Merasakan Ramadhan untuk Pertama Kalinya di Korea Selatan

Tak terasa sudah masuk bulan puasa Ramadhan lagi ya! Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan untuk yang menjalankannya. Saya seorang nonmuslim tapi karena tumbuh dan besar di Indonesia dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam membuat suasana bulan Ramadhan juga memberikan nuansa tersendiri bagi saya. Lingkungan saya hampir semuanya menjalankan ibadah puasa, saya pun jadi ikut belajar menahan diri agar tidak mengganggu ibadah mereka.

Meskipun tidak puasa, tapi saya juga sering ikut serta merasakan sebagian tradisi masyarakat Indonesia saat Ramadhan. Sebut saja munggahan alias makan bersama untuk menyambut bulan puasa, buber alias buka bersama (meskipun tidak sahur dan tidak puasa tapi ikut berbuka puasanya, hahaha), mendapat THR dari kantor (puji Tuhan), mendapat bingkisan kue-kue kering, sampai tentunya jajan berbagai penganan khas Ramadhan seperti kolak, sop buah, dan jajanan lainnya.

Bahkan saat masih kecil dulu, di hari-hari tertentu, saya bersama adik dan Bapak sering main ke rumah tante, adik Bapak saya, yang merupakan muslim dan menjalankan puasa. Dia selalu memasak banyak makanan untuk buka puasa dan memanggil kami untuk ikut makan bersama. Apalagi saat malam takbiran, tante akan memasak jauh lebih banyak dan beraneka ragam. Di Hari Raya Idul Fitri, mereka sekeluarga akan datang ke rumah kami dengan membawa banyak makanan. Kami sekeluarga akan makan bersama dan diakhiri dengan prosesi maaf-maafan. Meskipun berbeda, tapi kami hidup dalam kebersamaan dan kekeluargaan yang kental.

Pengalaman dan nuansa yang dirasakan teman-teman muslim tentu sangat berbeda karena memang yang menjalankan puasa dan berbagai rangkaian ibadah selama bulan Ramadhan. Tapi, nuansa bulan Ramadhan yang sangat kental sudah menjadi tradisi dan bagian hidup masyarakat Indonesia yang sangat beragam.

Dulu saya sering bertanya, bagaimana ya nuansa Ramadhan di negara-negara yang berbeda dengan Indonesia? Bagaimana suasana Ramadhan di Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, China, Australia, Inggris, India, dan berbagai negara lainnya? Seiring berjalan waktu, berbagai negara pun mulai mengimplementasikan wisata moslem friendly alias wisata yang ramah bagi muslim. Dimulai dengan menyediakan tempat-tempat ibadah seperti musala beserta fasilitasnya, membuka rumah-rumah makan halal, dan lain sebagainya.

Makanya, tahun 2019 lalu, saya sangat beruntung saat berkesempatan traveling ke Korea Selatan tepat saat akan memasuki bulan puasa, saya cukup excited. Saya memenangkan sebuah kompetisi menulis yang hadiahnya jalan-jalan ke Korea Selatan. Di rombongan kami yang berjumlah 8 orang, hanya saya yang tidak berpuasa. Saya benar-benar ingin mengetahui bagaimana suasana bulan puasa Ramadhan di Korea Selatan.

Suasana kawasan muslim di Itaewon, Seoul

Puasa di Korea Selatan dimulai maksimal pukul 4 subuh dan berakhir pukul 7.30 setiap malamnya. Cukup panjang jika dibandingkan dengan di Indonesia. Selain itu, jika diperhatikan di beberapa pusat turis atau wisata, tidak ada perubahan atau nuansa Ramadhan yang signifikan, kecuali di daerah Itaewon, Seoul.

Jalan menuju masjid utama di Itaewon, menaranya langsung terlihat.

Itaewon memang dikenal sebagai kawasan muslim di Seoul. Di sini terdapat salah satu masjid terbesar di Korea Selatan yang bernama Seoul Central Masjid. Masjid ini sangat strategis dan mudah ditemukan karena kubah dan menaranya, serta letaknya yang memang di kawasan ramai dan di tepi jalan.

Kawasan Seoul Central Masjid dari tampak dekat.

Begitu masuk ke kawasan masjid ini, terpampang aturan atau tata tertib memasuki masjid, seperti pakaian tertutup, dan lain sebagainya. Di dalam kawasan masjid ini juga terdapat sekolah khusus muslim. Nuansa masjid ini sangat syahdu, apalagi saat senja karena berlatar matahari terbenam.

Memasuki kawasan masjid.
Panduan dan tata tertib saat berada di dalam masjid.

Kebanyakan jamaah yang datang untuk sholat tampaknya berasal dari Timur Tengah, Turki, India, Malaysia, dan Indonesia. Begitu masuk ke kawasan ini, sampai ke depan masjid, suasananya sangat mirip dengan suasana masjid di Indonesia pada umunya, bedanya hanya jamaahnya yang sangat beragam ras antarbangsa.

Salah satu sisi masjid.

Saat itu, teman-teman saya menunaikan sholat tarawih pertama. Mereka terlihat campur aduk. Tentu saja, ibadah puasa yang biasanya dilaksanakan bersama keluarga dan di tengah suasana yang sangat familiar, kini harus dilakukan di negara asing. Saya menjaga barang-barang mereka di luar masjid, sambil mengabadikan gambar masjid dari berbagai angle. Bagi saya pun, pengalaman seperti ini sangatlah berharga dan sangat langka.

Keindahan Seoul Central Masjid dari jepretan kamera saya sambil jaga barang teman-teman, haha

Begitu selesai tarawih, kami berjalan untuk makan malam di sebuah restoran Malaysia. Ya, di sepanjang jalan masjid ini banyak berderet restoran halal dan berbagai food stall seperti  kebab, es krim Turki, dan makanan khas negara-negara muslim lainnya. Sejauh mata memandang terlihat restoran Turki, India, Malaysia, Timur Tengah hingga Mesir.

Restoran makanan khas Melayu dan Mesir
Restoran Turki.
Restoran India.

Di Itaweon ini juga banyak mahasiswa yang berasal dari Indonesia dan Malaysia. Maka tak heran jika kawasan ini sangat terasa familiar karena kental nuansa muslimnya. Mereka makan sendiri atau paling banyak berempat.

Para mahasiswa muslim yang banyak lalu lalang di kawasan Itaewon.

Memang, tidak seramai suasana di Indonesia, seperti berburu takjil jelang berbuka atau berbuka puasa serombongan. Namun, saya bisa merasakan suasana yang syahdu di sekitar Itaweon bahwa di kawasan ini cukup terasa sambutannya terhadap bulan Ramadhan.

Salah satu takjil di Itaweon, es krim Turki.

Seperti biasa, saya juga tergugah ingin merasakan suasana Ramadhan di negara asing lainnya. Penasaran bagaimana suasana Ramadhan di negara yang panjang durasi hingga matahari terbenam seperti di Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara lainnya. Semoga ada kesempatan lagi ya, Amin.

Islamic School di dalam kawasan Seoul Central Masjid.

Oh iya, saya ingin mengucapkan: Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan untuk semua pembaca everywheretowalk yang menjalankan. Meskipun bulan puasa tahun ini sangat terasa berbeda karena pandemik Covid-19, tetapi tetap semangat dan berbahagia ya! Semoga sehat selalu dan full menjalankan puasanya hingga di Hari Kemenangan nanti.

Kenangan Nonton Konser Coldplay di Bangkok

Salah satu dampak karantina mandiri dan Work From Home selama belasan hari di rumah akibat pandemik Covid-19 ini adalah jadi sering bernostalgia dan halu. Tepat tiga tahun lalu, 7 April 2017, saya dan teman-teman nonton konser band ternama dunia, Coldplay, di Rajamanggala Stadium, Bangkok, Thailand. Ini adalah konser pertama band besar yang saya tonton di luar negeri.

Tidak ada kepastian akan bisa traveling ke luar negeri di tahun 2020 ini membuat saya membuka lagi foto-foto perjalanan yang sudah pernah saya lakukan di tahun-tahun sebelumnya. Saya belum banyak melakukan perjalanan ke luar negeri. Bahkan, pertama kalinya saya keluar negeri adalah tahun 2016 ke Jepang.

Saya adalah “penganut” quote Dalai Lama once a year, go to someplace you’ve never been before. Jadi bagi saya perjalanan itu tidak harus keluar negeri, di dalam negeri pun masih banyak tempat bagus yang belum pernah saya datangi. Jadi, jika ada kesempatan yang bagus, tabungan mencukupi, dan situasi memungkinkan , maka saya akan berusaha untuk bisa melakukan perjalanan. Dalam setiap perjalanan, saya selalu berusaha untuk menambah teman-teman baru.

Bersama teman-teman saat akan naik BTS Skytrain.

Di awal April 2017 lalu, saya dan teman-teman melakukan perjalanan ke Thailand dengan agenda utama adalah menonton konser Coldpay. Saya sangat menyukai lagu-lagu Coldplay, terutama lagu-lagu yang menyemangati hidup. Lagu-lagu mereka tidak melulu soal romantisme tapi juga bagaimana kehidupan nyata itu berjalan. Itulah yang saya sukai dari mereka, selain suara Chris Martin yang benar-benar adem tentunya.

