Ngopi Asyik di Filosofi Kopi, Jakarta

Tak sedikit orang yang menjadikan kopi sebagai bagian penting kesehariannya. Baik diminum hangat atau dingin, masing-masing pencinta kopi punya referensi dan seleranya sendiri. Di tengah hiruk pikuknya Kota Jakarta, ada satu pojok ngopi yang sudah lama mencuri perhatian. Filosofi Kopi.

Bisa dibilang, Filosofi Kopi adalah cafe dengan konsep indutrialis, rustic, dan homey. Saya pribadi penyuka kopi meskipun jenis yang saya suka sangat mainstream seperti es cappuchino, es moccha, es coffeelatte, dan lainnya yang tidak begitu pahit.

Tampak depan Filosofi Kopi

Kadang, saat mengunjungi sebuah coffee shop, saya lebih tertarik dengan ambience dan konsep tempatnya. Saya sangat menyukai coffee shop tenang, dengam musik jazzy maupun pop yang tidak begitu gegap gempita, serta interior yang homey dan inspiratif.

Filosofi Kopi memang dikenal awalnya dari film Indonesia berdasarkan novel kumpulan cerita pendek Dewi “Dee” Lestari dengan judul sama, Filosofi Kopi. Film ini pun mendapat perhatian yang baik dari pencinta film tanah air karena suguhan ceritanya yang baru dan segar, maupun teknik pengambilan gambar yang sederhana tapi sangat artsy.

Setelah filmnya sukses menarik perhatian, coffe shop dengan nama sama pun hadir di Jalan Melawai, kawasan Blok M, Jakarta. Tempat ngopi ini makin terkenal karena memang ada sentuhan Chicco Jericho dan Ryo Dewanto di dalamnya. Dua sosok ini merupakan pemeran utama di film Filosofi Kopi.

Foto Chicco dan Ryo.

Filosofi Kopi makin marak di social media kala seorang seniman lokal, Abenk, yang juga merupakan suami dari influencer lifestyle dan kecantikan Andra Alodita, memberikan sentuhan artsy ala Abenk di jendela-jendela kacanya. Tampaknya lukisan kaca itu menjadi daya tarik tersendiri karena teman-teman saya pun banyak yang berlomba-lomba ngopi di sana dan pos fotonya di socmed.

Sebagai penyuka kopi yang stay di Bandung, saya hanya bisa menikmati lewat socmed karena agak kurang worth rasanya pergi ke Jakarta hanya untuk ngopi. Sedangkan kalau sambil dinas malah sering tidak cukup waktunya. Serba salah ya, hahaha. Akhirnya saat ada waktu di Jakarta dan cukup santai kemarin, saya menyempatkan diri ke sana.

Menemukan Filosofi Kopi cukup tricky karena lokasinya memang berada di wilayah perbelanjaan Blok M dan agak nyempil. Kendaraan apapun akan langsung dikenakan e-parking fare. Jadi, kalau datang ke sini menggunakan transportasi online, pastikan ke driver-nya kalau kalian akan membayarkan biaya parkirnya agar driver-nya tidak punya alasan menurunkan penumpang di pinggir jalan padahal belum sampai tepat di depan Filosofi Kopi.

Saat saya sampai di depan Filosofi Kopi, jendela kaca berlukisan ala Abenk itu sudah tidak ada. Memang, lukisan itu sudah ada hampir dua tahun lalu. Mungkin manajemen Filosofi Kopi ingin mengganti suasana atau ada pertimbangan lain.

Teras Filosofi Kopi

Tampak dari depan, Filosofi Kopi tidak terlalu besar. Saat sampai di dalamnya pun, suasana homey dan inspiratif kental terasa meskipun ruangannya tidak terlalu besar. Saya memesan Ice Cappuchino dan memilih duduk dekat dinding di meja bundar kayu. Setiap dinding dipenuhi karya seni seperti lukisan, mural, dan foto. Tidak ada dinding yang kosong percuma. Pun tidak ada yang asal penuh karena setiap goresan seperti sudah dipertimbangkan baik-baik.

