Kita harus bertemu lagi, Telaga Warna.

Tapi, besoknya saya malah menyadari. Mendaki Gunung Prau di bulan April tak selamanya tidak indah. Karena saya akhirnya bisa bertemu padang bunga daisy di puncak Gunung Prau. Tak henti-henti saya berterimakasih kepada Tuhan karena diberi dorongan untuk bisa mendaki Gunung Prau. Asli, gunung ini adalah paket lengkap yang sangat indah. Puncaknya sangat indah dengan bukit-bukit teletubies mini, belum lagi pemandangan puncak-puncak gunung di sekeliling Prau menambah lengkap kenangan di puncak saat itu.

Dari puncak Gunung Prau terlihat Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro, Slamet, Lawu, dan Semeru. Saat itu saya bergumam, semoga saya bisa mendaki hingga ke puncak gunung-gunung yang terlihat gagah dan indah dari puncak Prau ini. Tiga akhirnya bisa saya capai di kemudian hari yakni Merbabu, Sumbing, dan Sindoro. Sisa lainnya Merapi, Slamet, Lawu, dan Semeru tetap ada di dalam impian saya. Semoga suatu saat nanti Tuhan beri kesempatan dan kekuatan untuk bisa mendaki sampai puncak dan kembali dengan selamat dan tanpa kurang suatu apapun, amin.

Menyaksikan matahari terbit adalah suatu kemewahan di gunung sekaligus wujud rasa syukur.

Setelah pulang dari Dieng, butuh waktu hampir sebulan agar saya benar-benar bisa move on dan tidak memposting foto-foto perjalanannya lagi di media sosial saya, hahaha (maafkan saya cukup alay). Ya mau bagaimana lagi, keindahan Dieng benar-benar tak bisa saya lupakan begitu saja. Apalagi fakta bahwa hujan mengguyur saat di Telaga Warna dan kandas bertemu Candi Arjuna membuat saya tetap berharap bisa ke sana lagi di lain waktu.

Masih terngiang Telaga Warna yang berkabut, huhuhu.

Harapan itu akhirnya terwujud, karena setahun kemudian saya kembali lagi ke Dieng. Tujuan utamanya adalah ke Sikunir. Orang menyebutnya Bukit Sikunir, namun ketinggiannya tidak begitu jauh dengan Prau. Yang membuat pendakiannya tidak seberat Prau adalah karena medannya yang tidak begitu curam, tidak banyak hutan lagi, dan memang sudah dikembangkan sebagai kawasan wisata. Jadi, aksesnya juga sudah mudah meskipun tetap harus tracking ke puncak untuk melihat matahari emas yang terkenal itu. Ya. Golden Sunrise yang setahun lalu saya dengar dari penjaga warung saat kami berteduh dari derasnya hujan kala itu. Saat mengamati warung itu, saya juga melihat sebuah kalender dengan foto Golden Sunrise Sikunir. Ya otomatis, saya yang suka penasaran ini juga ingin melihat matahari terbit yang syahdu itu.

Golden Sunrise jagoan di Sikunir.

Setelah puas menyaksikan golden sunrise di Sikunir, yang waktu itu saya tasbihkan sebagai matahari terbit terindah yang pernah saya saksikan, kami akhirnya ke Telaga Warna. Oh, Hai, Telaga Warna! Itulah yang saya gumamkan saat tiba lagi di danau vulkanik hijau ini. Kali ini cuaca lebih bersahabat, meskipun saat itu saya mendakinya di bulan Februari. Tapi, tampaknya saya beruntung karena Tuhan menyayangi saya dan memberikan cuaca yang cerah kali kedua ini. Saya akhirnya bisa mengamati Telaga Warna dengan tenang dan lebih lama kali ini. Ahh, indah dan syahdunya.

Duileh sumringahnya yang akhirnya bertemu di cuaca cerah.
Plus, kali ini pinter bawa payung, hehehe.

Setelah itu, kami juga sempat ke Kawah Sikidang. Kawah ini juga menarik karena dikelilingi perbukitan hijau dan pemandangan di sekitar kawahnya juga bagus. Yang justru paling saya senangi dan kenang saat ke Kawah Sikidang adalah bisa bermain dan foto bersama burung hantu (aduh, saya tidak suka dengan kata terakhirnya, jadi saya ganti dengan owl saja ya, hihihi). Owl ini sangat lucu, manis, dan mengingatkan saya dengan Hedwig-nya Harry Potter. Tentu saja, saya harus tetap berhari-hati. Untungnya, ada perawat owl yang selalu mendampingi dan memperhatikan.

Di Kawah Sikidang.

Perjalanan kali kedua ke Dieng ini akhirnya ditutup dengan pertemuan dengan Candi Arjuna. Kekecewaan tahun lalu akhirnya terbayar sudah. Kawasan candi ini sangat syahdu karena berada di ketinggian dan dikelilingi kabut. Sangat indah. Meskipun beberapa titik candi sedang dalam masa perawatan saat itu, tapi saya takjub bahwa candi ini sangat terawat dan raai dikunjungi.

Sumringahnya yang akhirnya bertemu Candi Arjuna.

Berbicara tentang situs peninggalan, ada satu situs yang sangat ingin saya kunjungi di suatu hari nanti, yakni Trowulan. Kawasan ini merupakan peninggalan Majapahit, kerajaaan yang kuat pada masanya dan terkenal. Semoga bisa tercapai untuk berkunjung dan belajar sejarah ke Trowulan, amin.

Sumringah membayangkan rencana ke Trowulan, amin.

Berbicara tentang harapan juga, saya masih tetap ingin kembali lagi ke Dieng. Saya ingin menyaksikan sendiri Festival Dieng dan upacara Potong Rambut Anak Gimbal dan nonton Jazz yang beberapa waktu lalu pernah dihelat di Dieng juga. Saya optimis bisa kembali lagi dan memenuhi impian saya di kemudian hari, amin.

Si Pemimpi yang selalu membayangkan tempat baru
setelah mengunjungi tempat yang ia dambakan.

Jadi, seperti yang pernah saya tulis, selalu ada kesempatan kedua untuk satu hal. Jika saat pertama gagal atau tidak berjalan sesuai harapan, jangan putus asa, jika memang sudah rejeki dan sudah jalannya, pasti ada saja jalan untuk kembali. Seperti saya dengan Dieng, Sang Negeri di Atas Awan.

Bonus foto bersama Hedwig KW Super!

Say chese!