Tiket konser sudah dibeli sebulan sebelumnya, harganya kurang lebih Rp 1 juta. It was worth the price. Apalagi, Coldplay sangat selektif terkait tempat penyelenggaraan tour-nya. Untuk Asia Tenggara, mereka hanya memilih Singapura dan Thailand. Mereka tidak memilih datang ke Indonesia. Mereka tentu memiliki pertimbangan tersendiri untuk hal itu.

Ready to rock and roll.

Konser Coldplay di Thailand berlokasi di salah satu stadium terbesar di Bangkok yakni Rajamanggala Stadium. Tidak susah untuk melakukan perjalanan di Bangkok. Transportasi umumnya sangat membantu. Bangkok sudah dilengkapi dengan Bangkok Mass Transit System atau sering disebut BTS Skytrain.

Naik BTS Skytrain.

Selain itu, ada juga Taksi Sungai berupa perahu yang berfungsi layaknya bus atau taksi. Perahu ini akan berhenti di tiap halte. Transportasi ini cukup efektif sebagai alternatif mengingat Kota Bangkok cukup macet.

Naik Taksi Sungai di siang hari yang cerah di Bangkok.
Penampakan Taksi Sungai di Bangkok.

Cuaca Bangkok di bulan April sama persis seperti di Jakarta, panas terik dan gerah. Begitu sampai di stadium dan berhasil menukarkan tiket, kami langsung berburu Thai Tea. Di sini, Thai Tea dijual dalam cup-cup besar dan cukup murah. Puas rasanya minum Thai Tea di negara asalnya di tengah panas siang bolong. Untuk melengkapi pertualangan konser ini, kami pun membeli kaos merchandise Coldplay dan langsung memakainya agar pengalamannya kian sempurna.

Jajan dullu biar punya energi untuk jingkrak-jingkrak.

Konser sebenarnya berlangsung setelah matahari terbenam, tapi demi menikamti konser ini dengan penuh dan utuh, kami sudah stand by dari siang, hahaha. Kami mengisi perut dengan beli jajanan pasar seperti sosis goreng dengan bumbu Thailand dan lain sebagainya. Lucunya, banyak sekali orang Indonesia yang menonton konser ini. Sampai-sampai setiap pergi kemanapun selalu bertemu dengan orang Indonesia. Serasa di GBK saja, hahaha.

Di dalam Rajamanggala Stadium.
Panggung utama.

Menunggu di dalam stadium cukup menyenangkan apalagi ditemani sunset Bangkok yang cerah dan indah. Setelah dibuka oleh opening band yang maaf saya lupa siapa waktu itu, akhirnya Chris Martin dan kawan-kawan pun menghentak panggung. Belasan lagu hits mereka menggema di seluruh stadium. Ribuan fans bernyanyi dan berlompat.

Sunset Bangkok jelang konser dimulai.

Lagu andalan saya? Jangan tanya lagi, hampir semua lagi hits mereka adalah lagu andalan bagi saya. Tapi, puncak dari semua lagu mereka bagi saya adalah Something Just Like This. Performa Chris yang sudah menyanyikan belasan lagu sambil berjingkrak-jingkrak tetap stabil dan prima. Lagu ini adalah salah satu lagu yang sering saya dengarkan bahkan jadi repeat one di music player saya.

Chris Martin saat membawakan lagu Something Just Like This.

Ini adalah konser terbesar yang pertama kali saya hadiri. Lampu berbagai warna yang indah, balon-balon raksasa yang beterbangan, dan confetty yang diluncurkan di akhir konser membuat seluruh performa Coldplay yang indah makin sempurna.

Konser yang syahdu.
A concert to remember.

Kepuasan bisa bernyanyi sepenuh hati dan berjingkrak-jingkrak berhasil menghilangkan stres saya dan rasanya saya di-recharged! Hidup saya seperti diperbarui lagi. Setiap rupiah yang saya keluarkan untuk konser ini benar-benar berarti. Akhirnya saya mengerti, inilah salah satu arti menikmati hidup.

Coldplay di panggung yang terdekat ke tribun.

Beberapa hari setelah konser berlangsung, kami masih jalan-jalan di Bangkok. Setiap hari itu juga, kami masih terngiang akan konser dan terus membahasnya. Lagu-lagu Coldplay terus kami putar atau kami gumamkan. Benar-benar susah move on. Ya iyalah ya, konser spektakuler itu sangat membekas, rasanya ingin menonton lagi.

Chris saat membawakan lagu Everglow.

Coldplay masih akan singgah ke Jepang dan Korea untuk sisa tour mereka di Asia sebelum akan menutupnya di Amerika. Saat itu, ingin rasanya traveling ke Korea atau Jepang untuk bisa menonton konser mereka lagi. Halu sih rasanya, hahaha. Selain tabungan harus dijaga, cuti pun rasanya harus dihemat-hemat. Tapi, impian untuk bisa menonton konser Coldplay lagi di negara lain yang belum pernah saya datangi masih ada dan semoga bisa terwujud suatu saat nanti. Amin.

Till we meet again, Coldplay.

Konser siapa yang pernah kalian tonton di luar negeri dan sangat membekas? Yuk, share ya!

*Tetap jaga kesehatan dan terapkan perilaku hidup sehat ya selama masa pandemik Covid-19 ini. Tidak apa-apa mengulas lagi cerita perjalanan yang sudah dilakukan untuk mengisi waktu di rumah. Apalagi bagi yang terbiasa melakukan perjalanan setiap tahun, hal ini akan sangat bermanfaat untuk mengobati rasa rindu itu.

Setelah 18 Tahun, Akhirnya Kesampaian Nonton PROLIGA LIVE

Tahun 2002, saya masih kelas 1 SMP (ketahuan deh, hahaha). Meskipun sudah sering menyaksikan remaja-remaja kampung main bola voli sejak kecil, namun bisa dipastikan kalau kecintaan saya pada voli dimulai sejak kelas 1 SMP. Waktu itu, saya kerap bermain voli dengan teman-teman di kampung. Bolanya bukan bola voli asli, tapi cuma bola plastik yang biasa dimainkan anak-anak SD. Lapangannya pun hanya lapangan depan rumah yang netnya pakai tiang asal dipancak dan tali plastik. Kocak memang, tapi yang terpikirkan saat itu hanya kesenangan bermain dengan teman, menerima dan memukul bola tanpa peduli menang atau kalah.

Entah bagaimana ceritanya waktu itu, saya menonton TV dan membuka channel TVRI dan seketika melihat ada program pertandingan bola voli. Saya tahu ada NBA dan kalau di Indonesia ada IBL karena bola basket memang populer. Tapi saat itu, saya baru tahu kalau ada liga untuk bola voli nasional juga.

Setelah menonton siaran pertandingannya dan mendengarkan pembicaraan para komentatornya hampir tiap hari, saat itu saya tahu bahwa PROLIGA merupakan sebuah turnamen voli yang diikuti klub-klub se-tanah air. Meskipun yang bisa saya ingat, saat itu klub-klub yang ikut ada dari Jakarta (dengan klub terbanyak), Bandung, Yogyakarta, Gresik, dan Surabaya. Setiap klub diperbolehkan mengontrak pemain asing. Tahun 2002 merupakan perhelatan PROLIGA untuk pertama kalinya.

Klub favorit saya adalah Bandung Tectona, kenapa? Karena Ace klub puterinya bernama Fenny, sama dengan nama saya (beda penulisan saja tapi intinya sama, hahaha). Saya senang menyaksikan Fenny dengan tubuhnya yang tinggi melakukan vertical jump dan menggebuk bola dengan menukik ke lapangan lawan. Saya lupa siapa yang menjadi pemenang tiap kategori. Yang pasti, saya makin getol dan suka dengan voli.

Waktu kelas 2 SMP, ada liga HUT sekolah dan saat itu para siswa perempuan mengikuti pertandingan voli. Jadi kelas 1 melawan kelas 2. Kelas 3 sudah tidak ikut karena harus persiapan ujian kelulusan. Saat itu, dengan pengalaman dan latihan yang minim, saya selalu masuk dalam tim kelas. Berbekal wawasan menonton PROLIGA, akhirnya kami bisa menjadi pemenang saat itu.

Hampir setahun kemudian, salah satu guru olahraga di sekolah mendatangi kelas kami dan berbicara ke Wali Kelas bahwa saya masuk dalam Tim Inti Voli Putri sekolah yang akan bertanding melawan SMP sekabupaten. Tentu saya sangat senang. Entah karena guru tersebut melihat saya bertanding saat acara sekolah dulu, atau dapat rekomendasi dari teman yang sudah lebih dulu masuk tim inti, saya tidak tahu. Tapi, dari kelas kami, saya adalah satu-satunya yang mengikuti proglam latihan ini. Meskipun kami gugur di tahap awal karena melawan tim sekolah lain yang jauuuh lebih berpengalaman, kenangan itu akan menjadi pengalaman sekolah yang tidak akan saya lupakan.