Logo Filosofi Kopi yang terkenal
Lukisan yang menarik

Yang paling saya suka adalah suasana tenangnya dan membuat ide mengalir lancar. Mungkin, hal ini karena yang mengunjungi Filosofi Kopi kebanyakan adalah anak-anak muda maupun orang dewasa yang datang sendiri atau berdua hanya untuk mengerjakan tugas atau hanya untuk ngopi sambil ngobrol santai. Jadi, tidak ada ribut atau berisik yang berarti.

Santai di Filosofi Kopi
Ngobrol santai

Saya pribadi sangat senang ngopi dan duduk santai berlama-lama di Filosofi Kopi di Melawai, Jakarta ini. saya bisa menulis apapun yang terbersit di pikiran dengan santai.

Artsy dan inspiratif

Sayangnya, Filosofi Kopi baru ada di Jakarta, Semarang, dan Jakarta. Berharap semoga segera ada di Bandung dengan sentuhan artsy dan inspiratif yang sama seperti pionirnya di Melawai, Jakarta.

Ice cappuchino pesananku

Outfit Liburan ke Korea di Bulan Mei

Buat beberapa orang,  masa liburan alias jalan-jalan yang paling penting adalah pengalamannya. Tetapi, bagi orang-orang lainnya, traveling adalah paket komplit yang harus berkesan secara keseluruhan, termasuk outfit alias pakaiannya. Buat saya, traveling adalah momen penting yang akan saya kenang selamanya, jadi outfit juga penting.

Penting di sini tidak berarti harus terlalu fokus memikirkan pakaian apa yang harus dipakai sampai melupakan kesenangan utama untuk traveling. Bukan. Tapi penting dalam artian harus sesuai dengan situasi, kondisi, dan nyaman untuk mendukung kita dalam explorasi destinasi wisatanya, plus nilai estetika agar kenangannya sempurna.

Apakah perlu budget khusus untuk outfit jalan-jalan? Tergantung. Jika destinasi wisata yang akan kita kunjungi memiliki musim atau cuaca yang jauh berbeda dari keseharian kita, tentu kita harus mengusahakan pakaian yang sesuai. Misalnya, seperti saat ke Korea baru-baru ini, di sana masih cenderung dingin yakni masih belasan derajat celsius bahkan mencapai di bawah 10° saat malam hari. Sebagai manusia tropis, tentu saya harus mengusahakan pakaian yang sesuai agar nyaman dan tetap sehat saat berada di sana.

Karena selama ini tidak pernah berkunjung ke negara empat musim, alhasil saya harus membeli coat alias outer hangat. Terpikir untuk meminjam saja ke teman, tapi saya berpikir setidaknya saya harus punya satu sebagai motivasi agar bisa sering traveling ke negara empat musim lainnya. Amin.

Jadi, secara ringkas, saya akan sharing tentang outfit yang saya pakai saat traveling ke Korea baru-baru ini. Ini hanya sekadar sharing berdasarkan pengalaman pribadi saya, jadi semoga dapat menjadi referensi atau masukan ya. Tidak harus diikuti, jadi pilih yang paling sesuai dengan kebutuhan masing-masing ya.

Penting tidk berarti harus terlalul fokus memikirkan pakaian apa yang harus dipakai sampai melupakan kesenangan utama untuk traveling. Bukan. Tapi penting dalam artian harus sesuai dengan situasi, kondisi, nyaman untuk mendukung kita dalam explorasi destinasi wisatanya, plus nilai estetika juga penting biar kenangannya sempurna.

Apakah perlu budget khsusus untuk outfit jalan-jalan? Tergantung. Jika destinasi wisata yang akan kita kunjungi memiliki musim atau cuaca yang jauh berbeda dari keseharian kita, tentu kita harus mengusahakan pakaian yang sesuai dengan destinasi wisata. Misalnya, seperti saat ke Korea baru-baru ini. Di sana masih cenderung dingin yakni masih belasan derajat celsius bahkan mencapai di bawah 10° saat malam hari. Sebagai manusia tropis, tentu saya harus mengusahakan pakaian yang sesuai agar nyaman dan tetap sehat saat berada di sana.