18 tahun kemudian, saya kembali ke cinta lama saya yakni voli karena tanpa sengaja menemukan anime Haikyuu. Anime ini bercerita tentang klub bola voli SMA Karasuno, sebuah sekolah di Prefektur Miyagi, Jepang. Semua ceritanya pun mengingatkan saya pada kenangan saat sekolah dulu. Kembali gandrung pada voli membuat saya mulai lagi mencari berbagai hal yang berkaitan dengan olahraga ini. Dari situ, saya akhirnya menemukan bahwa PROLIGA 2020 akan berlangsung. Menetap dan bekerja di Bandung tentu akan memudahkan saya jika benar-benar berkeinginan menonton pertandingan ini langsung di lapangan. Maklum, saat di kampung dulu, saya hanya bisa menonton lewat TV pertandingan yang dilangsungkan di Jakarta saat itu.

Jasen Kilanta dari Pertamina Energi, mengingatkan dengan siapa di Haikyuu?

Kali ini, PROLIGA 2020 dilaksanakan di beberapa daerah, bahkan di Palembang, Sumatera Selatan. Saya langsung mencari jadwal pelaksanaannya, dan berteriak senang saat tahu bahwa salah satu putaran akan dihelat di Bandung. Saya tidak perlu susah payah untuk ke luar kota. Setelah penantian pengumuman penjualan tiketnya, akhirnya tiket untuk 3 hari pertandingan beruntun pun bisa saya dapatkan.

Para atlet puteri yang tangguh.

Pertama kali melihat para bintang voli secara langsung tentu menyisakan kekaguman. Bagaimana tinggi badan mereka yang menjulang, otot-otot kaki yang kuat, tangan-tangan yang biasa menggebuk bola, dan mata mereka yang selalu bisa menyesuaikan kapan untuk tenang dan kapan untuk mawas dan siap membunuh bola.

Para atlet saat melakukan peregangan.
Pertandingan seru antara Jakarta Pertamina Energi VS Surabaya Bhayangkara Samator.
Dimenangkan dengan telak 3-0 oleh SBS.

Yang mengesankan, karena membeli tiket VIP, saya berkesempatan memilih tempat duduk yang sangat dekat dengan lokasi para pemainnya. Saya bisa melihat dengan dekat bagaimana mereka melakukan persiapan sebelum bertanding, bagaimana pemanasannya, apa yang mereka makan dan minum, sampai kebiasaan mereka saat rekannya berhasil memukul bola maupun saat gagal meraih poin. Tentu muncul pemikiran di benak, “Enak juga ya sepertinya jadi atlet voli?!” Hahaha, tentu itu hanya pemikiran iseng, karena di usia segini dan pengalaman latihan yang sangat minim, mana mungkin bisa memasuki dunia voli lagi.

Rivan Nurmulki, spiker dari Surabaya Bhayangkara Samator
sedang melayani permintaan selfie para fansnya, kebanyakan cewek pastinya, hahaha.

Selama tiga hari, saya menyaksikan hampir seluruh tim bertanding, baik putera maupun puteri. PROLIGA 2020 masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, apalagi setelah virus corona mewabah, beberapa jadwalnya harus diundur. Saya berharap dapat menyaksikan putaran finalnya, atau 4 besar di Jakarta nanti. Tentunya saat semua kondisi telah memungkinkan dan mendukung.

Biasanya melihat cheerleader di pertandingan basket,
tapi saat PROLIGA 2020 di Bandung ada juga nih waktu jeda istirahat antar babak.

Meksipun bukan pemain andal, tapi saya memiliki ikatan tersendiri dengan voli. Jadi, kalau impian saya saat kelas 1 SMP untuk bisa menyaksikan PROLIGA secara langsung bisa tercapai, saya pun yakin impian saya yang lebih tinggi tentang voli bisa juga kesampaian. Ya, saya berkeinginan  bisa menyaksikan Olimpiade cabang Voli secara langsung suatu saat nanti. Berharapnya bisa menyaksikan di Olimpiade 2020 ini, semoga ada jalan, semoga semesta dan Tuhan mendukung. Amin.  

Pertama Kali Nonton Festival Musik, and I Want More!

Bisa dihitung jari, saya baru pernah nonton konser beberapa kali saja seumur hidup. Pertama kali waktu kuliah, namanya Symphonesia garapan anak-anak fakultas sebelah. Waktu itu lumayanlah akhirnya bisa nonton langsung Ecoutez, Efek Rumah Kaca, dan Glenn Fredly.

Terus baru-baru kerja berkesempatan nonton Konser Hillsong, 2 tahun berturut-turut. Harga tiketnya juga masih terjangkau, Rp100.000. Setelah itu, bertahun-tahun saya tidak terlalu tertarik dengan konser lagi. Langsung terbayang bagaimana masuk ke area konser macet dan mengantre panjang. Di dalam lokasi konser harus desak-desakan dan berdiri berjam-jam. Belum lagi pulangnya bisa antre berjam-jam. Paling naas, karena badan saya tidak begitu tinggi, saya sering kehalang orang-orang di depan saya.

Selain itu, harga tiket konser kadang di luar akal sehat saya. Meskipun saya sudah bekerja, tapi kadang masih sayang saja rasanya. Tapi dunia konser kembali ke kehidupan saya. Dimulai sejak tahun 2017 lalu. Awalnya saya hanya ingin bergabung bersama teman-teman yang ingin jalan-jalan ke Thailand. Fokus utama saya adalah di jalan-jalannya. Namun, karena saya diracuni oleh teman saya bahwa ada konser Coldplay di Bangkok juga saat itu. Saya memang penikmat Coldplay, jadi mulai goyahlah pertahanan saya. Waktu itu, harga tiketnya Rp1.000.000. Saya anggap saja ini sebagai reward kepada diri sendiri dan jarang-jarang juga bisa nonton konser Coldplay, karena mereka sangat selektif buat konser di Asia Tenggara. Belum tentu akan datang ke Indonesia.

Suasana Konser Coldplay.

Setidaknya, uang yang saya keluarkan sangat pantas! Saya mendapatkan pertunjukan yang luar biasa. Belasan lagu yang bisa saya nyanyikan dengan lepas bersama teman-teman. Belum lagi, tidak ada kelelahan yang berlebihan, karena kami nonton di stadium bola dan pengaturan penontonnya sangat profesional. Saya susah move on bahkan sampai seminggu setelah konser. Saya masih nonton video yang saya rekam berulang-ulang. Masih lihat foto-foto jepretan kamera hp. Masih bercerita dengan teman-teman tentang keseruan konser, dan banyak lagi.

Senang, hehehe

Setelah itu, saya belum pernah nonton konser lagi, karena belum menemukan konser yang menurut saya pantas untuk dikucurkan dari uang tabungan. Setahun berlalu, tepat dengan pelaksanaan Asian Games 2018 di Jakarta. Waktu beberapa jam jelang pembukaan, saya dikabarin dapat tiket gratis untuk nonton langsung opening ceremony Asian Games di GBK. Saya kesal campur sedih, pasalnya lokasi saya di Bandung sementara saya harus ke Jakarta kalau menonton itu. Pemberitahuan mendadak ini sia-sia saja, karena durasi berangkat dari Bandung ke Jakarta, belum lagi macet menuju GBK, antre masuk stadion, sudah tidak masuk akal untuk dikejar. Saya akhirnya hanya menonton luar biasanya Tari Ratoe Jaroe dari TV di rumah. Untungnya nonton di NET TV, apalagi TV Samsung sudah FullHD, jadi suasananya terasa sekali dan cukuplah mengobati hati yang kecewa.

Tapi, kekecewaan ini akhirnya terobati sempurna karena satu hari jelang upcara penutupan Asian Games, saya dikabarin dapat tiket gratis nonton di GBK. Kali ini saya tentu tidak akan lewatkan begitu saja. Alhasil, saya bisa nonton Super Junior (waaa, Oppa kahirnya nonton performance kalian secara langsung di dunia nyata), Ikon, Lea Simanjuntak, Bams, Isyana, dan masih banyak lagi waktu itu. Lumayanlah, walaupun mereka terlihat sangat kecil saking luasnya GBK, hahaha.

Closing Ceremony Asian Games 2018 di GBK, Jakarta.

Paling terbaru, hampir 2 tahun setelah nonton konser Asian Games, saya akhirnya bisa nonton konser lagi, Minggu 2 Februari 2020 di Pangkalan Udara Husein Sastranegara, Bandung. Kali ini berbeda, karena berupa festival musik. Apa sih bedanya? Di festival musik, tidak hanya 1 panggung yang tersedia, bahkan bisa sampai 4 panggung di lokasi yang sama. Ingin memaksimalkan konser, maka saya pun sudah membuat list siapa saja yang akan saya tonton dan di jam berapa.

Bahagianya, cuaca Bandung yang belakangan biasanya selalu hujan deras, seharian itu cerah. Bahkan saat senja, langit sangat cantik. Banyak sesama penonton konser yang foto-foto saking langitnya cantik. Berada di Bandara Husein cukup nostalgic bagi saya. Pasalnya, sejak mayoritas penerbangan banyak yang dipindahkan ke Bandara Kertajati, di Majalengka, saya dan keluarga jadi jarang ke Husein.