Karena selama ini tidak pernah berkunjung ke negara empat musim, alhasil saya harus membeli coat alias outer hangat. Terpikir untuk meminjam saja ke teman, tapi saya berpikir setidaknya saya harus punya satu sebagai motivasi agar bisa sering traveling ke negara empat musim. Amin.

Jadi, secara ringkas, saya akan sharing tentang outfit yang saya pakai saat traveling ke Korea baru-baru ini. Ini hanya sekadar sharing berdasarkan pengalaman pribadi saya, jadi saya harap dapat menjadi referensi atau masukan ya. Tidak harus diikuti, jadi pilih yang paling sesuai dengan kebutuhan masing-masing ya.

Let’s dig in!

Outfit yang nyaman akan membuat jalan-jalan makin berkesan.
  • Heattech

Sebagai manusia tropis, udara dingin yang tidak bisa diprediksi bisa saja memberikan “shock therapy” bagi tubuh kita. Karena cuaca atau suhu direspons berbeda oleh setiap tubuh maka sebagai antisipasi bawalah heattech baik untuk atasan maupun bawahan. Heattech ini berfungsi menghangatkan tubuh. Bahannya lembut dan elastis, mirip seperti legging untuk bawahan atau manset untuk atasan. Khusus atasan, ada juga yang jenis turtle neck. Bahannya pun beragam, sesuaikan saja dengan kebutuhan.

Gunakan heattech setelah memakai dalaman alias sebelum memakai outfit yang sebenarnya (memangnya ada outift tidak sebenarnya? Hahaha). Sejujurnya, saya juga pertama kali membeli heattech saat akan berangkat ke Korea. Saya pilih heattech dari Uniqlo karena selain mudah mendapatkannya, berdasarkan review yang saya baca, kualitas Uniqlo juga sudah teruji.

Model turtle neck, pic: Uniqlo.
Warna berbeda agar tidak monoton, pic: Uniqlo.
Untuk bawahan agar kaki tetap hangat, pic: Uniqlo.
  • Sweater Aneka Warna

Sweater atau baju lengan panjang hangat cukup multifungsi karena selain menghangatkan badan, warna-warnanya juga bisa memberikan style yang berbeda saat kita jalan-jalan. Uniknya, sweater bisa kita padupadankan dengan coat, jaket, blazer, dan selalu cocok dengan berbagai bawahan, baik itu jeans atau celana bahan biasa. Untuk jumlah sweater sesuaikan saja dengan berapa lama trip yang akan dilakukan. Untuk menghemat bagasi, satu sweater dapat dipakai dua hari, tinggal disiasati aja. Misalnya, hari pertama hanya sweater saja, hari selanjutnya dengan coat atau blazer.

Sweater sangat mudah ditemukan di berbagai pusat perbelanjaan atau toko pakaian yang memang khusus menjual baju musim dingin atau pakaian yang terbuat dari bahan rajutan. Saya membeli sweater-sweater saya di MKY, toko pakaian yang menjual baju-baju perempuan bergaya Korea. Jadi, pas banget kan?

Pilihlah sweater warna cerah dan kontras.
Sweater bisa dipadupadankan dengan celana panjang maupun jeans.
Jangan lupa pilih warna favorit, seperti saya warna pink.
  • Coat

Coat atau jaket hangat juga sangat penting apalagi jika kita belum pernah berkunjung ke negara empat musim dan di saat masa-masa peralihan musim. Bahkan ada beberapa negara yang cuacanya sangat tidak terprediksi. Jadi, akan lebih nyaman kalau kita cukup prepare dan berjaga-jaga. Bisa saja sih dengan opsi membeli di negara tujuan sesuai apa yang dibutuhkan. Tapi, bagi saya pribadi, membawa sendiri dari rumah akan lebih nyaman dan tentunya lebih hemat.