Cantiknya langit sore di Husein Sastranegara, Bandung.

Hampir 12 jam berada di Playlist Love Festival sangat menyenangkan dan worth it. Mulai dari fasilitas kebutuhan dasar, misalnya toilet portable yang tersedia cukup banyak. Apalagi ada toilet khusus wanita yang disediakan oleh Protex sebagai salah satu sponsor. Jadi, para pengunjung wanita bisa lebih lega karena punya toilet khusus sendiri.

Lounge KAI di lokasi festival.

Untuk kebutuhan makan, ada banyak sekali gerai tersedia. Mulai makanan ringan sampai yang berat sekalipun. Saya sendiri makan ricebbowl isi cumi panggang saus jamur waktu itu. Enak sekali, apalagi memang sudah sangat lapar saking semangatnya nonton konser.

Untuk kebutuhan minum, sama juga, banyak gerai yang tersedia. Meskipun banyak gerai minuman hits seperti boba, tapi saran saya utamakan minum air mineral karena suasana konser biasanya sangat gerah dan butuh cairan banyak karena kita banyak bergerak dan bernyanyi juga, meskipun suara seadanya yang penting nyanyi sengan sepenuh jiwa raga, haha.

Satu dari 4 stage.

Alhasil, saya bisa menuyaksikan Maliq & d’Essentials, Jaz, The Overtune, Hivi, Naif, MYMP, Afgan, Raisa, Callum Scott, dan Agnez Monica. Tentu itu hanya sebagian penyanyi yang berhasil saya tonton, karena banyak yang bentrok dan saya pun tidak nonton sampai penutupan karena sudah sangat larut.

Perjuangan untuk mendapatkan foto ini karena fans Afgan begitu histeris dan aktif, hahaha.

Beberapa yang paling berkesan bagi saya tentu saja MYMP dan Raisa. MYMP adalah band yang sangat dekat dengan saya saat era kuliah dulu. Meskipun saya terhitung telat tahu tentang MYMP, tapi lagunya selalu saya dengarkan setiap sendirian di kosan, saat di DAMRI dari Jatinangor ke Bandung atau sebaliknya, atau saat jalan kaki dari kampus ke kosan. Pokoknya, sangat berkesan. Nah, bisa menyaksikan langsung band ini tentu jadi pengalaman yang tak berkesan.

MYMP uh my love.

Sedangkan alasan utama saya semangat untuk ikut konser ini adalah Raisa. Saya belum pernah menonton Raisa secara langsung. Suara Raisa bisa dibilang sebagai masterpiece. Sangat khas, jernih, dan berpower. Bagian favorit saya adalah Could it Be, apalagi saat Raisa mengambil nada tertinggi di bagian akhir lagu. Selain itu, Raisa juga ternyata sangat komunikatif dan pintar menghibur penontonnya, baik yang laki-laki maupun perempuan.

Sepulang dari konser, sudah hampir tengah malam dan kaki pegal luar biasa. Tak hanya kaki, pinggang dan punggung cukup encok karena banyak berdiri seharian. Saya punya tips untuk yang satu ini. sesampainya di rumah, saya langsung masak air dan begitu mendidih, saya tuang ke sebuah ember dan campur dengan air dingin agar hangat-hangat kuku. Kemudian, saya masukkan garam laut ke dalam air hangat itu, dan rendamlah kaki sampai airnya dingin. Nyessss, enak, nyaman, dan pegal jadi hilang. Nah, agar tidur makin nenyak dan tidak gelisah karena capek, sengantuk apapun jangan lupa mandi pakai air hangat. Biar badan terasa seperti dipijat. Alhasil tidurpun nyenyak dan siap untuk bekerja besoknya.

Jadi, apakah saya akan menonton konser lagi? Tentu saja!

Liburan Awal Tahun, Sepenting Itu!

Buka social media di awal tahun itu nano-nano rasanya. Di satu sisi senang, karena melihat banyak traveler yang masih liburan ke berbagai negara. Di saat yang sama, itu juga bikin gigit jari. Apalagi buat pekerja yang masih menunggu kebijakan cuti tahunan. Di saat seperti ini sering galau melihat para traveler yang kebanyakan freelancer sehingga bisa “cuti” sebebas dan sebanyak yang dimau. Tetapi, tetap harus bersyukur karena apapun itu pasti ada plus-minusnya. Jadi, always be grateful!

Di awal Januari begini, traveling ke negara dengan musim winter sepertinya jadi pilihan banyak traveler. Seperti di timeline instagramku, ada yang ke negara-negara Scandinavia, Inggris, USA, dan negara-negara yang lagi winter lainnya. Meskipun liburan di musim winter lebih butuh persiapan ekstra seperti pakaian musim dingin, sepatu musim dingin, dan perengkapan lainnya. Tapi, pastinya memberikan pengalaman dan kesan yang tak akan terlupakan, apalagi buat orang-orang yang hidup di negara tropis. Which is salju adalah kemustahilan.

Eh tapi, ada sedikit hiburan meskipun tidak bisa liburan. Apa itu? Di instagram tengah banyak bermunculan filter-filter interaktif yang cukup menyenangkan untuk dicoba. Just for fun! Sebagai yang punya rasa penasaran, saya pun mencobanya, tentu memilih yang relevan, such as traveling. Ada satu filter yang judulnya “Where Shoul I Vacation Next?” Biasanya, saya suka mencoba filter berulang sampai dapat yang benar-benar sesuai keinginan, hahaha. Tapi, khusus traveling ini, saya benar-benar coba sesuai apa adanya, siapa tahu itu sign dari Tuhan dan peruntungan, haha (aminkan saja).

Tempat pertama yang muncul adalah North Pole, alias Kutub Utara. Meskipun tampak ngeri, tapi saya tetap excited. Identik dengan hipotermia, tapi saya tetap penasaran seperti apa wujud Kutub Utara itu. Mungkin bisa dimulai dengan tempat-tempat yang dekat dengan Kutub Utara seperti Alaska, Rusia, Denmark, Islandia, atau Kanada, amiiiiiiin.

Alaska, amin! (Pic. Lonely Planet)
Rusia, amin! (Pic. Lonely Planet)

Setelah dapat negara dingin, tentu penasaran mencoba kedua, setidaknya untuk daerah yang hangat. Percobaan kedua, muncullah nama Carribean Island alias Kepulauan Karibia, wohoooo! So so excited karena Karibia secantik itu. Amiiin.

Karibia, amin! (Pic. Lonely Planet)

Jangan tertawa dan sepele dulu! Haha. Meskipun ini cuma permainan, tapi berdasarkan pengalaman saya sebelumnya, hal yang tampak iseng tapi kalau diaminin dan dikasih afirmasi poritif bisa saja terjadi. Contohnya awal tahun lalu. Saya punya harapan dan afirmasi bisa traveling ke Korea Selatan dengan gratis dalam sebuah QnA iseng-iseng di instagram. Hanya selang beberapa bulan, harapan itu tercapai berkat sebuah kompetisi menulis dimana saya menjadi salah satu pemenang dari tiga orang yang dipilih. Puji Tuhan!

Jadi, selama itu adalah harapanmu dan ada niat positif di dalamnya, tetaplah berpengharapan. Yakinkah akan ada saja jalannya sambil tetap berusaha dan mencoba hal-hal positif yang membantu menuju impian tersebut. Niscaya ada harapan dan jalan.

Oke, mari kita lihat, tempat mana yang akan menjadi destinasi nyata selanjutnya? Rusia? Alaska? Kanada? Islandia? Denmark? Karibia? Atau semuanya? Aminkan saja dan berusaha! Amiiin.

*All pictures belong to The Lonely Planet. I adore you so much, The Lonely Planet!

Kembali ke Negeri di Atas Awan, Dieng

Waktu masih kecil dulu, ada sebuah acara di salah satu TV swasta nasional berjudul Anak Seribu Pulau. Alunan lagu Negeri di Awan yang dibawakan Katon Bagaskara selalu berhasil menyita perhatian dan pandangan saya. Saya menyaksikan di TV tabung dengan warna seadanya saat itu secene demi scene. Mulai dari anak-anak yang berlarian di padang rumput nan luas (yang belasan tahun kemudian saya sadari sebagao Tanah Sumba), anak-anak yang berenang dengan tawa riang di birunya laut nan jernih (yang di kemudian hari saya pahami sebagai Labuan Bajo, Flores), anak-anak yang berlarian di pasir hitam yang seperti tak ada habisnya (yang akhirnya saya kenal sebagai Bromo), dan masih banyak scene lainnya yang indah, yang kalau sekarang saya ingat membuat saya menangis karena ternyata sejak kecil saya memang sudah berhasrat untuk traveling di tanah Indonesia yang indah.