Coat sendiri bermacam-macam, ada yang extra hangat terbuat dari bulu angsa atau bulu-bulu hewan lainnya. Ada yang medium alias hangat tapi tidak terlalu tebal. Ada yang cukup hangat dan bahannya ringan dan tipis. Kalau saya, saat ke Korea menggunakan yang medium karena cuaca di sana saat itu sudah mulai hangat. Coat cokelat muda ini saya beli di H&M.

Coat membuat badan hangat dan tetap stylish.
  • Blazer

Karena bulan Mei cuaca di Korea mulai hangat, maka saya pun membawa sebuah blazer untuk dipadu-padankan dengan sweater dan kaos. Blazer juga multifungsi karena bisa membuat badan hangat sekaligus stylish. Saya pribadi ingin memakai blazer karena teracuni gadis-gadis dalam drama Korea yang gemar sekali memakai blazer dalam kesehariannya. Jadi, saya juga ingin mencoba bergaya ala gadis-gadis Korea di negaranya langsung.

Blazer pun bermacam-macam lho! Ada yang lengannya panjang, ada yang 7/8. Panjang blazer pun ada yang sampai ke paha, ada yang cuma sampai pinggul. Untuk blazer pink ini, saya beli di Bershka karena selain bahannya enak, kualitasnya bagus, juga banyak pilihan model yang bisa kita sesuaikan dengan bentuk dan tinggi badan kita.

Blazer multifungsi, hangat sekaligus stylish ala gadis-gadis Korea.
Blazer pun cocok untuk sweater.
  • Kaos

Kaos adalah pakaian wajib saat traveling. Selain nyaman, kaos juga ringkas. Bawalah beberapa kaos yang harus tetap disesuaikan dengan cuaca yang ada. Utamakan yang tidak tipis, karena meskipun Korea mulai hangat, anginnya tetap kencang lho!

Kaos yang nyaman dan warna netral sangat mudah dipadupadankan.
  • Jeans

Buat saya pribadi, jeans cukup multifungsi karena bisa memberikan style yang berbeda dengan hanya menambah aksen. Misalnya, jeans bisa dipakai panjang atau diberi lipatan di bawahnya sehingga seperti celana gantung atau 7/8. Sudah beberapa tahun, saya selalu memakai jeans dari Giordani, karena bahannya enak, kualitasnya tahan lama, dan cukup tebal.

Jeans memang paling cocok dengan cuaca cerah.
  • Celana Panjang Hitam

Kenapa saya tekankan warna hitam? Karena warna netral ini bisa dipadu-padankan dengan berbagai bentuk atasan dan seluruh warna. Jadi, akan sangat menghemat bawaan kita karena tidak perlu membawa banyak bawahan atau celana. Selain itu, celana panjang non-jeans sangat penting jika kita banyak berjalan dan mendaki karena akan membuat badan tetap nyaman. Sedangkan jeans, kadang lebih ketat atau kaku sehingga saat mendaki kadang memberikan kesan kurang leluasa bagi kita. Celana panjang saya ini pun saya beli di Giordani karena kualitasnya bagus, bahannya enak, tidak gampang lusuh, dan tidak luntur.

Celana panjang nyaman saat mendaki.
  • Kupluk atau Topi Hangat

Saat malam hari, Kota Seoul sangat dingin dan berangin, jadi saya sarankan untuk membawa topi hangat atau kupluk untuk melindungi kepala dari angin dan menjaganya tetap hangat.

Kupluk hangat yang juga stylish.

Nah, itulah outfit yang saya pakai selama lima hari liburan di Korea kemarin. Beberapa outfit memang saya beli baru karena belum punya sebelumnya. Yang paling utama adalah jaga kesehatan dan nikmati masa-masa liburan untuk mendapatkan pengalaman yang berkesan sebanyak-banyaknya. Selamat liburan!