Namun, yang paling memikat adalah setiap Katon menyanyikan lirik “sebuah lagu tentang negeri di awan”, bagi seorang anak yang baru masuk sekolah, kalimat dan lirik itu serasa magis buat saya. Imajinasi saya saat itu menyajikan bahwa memang ada tanah di Indonesia yang sangat tinggi bahkan anak-anak di sana bisa menggapai awan setiap hari. Jika saya dan teman-teman bermain tali dan berlari di lapangan rumput, saat itu yang saya pikirkan bahwa beruntung sekali anak-anak Negeri di Atas Awan itu bisa merengkuh putih dan magisnya awan setiap saat mereka mau. Ya, begitulah imajinasi saya pada masanya. (Imajinasi yang sangat saya cintai, karena saat ini saya menyadari bahwa masa kecil saya penuh dengan kenangan indah, terutama tentang bahagianya anak-anak di Indonesia).

Menatap Sang Negeri di Atas Awan.

Aduh, saya tak bisa untuk tidak menyanyikan lirik lagu yang indah itu. (meskipun suara saya pas-pasan, huhuhu).

Setelah mata pelajaran Geografi memperkenalkan saya dengan istilah-istilah kontur bumi seperti dataran tinggi, dataran rendah, pegunungan, pantai, kepualauan, maka saya pun bertemu dengan sebuah nama yang saat mendengarnya pun terasa magis.

Dieng. Kala itu Guru Geografi juga menyebutkan bahwa dataran tinggi di Jawa Tengah ini kerap dijuluki sebagai Negeri di Atas Awan karena kawasan terendahnya pun berada di ketinggian lebih dari 2.000 MDPL (meter di atas permukaan laut). Saya langsung mekhayal kala itu. Suasana yang sejuk, pepohonan pinus, kabut, bukit-bukit, dan awan. Terhenyak, saya langsung teringat lagu Katon Bagaskara, Negeri di Awan. Saya pun penasaran saat itu, apa Dieng ini yang Katon maksudkan sebagai negeri di atas awan itu?

Betah menatap keindahan ini setiap hari.

Selang dua puluh tahun kemudian, saya tak menyangka akhirnya bisa menginjakkan kaki di negeri yang dulu selalu saya imajinasikan. Berawal dari tekad ingin mengunjungi tempat baru yang seumur hidup belum saya datangi, akhirnya saya bertemu dengan Sang Negeri di Atas Awan, Dieng. Bermodalkan keberanian ingin mulai mendaki gunung, saya akhirnya bergabung dengan open trip (yang anggotanya kemudian menjadi bagian penting dalam hidup saya karena merekalah teman perjalanan saya untuk menjelajahi pelosok Indonesia).

Karena perjalanan dilakukan dalam weekend biasa, maka hanya beberapa lokasi saja yang akan kami datangi dengan tujuan utama yakni Gunung Prau. Saat pertama kali sampai di Dieng, hawa dingin langsung terasa. Saat tiba di homestay yang akan kami tumpangi, saya melihat para kaum ibu dengan kulit wajah kemerahan, ciri khas kulit bagi yang tinggal di dekat gunung atau dataran tinggi. Mereka juga memiliki fisik yang kuat karena mereka tampak santai memanggul bakul-bakul besar sambil mendaki. Mata saya langsung bersinar dan berkaca-kaca, betapa saya mengagumi kekuatan mereka (sementara saya masih lemah, mau mendaki saja harus benar-benar percaya diri kalau jogging saya sudah cukup. Kalau masih ada keraguan, saya tidak akan berani mendaki, karena selain membahayakan diri sendiri, saya juga tidak ingin menjadi beban bagi rekan perjalanan saya).

Telaga Warna. Ini adalah titik pertama yang kami datangi sebelum mendaki ke Prau. Kala itu bulan April dan saya simpulkan bahwa bulan ini bukan saat yang paling tepat untuk mendaki. Baru tiba di tepi danau setelah tracking sekitar 20 menit, gerimis mulai turun. Kami hanya sempat sebentar menikmati keindahan telaga vulkanik yang berwarna hijau ini. Pasalnya, hujan makin deras dan kami tidak membawa payung.  Saat menaiki jalan setapak, saya diberitahu bahwa tak jauh dari tempat kami ada Candi Arjuna. Saya berteriak ingin melihatnya, tapi apa daya, hujan yang deras mematahkan semangat itu. Kami berlari ke tepi jalan yang ada sedikit tempat berteduhnya. Kala itu saya hanya bergumam, semoga saya bisa datang lagi ke Dieng, khususnya ke Telaga Warna dan Candi Arjuna saat cuaca cukup bersahabat.

Tetap tersenyum melihat Telaga Warna meskipun mulai diguyur hujan.
Kita harus bertemu lagi, Telaga Warna.

Tapi, besoknya saya malah menyadari. Mendaki Gunung Prau di bulan April tak selamanya tidak indah. Karena saya akhirnya bisa bertemu padang bunga daisy di puncak Gunung Prau. Tak henti-henti saya berterimakasih kepada Tuhan karena diberi dorongan untuk bisa mendaki Gunung Prau. Asli, gunung ini adalah paket lengkap yang sangat indah. Puncaknya sangat indah dengan bukit-bukit teletubies mini, belum lagi pemandangan puncak-puncak gunung di sekeliling Prau menambah lengkap kenangan di puncak saat itu.

Dari puncak Gunung Prau terlihat Gunung Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro, Slamet, Lawu, dan Semeru. Saat itu saya bergumam, semoga saya bisa mendaki hingga ke puncak gunung-gunung yang terlihat gagah dan indah dari puncak Prau ini. Tiga akhirnya bisa saya capai di kemudian hari yakni Merbabu, Sumbing, dan Sindoro. Sisa lainnya Merapi, Slamet, Lawu, dan Semeru tetap ada di dalam impian saya. Semoga suatu saat nanti Tuhan beri kesempatan dan kekuatan untuk bisa mendaki sampai puncak dan kembali dengan selamat dan tanpa kurang suatu apapun, amin.

Menyaksikan matahari terbit adalah suatu kemewahan di gunung sekaligus wujud rasa syukur.

Setelah pulang dari Dieng, butuh waktu hampir sebulan agar saya benar-benar bisa move on dan tidak memposting foto-foto perjalanannya lagi di media sosial saya, hahaha (maafkan saya cukup alay). Ya mau bagaimana lagi, keindahan Dieng benar-benar tak bisa saya lupakan begitu saja. Apalagi fakta bahwa hujan mengguyur saat di Telaga Warna dan kandas bertemu Candi Arjuna membuat saya tetap berharap bisa ke sana lagi di lain waktu.

Masih terngiang Telaga Warna yang berkabut, huhuhu.

Harapan itu akhirnya terwujud, karena setahun kemudian saya kembali lagi ke Dieng. Tujuan utamanya adalah ke Sikunir. Orang menyebutnya Bukit Sikunir, namun ketinggiannya tidak begitu jauh dengan Prau. Yang membuat pendakiannya tidak seberat Prau adalah karena medannya yang tidak begitu curam, tidak banyak hutan lagi, dan memang sudah dikembangkan sebagai kawasan wisata. Jadi, aksesnya juga sudah mudah meskipun tetap harus tracking ke puncak untuk melihat matahari emas yang terkenal itu. Ya. Golden Sunrise yang setahun lalu saya dengar dari penjaga warung saat kami berteduh dari derasnya hujan kala itu. Saat mengamati warung itu, saya juga melihat sebuah kalender dengan foto Golden Sunrise Sikunir. Ya otomatis, saya yang suka penasaran ini juga ingin melihat matahari terbit yang syahdu itu.

Golden Sunrise jagoan di Sikunir.

Setelah puas menyaksikan golden sunrise di Sikunir, yang waktu itu saya tasbihkan sebagai matahari terbit terindah yang pernah saya saksikan, kami akhirnya ke Telaga Warna. Oh, Hai, Telaga Warna! Itulah yang saya gumamkan saat tiba lagi di danau vulkanik hijau ini. Kali ini cuaca lebih bersahabat, meskipun saat itu saya mendakinya di bulan Februari. Tapi, tampaknya saya beruntung karena Tuhan menyayangi saya dan memberikan cuaca yang cerah kali kedua ini. Saya akhirnya bisa mengamati Telaga Warna dengan tenang dan lebih lama kali ini. Ahh, indah dan syahdunya.

Duileh sumringahnya yang akhirnya bertemu di cuaca cerah.
Plus, kali ini pinter bawa payung, hehehe.

Setelah itu, kami juga sempat ke Kawah Sikidang. Kawah ini juga menarik karena dikelilingi perbukitan hijau dan pemandangan di sekitar kawahnya juga bagus. Yang justru paling saya senangi dan kenang saat ke Kawah Sikidang adalah bisa bermain dan foto bersama burung hantu (aduh, saya tidak suka dengan kata terakhirnya, jadi saya ganti dengan owl saja ya, hihihi). Owl ini sangat lucu, manis, dan mengingatkan saya dengan Hedwig-nya Harry Potter. Tentu saja, saya harus tetap berhari-hati. Untungnya, ada perawat owl yang selalu mendampingi dan memperhatikan.

Di Kawah Sikidang.

Perjalanan kali kedua ke Dieng ini akhirnya ditutup dengan pertemuan dengan Candi Arjuna. Kekecewaan tahun lalu akhirnya terbayar sudah. Kawasan candi ini sangat syahdu karena berada di ketinggian dan dikelilingi kabut. Sangat indah. Meskipun beberapa titik candi sedang dalam masa perawatan saat itu, tapi saya takjub bahwa candi ini sangat terawat dan raai dikunjungi.