Moment of Truth: Berdiri di Tower Impian Setelah 10 Tahun

Kalau ada yang bertanya kepada saya, “Negara mana yang menjadi impianmu sejak kecil?” Maka saya akan menjawabnya dengan, “Jepang”. Ini karena berbagai hal tentang negara ini yang pertama kali menerpa saya. Anime dan manga yang berhasil membuat saya tergila-gila dengan negara Jepang. Saya bahkan bisa mengatakan kalau saya punya obsesi tersendiri terhadap negara ini (akan saya ulas di tulisan berbeda nantinya). Tapi, beranjak dewasa, ada negara lain yang menjadi salah satu impian saya, Korea Selatan.

Here i am, at Seoul City, Korea.

Girls Generation-lah yang cari gara-gara sehingga membuat saya mulai terobsesi dengan Halyu Wave. Tapi Janggeum dan Princess Hour adalah “kontak pertama” saya dengan budaya pop Negeri Ginseng ini. Oh tentu, saat pertama kali terpapar hal-hal terkait Korea Selatan sekitar tahun 2005/2006 itu, saya belum tahu istilah itu.

Saya pun mulai paham istilah ini setelah makin terobsesi dengan berbagai variety show dan musik K-Pop yang menjadi salah satu senjata andalan Korea Selatan dalam mempromosikan negaranya. Halyu Wave atau Gelombang Korea adalah fenomena yang membuat segala hal yang berbau Korea menjadi mendunia dan orang-orang menjadi gandrung bahkan mulai mengikutinya. Drama Korea dan musik K-Pop dipercaya mengambil andil yang paling besar dalam menyebarkan Halyu Wave ke seluruh dunia. Disusul dengan makin maraknya variety show Korea yang ternyata memikat hati penonton dari seluruh dunia. Selanjutnya makanan, fashion, bahkan perawatan kecantikan memperkuat gelombang Halyu sampai dikenal istilah Korean Beauty. Akibatnya, rasa ingin tahu masyarakat dunia akan negara Korea semakin tinggi.

Tak terkecuali saya. Saya makin gandrung nonton bahkan download video girlband dan boyband favorit saya. Saya juga mulai mengikuti fashion bahkan gaya make up gadis-gadis Korea. Namun, hingga akhir 2011, saya belum bisa mengikuti terlalu jauh karena belum punya penghasilan sendiri. Tak etis rasanya memakai uang saku dari orang tua untuk hal-hal yang bukan kebutuhan penting. Meskipun cukup sering kecolongan dengan beli baju dengan style Korea juga (Bapak dan Mama, maafkeun daku). Untuk hal ini perlu menyalahkan sahabat saya sesama pencinta Korea, yakni Imelda Maurike Siahaan. Dialah partner in crime saya dan yang paling nyambung tentang segala hal, khususnya per-Korea-an ini.

Punya penghasilan sendiri, saya pun mulai berani bermimpi agar suatu saat nanti bisa mengunjungi Korea Selatan. Saya bisa saja berangkat di beberapa kesempatan, tapi berbagai kondisi menghambat sehingga akhirnya impian itu baru bisa tercapai setelah sepuluh tahun sejak saya benar-benar jadi pencinta Korea pada tahun 2009. Yang paling ikonik bagi saya tak lain adalah Namsan Seoul Tower atau N Seoul Tower. Menara ini sering ditampilkan dalam berbagai drama dan variety show, apalagi tentang gembok-gembok cinta yang jumlahnya tak terhitung di N Seoul Tower ini. Bahkan, badan wisata milik pemerintah Korea dengan gerakan I Seoul You menjadikan menara ini sebagai salah satu ikon dari Kota Seoul, Korea.

Namsan Seoul Tower

Maka, setelah awal Mei 2019 kemarin, saya akhirnya mewujudkan impian saya untuk menjejakkan kaki di negerinya Yoona dkk ini. Plus fakta bahwa seluruh perjalanan ini gratis dan saya hanya memikirkan uang jajan pribadi membuat perjalanan ini menjadi perjalanan luar negeri terbaik yang pernah saya alami. Hahaha, ya saya baru pernah ke Jepang dan Thailand saja sebelumnya, jadi belum banyak pengalaman juga sebenarnya.