Sumringahnya yang akhirnya bertemu Candi Arjuna.

Berbicara tentang situs peninggalan, ada satu situs yang sangat ingin saya kunjungi di suatu hari nanti, yakni Trowulan. Kawasan ini merupakan peninggalan Majapahit, kerajaaan yang kuat pada masanya dan terkenal. Semoga bisa tercapai untuk berkunjung dan belajar sejarah ke Trowulan, amin.

Sumringah membayangkan rencana ke Trowulan, amin.

Berbicara tentang harapan juga, saya masih tetap ingin kembali lagi ke Dieng. Saya ingin menyaksikan sendiri Festival Dieng dan upacara Potong Rambut Anak Gimbal dan nonton Jazz yang beberapa waktu lalu pernah dihelat di Dieng juga. Saya optimis bisa kembali lagi dan memenuhi impian saya di kemudian hari, amin.

Si Pemimpi yang selalu membayangkan tempat baru
setelah mengunjungi tempat yang ia dambakan.

Jadi, seperti yang pernah saya tulis, selalu ada kesempatan kedua untuk satu hal. Jika saat pertama gagal atau tidak berjalan sesuai harapan, jangan putus asa, jika memang sudah rejeki dan sudah jalannya, pasti ada saja jalan untuk kembali. Seperti saya dengan Dieng, Sang Negeri di Atas Awan.

Bonus foto bersama Hedwig KW Super!

Say chese!

Kembali ke Bromo

Gunung menjadi satu hal yang sentimental bagi saya. Saya sangat mencintai gunung. Waktu kecil, saya kerap melihat gunung dari kampung saya, atau saat bermain ke rumah Opung. Kami juga kerap melewati beberapa gunung saat melakukan perjalanan keluarga. Tapi ya hanya sebatas itu, hanya melihat dari kejauhan.

Sejak tahun 2014 lalu, akhirnya saya mulai trip ke gunung pertama saya, Gunung Bromo, Jawa Timur. Meskipun bagi so called “anak gunung” bahwa mendaki Gunung Bromo itu bukanlah mendaki yang sesungguhnya, buat saya pribadi, Gunung Bromo tetap menjadi gunung yang patut diperhitungkan.

Perjalanan ke Gunung Bromo kala itu cukup menyenangkan, karena benar-benar kami lakukan ala backpacker. Kami menginap di homestay warga, naik jeep terbuka di tengah malam, makan pun makanan rumahan yang dimasak pemilik homestay.

Sayangnya, sunrise yang kami tunggu-tunggu di Gunung Bromo tidak maksimal saat itu. Kabut menutup Gunung Bromo dan sekitarnya. Bahkan hanya puncak Semeru yang terlihat. Tapi, meskipun begitu, entah kenapa kami sangat senang, haha. Mencoba mensyukuri sambil berharap suatu saat bisa kembali lagi dengan pemandangan yang lebih cerah.

Tapi beruntungnya, saat itu Gunung Bromo belum sepadat seperti saat sekarang, memang sudah mulai dikunjungi tapi tidak begitu ramai. Bukit teletubies masih dikunjungi maksimal 5 jeep saat kami di sana. Sekarang bahkan sudah berdiri beberapa warung dan mirip pasar. Memang sih, itu sudah 5 tahun yang lalu, dan sejauh masih terjaga keasriannya, spot wisata ini juga bisa membantu perekonomian warga sekitar.

Bukit Teletubies, Gunung Bromo

Minggu kedua November lalu, harapan untuk bisa kembali ke Bromo dengan pemandangan yang berbeda akhirnya terbayarkan. Pemandangan matahari terbit kali ini sangat cerah. Meskipun benar-benar lebih butuh perjuangan kali ini.

Sunrise di Gunung Bromo.
Sumringah karena kali ini sangat cerah.

Tahun 2014 kami ke Bromo dari jalur Malang, jadi bukit penatapan yang kami datangi tidak terlalu dekat tapi cukup ramai dikunjungi dan view Bromo cukup terlihat meskipun agak jauh. Kali ini, kami dari jalur Probolinggo dan merupakan jalur terdekat. Kawasan Taman Nasional Gunung Bromo, Tengger, Semeru ini memang sangat luas mencakup Probolinggo, Malang, Pasuruan.

Indahnya Bromo, meskipun sedang berangin cukup kencang.

Bukit penatapan yang kami tempuh pun adalah yang terdekat. Namun, cuaca sangat berangin malam itu. Angin yang kencang otomatis membawa pasir yang tak kenal ampun. Siapa pun yang tahu Gunung Bromo pasti paham kalau gunung ini identik dengan pasir yang tak ada habisnya. Maka siapkan masker atau buff saat berkunjung ke Bromo.

Spot di Love Hill, di bawah bukit penatapan.

Angin yang kencang sampai-sampai membuat badan saya yang cukup bongsor ini sampai goyah. Saat mengambil foto dengan handphone pun harus hari-hari karena takut handphone terbawa angin dari tangan saya. Tak sedikit teman yang mengeluhkan matanya kelilipan pasir. Untungnya, saya pemakai kaca mata minus jadi cukup tertolong untuk urusan pasir di mata.

Cerah di Kaki Bromo.

Tapi, begitu surya mulai menunjukkan dirinya, langit mulai kemerahan, angin pun mulai reda. Ribuan pasang mata hanya fokus ke satu titik yakni matahari. Keindahan matahari terbit dari balik bukit menghipnotis setiap yang melihat. Yang saya rasakan hanya kesyahduan. Inilah yang selalu saya rindukan dan cintai saat mendaki gunung: keheningan, kesyahduan, dan kemegahan matahari terbit. Betapa kuasanya Sang Pencipta yang membuat semua ini. *Ambil tissue saking terharu.

Di Akasi, Bromo.

Kali ini, pemandangannya sangat dekat. Gunung Bromo, Gunung Batok, dan Semeru terlihat lebih jelas dari dulu. Matahari pun sangat cerah dan cantik. Ahh, bahagianya kembali ke Bromo. Terimakasih Tuhan.

Jeep warna-warni paling matching dengan Bromo.

Berbicara mengenai kesempatan kedua untuk datang ke suatu tempat yang sama, pernah juga ku alami sebelumnya. Akan ku ceritakan di tulisan berikutnya ya! Silakan menikmati hasil jepretanku di Gunung Bromo!

See you again, Bromo!

Loko Coffee Shop, Rekomendasi Tempat Makan Enak di Stasiun Bandung

Juni lalu, tepatnya di hari kedua Lebaran, saya bersama Bapak, Ibu, dan kakak saya sampai di Stasiun Bandung setelah 3 jam lebih naik kereta dari Gambir, Jakarta. Perut keroncongan adalah hal yang langsung menyerang kala itu. Wajar, selama di kereta kami tidak makan apapun karena langsung tertidur dampak bangun subuh untuk berangkat ke stasiun.

Waktu itu, kami tidak punya banyak pilihan tempat makan berat di Stasiun Bandung. Sebenarnya ada, tapi ya itu, yang cepat saji dan tanpa pilihan. Apalagi ibu saya tipikal yang kalau makan harus pakai nasi, kuah, sayur, jangan ayam-ayaman, dan tidak doyan yang mecin-mecin. Tapi, karena sudah keburu lapar dan tidak mau repot keluar stasiun saat itu, ya sudah, kami makan di gerai yang ada di stasiun saat itu.

Coba saja kalau Loko Coffee Shop sudah ada di Stasiun Bandung ya saat itu, pasti bahagia dan tidak perlu pusing-pusing. Pilihan makanannnya banyak, mulai yang ringan sampai berat, yang khas lokal dan Indonesia sampai yang western pun ada. Minumannya ngga cuma itu-itu aja, ada yang segar-segar dan tentunya yang menjadi khas Loko Coffee Shop ya berbagai varian minuman kopinya.

Loko Coffee Shop yang asri.

Diresmikan tepat saat HUT ke-74 Kereta Api, tanggal 28 September lalu, Loko Coffee Shop ini sudah siap melayani pengunjung setiap harinya, mulai pukul 06.00 sampai 10.00 WIB. Nantinya, Loko Coffee Shop ini akan melayani sepanjang hari alias 24 jam. Oh ya kenapa pakai kata nantinya? Karena memang Loko Coffee Shop ini belum benar-benar rampung 100%, masih ada titik yang dalam tahap penyelesaian tapi tidak mengganggu kenyamanan pengunjung yang ingin menikmati suasana dan makan sajiannya.

Smoking Area.
Masih smoking area.

Buat saya pribadi, sebagai yang sering naik kereta api, saya sudah pernah mencoba Loko Coffee di dua lokasi yakni Stasiun Gambir Jakarta dan Stasiun Tugu Yogyakarta. Meski sama-sama mengusung tema industrial, masing-masing memiliki keunikan. Tentunya karena beda konsep juga. Menu favorit saya biasanya adalah Nasi Goreng Rawon dan Es Coffee Latte. Ini adalah pasangan abadi yang selalu saya pesan setiap ke kafe ini.

Tapi, saya juga tertarik mencoba Sop Buntut dan Lychee Mojhito yang segar, karena dua menu ini yang sering saya lihat dipesan banyak pengunjung. Saat memutuskan mencobanya, saya tak menyesal sama sekali. Sop buntutnya gurih dan nikmar. Seperti biasa, kuah sup selalu membuat perut hangat dan tenang. Lychee mojhitonya juga segar plus manis dan asamnya seimbang. Akhirnya, selain kopi, saya menemukan pilihan baru saat nanti main lagi ke Loko Coffee Shop.

Sop buntut yang memantulkan cerahnya sinar masa depan.
Lychee Mojhito.

Oh ya, salutnya lagi, Loko Coffe Bandung sudah menggunakan paper straw alias sedotan kertas untuk mengurangi penggunaan plastik dan ramah lingkungan.

Seperti yang dulu pernah saya ceritakan saat mengulas Filosofi Kopi, satu hal yang penting untuk memilih tempat makan sekaligus nongkrong asyik adalah ambiencenya. Meskipun terletak di kawasan stasiun, Loko Coffee Shop Bandung ini suprisingly tenang, adem, dan nyaman. Bahkan untuk aktivitas membaca buku sekalipun. Saya sudah mencobanya dengan asyik membaca buku favorit saya saat jam makan siang.

Asyiknya, langit-langit Loco Coffee Shop yang dibuat tinggi dan terbuat dari kayu memberikan kesan lapang, lega, dan adem. Dinding-dinding yang mayoritas terbuat dari kaca juga memberi kesan terbuka dan luas. Tentu, buat orang kantoran atau siapapun yang terbiasa beraktivitas dalam ruangan, dinding dan sekat adalah hal yang membuat suntuk, jadi open space seperti ini memberikan kesegaran tersendiri.

Kafe yang sangat spacey.
Cocok untuk refreshing.

Loko Coffee Shop ini terbuka bagi pengunjung non penumpang. Artinya, jika kalian hanya ingin ketemu teman, atau ingin nongkrong, bahkan diskusi bisnis pun bisa dilakukan di sini. Ya, Loko Coffee Shop ini seperti kafe pada umumnya saja. Bedanya, letaknya sangat strategis dan mudah diakses dari mana-mana, karena terletak di stasiun. Letaknya tepat di sebelah kiri begitu masuk Gerbang Utara Stasiun Bandung, atau Jalan Kebon Kawung. Jadi, begitu dari gerbang, langsung lihat di sebelah kiri maka Loko Coffee Shop akan menyambut hangat. Tadinya, lokasi kafe ini adalah tempat parkir motor penumpang. Jadi, bagi yang sering ke Stasiun Bandung pasti cukup hafal.

Suasana yang nyaman juga untuk meeting dan diskusi.
Buat belajar atau ngerjain tugas juga cocok.

Pembayaran di Loko Coffee Bandung saat ini masih melayani cash, kartu debit, dan kartu kredit. Tidak menutup kemungkinan nantinya akan muncul berbagai platform pembayaran lainnya. Jadi, saat kalian sedang di Stasiun Bandung dan ingin ngadem sambil ngopi atau makan, kalian tahu mau kemana.

The Loko is waiting for you.

Perdana Main ke Telkom Digital Experience (TDX)

Belum lama ini, saya berkesempatan untuk melakukan benchmarking dari kantor ke PT Telkom. Awalnya, saya pikir hanya di Bandung, mengingat KAI dan Telkom sama-sama punya kantor pusat di Bandung. Tapi, ternyata yang akan menjadi tujuan utama kami adalah Telkom Landmark Tower, di Jalan Sudirman, Jakarta Pusat. Saya pertama dan terakhir kali masuk ke kantor pusat Telkom di Bandung saat ada tugas kuliah tahun 2008 silam (Oh My God, udah 11 tahun lalu saja, hahaha). Setelah itu, saya belum pernah ke Telkom lagi, baik di Bandung ataupun di Jakarta.

Employee Corner di Telkom Landmark Tower.

Seperti biasa, acara benchmarking berisi presentasi dan diskusi. Tapi asyiknya, Telkom sendiri sudha mengusung Smart Office.  Ruang untuk rapat dan pertemuan seperti benchmarkingg pun dilakukan di Employee Corner, yakni space yang luas dan terbuka alias tanpa sekat-sekat ruang. Ini membuat suasana menjadi lebih flexibel dan tidak suntuk.

Hampir dua jam presentasi dan diskusi, selanjutnya kami diajak berkeliling beberapa spot di Telkom Landmark Tower. Gedung ini terdiri atas 52 lantai dan spot paling menyenangkan buat saya adalah Telkom Digital Experience atau disebut juga TDX. Sejujurnya, ini adalah pengalaman pertama saya berada di wahana interaktif berbasis virtual technology begini. TDX mengusung tagline Feel The Future, untuk mewakili bahwa masa depan yang canggih itu sudah bisa kita rasakan permulaannya sejak saat ini.

Menuju TDX.

TDX ini terdiri dari smart teather yang berbentuk seperti bioskop pada umumnya untuk melihat paparan lengkap tentang Digital Future yang sedang dikembangkan. Selanjutnya ada smart Edutainment yang berisikan berbagai game-game berbasis pengetahuan dan mengasah otak dengan tampilan serba virtual.

 Smart Sport yakni olahraga permainan dengan beberapa perlengkapan virtual juga. Ada Smart Living yakni rumah masa depan dimana semuanya sudah bisa diatur hanya dengan suara. Seperti menghidupkan lampu, menyalakan televisi, dan lain-lain.

Salah satu spot seru yang harus dicoba.

Salah satu yang paling berkesan, saya sempat bermain dengan dua robot lucu, yakni Alexa dan Lynx. Alexa dan Lynx dapat melakukan aktivitas berdasarkan perintah suara.

Perkenalkan Alexa dan Lynx.

Ada juga Smart Farm yang menggunakan teknologi untuk mempermudah dalam bercocok tanam seperti mengairi tanaman dan pencahayaan tanaman untuk proses pertumbuhan.

Kalau bercocok tanamnya smart begini, saya juga mau.

Tentunya, ada Smart City yakni gambaran kota masa depan yang dikembangkan berbasis teknologi sehingga lebih ramah lingkungan dan hemat energi namun sangat canggih.

Gambaran kota masa depan.

Di ujung sebelum exit way TDX, ada gerai merchandise bila pengunjung ingin mengoleksi atau tertarik memiliki barang-barang berbau TDX. Semua aktivitas berbelanja di sini menggunakan aplikasi Link Aja sehingga praktis.

Oh ya, TDX terbuka untuk umum dengan sebelumnya harus mendaftar dulu di website TDX. TDX dibuka mulai pukul 10.00 WIB s.d. 17.00 WIB tapi untuk info lengkap dan ketentuan kunjungannya, kalian bisa buka website resminya yakni tdx.co.id atau melalui aplikasinya yakni TDX.

Melihat robot-robot ini jadi ingat film Star Wars. Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok bahkan sudah banyak mengembangkan berbagai jenis robot bahkan yang humanoid. Jadi teringat film Aelita yang rilis awal tahun, sebuah robot alien dari Mars yang canggih dan mematikan.

Alexa yang lincah.

Di masa depan, banyak pekerjaan yang akan digantikan dengan robot. Sehari-hari, kita mungkin saja akan selalu berinteraksi dengan robot. Intinya, kita harus siap dengan masa depan yang mungkin benar adanya seperti di film-film yang kerap kita tonton. Siapkah kita?

Lynx bingung dengan cewek di sampingnya.

Hanyut Bersama Pusakata di Bandung Readers Festival 2019

Sebelum hilang ingatan tentang salah satu event yang paling berkesan yang telah didatangi tahun ini, saya akan menceritakannya sedetail mungkin. Pernah baca kan sebelumnya kalau menghadiri festival ataupun workshop adalah hal yang cukup saya senangi? Awal bulan September ini, untuk pertama kalinya saya menghadiri festival literasi. Saya sudah tahu tentang Ubud Writers Festival, yakni event yang mempertemukan para penulis baik yang muda maupun senior, baik yang sudah profesional maupun sedang awal merintis untuk membicarakan berbagai hal baik tentang perkembangan maupun karya-karya dalam bidang penulisan sastra.

Bandung Readers Festival 2019 berlatar Gedung Sate.

Saya, seperti biasanya selalu menghayal, berharap suatu saat bisa mengikuti ajang yang sudah cukup lama diadakan dan kelasnya sudah internasional. Bukannya sok (saya akui bahkan saya bukan penulis sastra, menulis pun masih seadanya, hahaha) tapi saya senang mendengarkan orang-orang yang inspiratif dan penuh ide, karena hal itu secara tak langsung memberikan dampak positif bagi saya. Apalagi, saya cukup menyukai dunia literasi baik menulis maupun membaca.