Iya, saya beruntung dan saya tak henti mengucapkan syukur kepada Tuhan atas berkatnya ini. Saya berhasil menjadi salah satu pemenang lomba menulis tentang traveling di salah satu platform berita online terbesar di Indonesia yakni Detik.com lewat kanal wisatanya DetikTravel, dengan sponsornya yakni perusahaan e-commerce raksasa Indonesia, Tiket.com. Big thanks, thank you so much, gomawo yo!

Sebenarnya saya ragu untuk menuliskan perjalanan ke Korea Selatan karena pasti sudah banyak review dari blogger-blogger lain di internet. Apalagi, wisata ke Korea sudah digemari sejak tahun 2012 saat makin banyak musisi K-Pop yang bermunculan dan variety show seperti Running Man yang memperkenalkan banyak tempat-tempat menarik di seluruh Korea Selatan. Tapi, saya kemudian memutuskan untuk tetap menuliskannya berdasarkan cerita pribadi sebagai seorang K-Poper yang akhirnya berhasil mewujudkan impiannya, bahkan secara gratis pula!

Karena perjalanan ini sudah di-arrange oleh tim penyelenggara, jadi saya tinggal mengikuti trip yang sudah ditentukan, termasuk tempat-tempat wisatanya. Tapi, saat pertama kali tahu bahwa N Seoul Tower menjadi salah satu destinasinya, maka saya sudah sangat bahagia. Sebenarnya tower ini menjadi semacam destinasi wajib bagi hampir seluruh agen travel yang membuka perjalanan ke Korea Selatan. Ya, ibaratnya kalau turis asing pertama kalinya ke Jakarta pasti direkomendasi ke Monas dulu sebagai ikonnya Jakarta. Begitulah kira-kira.

Yang membuat saya semangat ke N Seoul Tower bukan gembok-gembok cinta karena jujur saya tidak memasangnya sekali (ahh, bilang aja karena Kakak jomblo, ya kan?). Jadi, selain karena ini memang ikon Kota Seoul, yang membuat saya semangat ke N Seoul Tower ini adalah karena kami akan diberikan keleluasaan hampir sekitar 1 jam meng-explore sendiri tower ini. Karena trip-nya sudah diatur, jadi jadwal cukup ketat dan kami jarang punya waktu personal untuk menjelajahi tempat wisatanya, sepanjang hari selalu serombongan. Sangat menyenangkan bisa segrup dengan orang-orang hebat dan menyenangkan, tapi entah kenapa ada momen saat saya ingin menikmati sejenak saja detik-detik berada di Korea Selatan tanpa hectic harus foto di sana-sini. Saya ingin benar-benar hanya diam, memandangi apa yang ada di depan saya, meresapi tiap suasana, mendengar bahasa-bahasa, dan menghargai setiap detiknya sebagai suatu pengalaman yang berharga.

Namsan Tower dengan latar matahari senja.
Jalan yang sedikit mendaki ke Namsan Tower.

Jadi, setelah sampai di parkir, Namsan Tower sudah menyambut dengan berdiri gagah menjulang. Ternyata kami harus berjalan menuju bangunan Namsan Tower. Tak jauh dan justru sangat menyenangkan karena bisa melihat berbagai bunga cantik yang ditanam dan sangat terawat di sepanjang jalan. Ada bunga tulip juga. Ini kali kedua bagi saya melihat bunga tulip secara langsung, setelah pertama kali di Jepang.

Ini bukan bunga sakura, tapi sangat cantik untuk mengobati rasa kangen.
Si cantik bunga tulip yang tumbuh di sepanjang jalan menuju Namsan Tower.

Namsan Tower ini merupakan menara pemancar yang masih aktif hingga saat ini. Saat pertama sampai di halaman depannya, kita akan melihat patung-patung panda dan babi di halamannya. Ini cukup menarik, khususnya bagi anak-anak. Setelah melewati pintu masuk, akan tercium wangi khas kopi karena ada Starbucks di dekat pintu masuknya. Untuk masuk ke Namsan Tower, pengunjung harus membeli karcis sebsar 10.000 Won atau sekitar 120.000 rupiah.