Nah, mumpung acaranya sedang di kota tercinta, Bandung, maka saya tak menyianyiakannya. Full acaranya dilaksanakan pada 4-8 September 2019. Tapi karena kerja saat weekday, maka saya hanya bisa mengikuti acaranya sejak Jumat, 6 September sore hingga hari Minggunya. Meskipun tidak mengikuti acaranya sejak awal, beruntungnya Bandung Readers Festival (BRF) menyediakan berbagai dokumentasi yang bagus dan kreatif. Bahkan, untuk pertama kalinya saya tahu ada istilah graphic recording karena mengikuti event ini.

Sesi pertama yang saya ikuti.

Graphic recording merupakan suatu bentuk dokumentasi atau notulensi yang mencatat jalannya suatu acara atau diskusi dalam bentuk grafis baik tulisan maupun gambar dan tanda-tanda panah. Sekilas sperti flow chart. Para graphic recorder (sebutan bagi yang membuat recordingnya) harus menyimak setiap jalannya acara atau diskusi sambil membuat gambar dan tulisan mengenai inti informasi yang sedang disampaikan.

Graphic Recorder karya Mba Riri

Ada dua graphic recorder yang saya saksikan selama event ini dari Visualogic.gr yakni Kang Imawan dan Mba Riri. Hasil gambar mereka sangat bagus dan informatif. Saya agak terpecut karena sejujurnya sejak kecil, menggambar adalah salah satu hal yang biasa saya lakukan. Namun, sejak masuk asrama, hal itu harus saya tinggalkan karena waktu dan pikiran saya terpaksa harus fokus ke palajaran akademik yang cukup banyak. Hal ini cukup saya sesali, sih huhuhu. Pesan morilnya, bagi kalian yang dari kecil sudah memiliki hobi dan bakat di satu bidang, tekadkan hati dan kembangkan dengan serius setiap hari.

Kang Imawan sedang melakukan graphic recording.

Jangan takut apakah nantinya akan dapat penghasilan dari bidang tersebut atau tidak. Percayalah, saat kita benar-benar mencintai dan sungguh-sungguh dalam bidang tersebut, ada saja rezeki yang datang. Seringnya, yang menjadi persoalan beratnya adalah kita terlalu memikirkan bagaimana pandangan dan penilaian orang lain akan hidup kita, terutama hal yang kita lakukan untuk mendapatkan uang. Tapi sesungguhnya, yang paling penting adalah pekerjaan itu halal dan kita content selama melakukannya setiap hari.

Kembali ke laptop, eh ke BRF! Jadi ada beberapa sesi yang sempat saya ikuti. Dalam lima hari pelaksanaan, setiap harinya ada beberapa sesi dengan narasumber-narasumber yang sangat mumpuni sesuai bidangnya. Untuk fokus dan menghemat energi agar lebih efektf, saya memilih beberapa sesi dengan narasumber yang memang saya tahu dan ikuti di instragram. Jadi ada tiga sesi utama yang jadi prioritas untuk saya ikuti. Apalagi sesi-sesi ini dilaksanakan di beberapa tempat yang berbeda. Seperti di Abraham & Smith, Nu Art Gallery, Museum Gedung Sate, Rumah The Panasdalam, dan IF.

Halaman Gedung Sate yang cerah di sesi kedua yang saya ikuti.

Pertama sesi Dinamika Ngeblog bersama Nike Prima dan Bandung Diary. Dua narasumber ini sudah cukup saya tahu bia instagram. Content keduanya sangat berbeda tapi kuat. Jadi, saya sangat semangat untuk dapat mendengarkan dan belajar dari kedua narasumber ini. alhasil, selama hampir dua jam sesi, saya sangat senang dan pulang membawa banyak ilmu baru. Senangnya lagi, Teh Anggi Bonyta yang menjadi moderator membawakan dua sesi ini dengan sangat menyenangkan dan informatif.

Nike Prima dari Loving Living.

Satu-dua hal yang bisa saya bagikan dari apa yang mereka sampaikan adalah: yang penting terus menulis tanpa memikirkan akankah nanti tulisan kita akan memiliki penggemar atau tidak. Tulislah hal-hal yang menarik sesuai dengan apa yang menjadi ketertarikan kita karena akan sangat berbeda hasilnya dengan menuliskan hal-hal yang tidak begitu kita sukai. Selain itu, manfaatkan berbagai media sosial yang ada saat ini untuk bisa menyebarkan bahkan mempromosikan tulisan-tulisan kita.

Sesi kedua yang saya ikuti adalah Modus Penyebaran Teks karena salah satu narasumbernya adalah Lala Bohang. Dia seorang ilustrator sekaligus penulis yang sudah menghasilkan beberapa buku. Dia bahkan sering melakukan pameran di berbagai kota di Indonesia. Sesi yang hampir dua jam ini pun juga menarik dan penuh informasi baru. Salah satu hal yang paling saya ingat dari Lala Bohang adalah bahwa proses kreatif yang paling penting ada di dalam diri kita sendiri. Bukan terkait dengan selera pembaca, tidak terkait sistem algoritma social media, tapi di dalam diri kita. Selama kita content, maka karya yang kita hasilkan jujur dan nantinya akan menemukan penggemarnya sendiri atau bahkan penggemar itu yang akan menemukan tulisan kita.

Sesi kedua, ada Lala Bohang di sana.

Selama acara BRF berlangsung, banyak workshop yang dilaksanakan, tapi karena faktor waktu, saya tidak ikut workshop apapun. Tapi saya tertarik dengan salah satu activity di BRF yakni donasi buku anak di Lemari Bukubuku. Uniknya, setiap donatur buku akan dibuatkan gambar ilustrasi wajah. Saya mendonasikan graphic novel favorit saya, Chicken Soup. Ini adalah salah satu novel grafis yang inspiratif dan sarat pesan positif. Berharap agar anak-anak yang mendapatkan donasi ini bisa belajar banyak dari buku ini. Saya pun dibuat gambar ilustrasi oleh Mas Faisal dari Lemari Bukubuku. Hasilnya, saya langsung suka dan gambar ini jadi foto profil di berbagai social media, haha. Makasih, Mas!

Selain itu, ada bazar buku dan banyak buku-buku indie atau lokal yang dijual selama acara ini. Saya  pun beli satu buku yang sudah dicari-cari di Gramedia manapun di Bandung dan sudah kosong. Eh, ketemunya di bazar BRF ini. Buku apa dan apa yang membuat saya ingin sekali membacanya, akan saya ulas di postingan yang akan datang ya. Stay tuned! Cailaaah.

Puncak dari acara ini yakni talskhow dan performance dari Pusakata. Penyuka musik indie dan folk pasti familiar sekali dengan Mas Is yang sekarang mengusung nama panggung Pusakata. Seperti yang kita tahu, Mas Is adalah mantan vokalis sekaligus pembentuk Payung Teduh, band indie dengan musikalitasnya yang khas. Tak ingin mengulas tentang kenapa keluar dan meninggalkan Payung Teduh, saya lebih tertarik mengulas makna dan pesan yang saya dapat selama dua jam performance Pusakata.

Pusakata bersenandung.

Mas Is sendiri sangat hobi membaca berbagai jenis buku. Dia juga cerita, dulu sempat gandrung main teater. Makanya tak heran ya, kata-kata dalam lagunya sangat kaya dan indah. Kadang bermajas, kadang hanya kata biasa tapi dirangkaikan dengan pilihan padanan kata yang pas. Yang dituliskan pun tak melulu tentang cinta dua insan. Ia juga bercerita bahwa ada lagu-lagu yang menceritakan hubungan dengan Tuhan.

Mas Is Pusakata.

Mas Is berpesan, kita jangan egois dan mengeksklusifkan diri. Jangan egois dalam berkarya. Karena seni itu hakikatnya sebagai wujud syukur kepada Tuhan dengan cara mengekspresikannya, baik melalui tulisan, lagu, musik, dan seni lainnya.

Yang paling menyenangkan adalah, semua lagu-lagu yang dibawakan Pusakata baik yang terdahulu sampai yang terbaru dibawakan dengan gubahan baru. Bahkan lagu-lagu yang dulu sering kita dengar setiap harinya dibawakan dengan musik yang lebih segar dan menghanyutkan. Meskipun tak ada tangan hangat dalam genggaman, lagu Pusakata sudah sangat menghangatkan perasaan, ciaaaaa!

Panggung kecil namun syahdu.

Tanya-jawab berlangsung akrab dan fun. Bahkan Mas Is mengakui bahwa performance kecil dan intim begini lebih menyenangkan baginya. Penonton alias para pengunjung BRF pun semua serba kalem dan santai. Pastinnya tetap bernyanyi bersama, tapi tidak ada yang teriak-teriak atau bahkan rebut-rebutan saat Mas Is melemparkan pick untuk beberapa penonton. Oh ya, saat melemparkan pick terakhir, Mas Is melirik ke saya dan melemparkannya dengan santai. Alhasil pick itu jatuh di depanku. Mas-mas yang duduk di sampingku melihat santai dan tidak berusaha merebutnya. Wah, beda sekali ya penonton yang terliterasi dengan yang masih kurang, hahaha, peace! Sejak datang ke BRF, saya jadi semangat untuk datang ke berbagai festival lainnya.

Duarrr!!!