Tampak depan pintu masuk plaza sebelum naik ke menaranya.
Anak-anak pasti betah main di sini.

Uniknya, ada lorong-lorong LED yang menyala indah saat akan menaiki lift menuju menara pandang Namsan Tower. Saat berada dalam lift pun akan diputar video interaktif yang membuat pengunjung yang naik lift seolah-olah sedang terbang menuju luar angkasa.

Seolah-olah kita berada dalam warp lompatan antar galaksi seperti di film Star Trek.

Sesampainya di menara pandang, saya cukup kaget. Tempat ini sangat ramai dengan turis dari berbagai belahan dunia. Bisa dibilang, berbagai orang dari seluruh dunia berkumpul di sini. Di menara pandang ini, seluruh dindingnya merupakan kaca sehingga pengunjung disuguhkan 360◦ pemandangan Kota Seoul. Di setiap kaca pun ditempeli stiker berupa bendera dan nama ibukota negara serta jarak tempuhnya dari Kota Seoul. Saat ini kami semua berpencar untuk menikmati Namsan Tower. Saya pun langsung menikmati senja itu dengan berkeliling pelan-pelan.

Menikmati senja dengan memandang horison.
Pemandangan Kota Seoul dari menara pandang. Indah: modern tapi asri.

Perlahan, saya membaca hampir setiap dinding. Saya jadi tahu jarak Kota London dengan Seoul sejauh 8.954 km. Kenapa London? Karena ini merupakan salah satu kota impian yang ingin saya kunjungi juga suatu saat nanti, amin.

Saya pun berjalan perlahan, membaca setiap stiker. Saya mulai mencari-cari, satu tulisan dan bendera yang sepertinya mulai saya rindukan. Setelah berjalan, akhirnya saya menemukannya. Stiker merah-putih dengan tulisan “Jakarta” di sampingnya, lengkap dengan jaraknya 5.128,98 km. Sejauh itulah saya dengan ibukota negeri tercinta. Saya memutuskan hanya berdiri dan memandang jauh menikmati suasana tenang di tengah keramaian Namsan Tower, merasakan hangat senja sore. Saya bersyukur, saya sudah sejauh ini mencapai salah satu impian saya.

Biarpun saya pergi jauh, tidak ‘kan hilang dari kalbu, tanahku yang kucintai. Indonesia.

Tiba-tiba, saya teringat impian lainnya, saya pun mencari dan menemukannya. Auckland, kota lainnya yang semoga akan saya kunjungi suatu saat nanti. Saya berdiri menghadap ke arah Auckland, melihat hingga ke horison. Membayangkan seperti apa Auckland itu. Di antara pemanangan gedung-gedung pencakar langit Seoul itu, mata saya tertuju pada titik horison dimana Auckland ada di sana sejauh 9.494,83 km dari Seoul. Saya pun meresapi setiap momen itu, menikmati tiap pandangan dan “moment of truth” antara saya, bumi, dan impian-impian saya. Jarak secara fisik memang sangat jauh, tapi jarak saya dengan impian itu hanya sejauh doa dan kerja keras. Saya hanya harus lebih giat berdoa dan berusaha.

Living my dream. Amen.

Wangi kopi menusuk hidung dan membuyarkan lamunan senja itu. Ya, ternyata saya baru menyadari ada cafe di lantai yang sama, bahkan saya baru melihat di sekeliling banyak yang menikmati pemanadangan indah ini sambil menyeruput kopi dan duduk santai. Tapi, meja-meja yang disediakan sudah dipenuhi pengunjung saking ramainya. Lagi pula, saya juga harus bergegas karena masih ingin menikmati sisi lainnya. Salah satunya, teras yang berisi penuh gembok-gembok cinta itu.

Sebanyak itu, bahkan yang bertahun-tahun tergantung hingga berkarat pun ada.
Ada nama yang familiar?

Sisa perjalanan di Namsan Tower saya habiskan dengan meng-explore sudut teras dan halamannya. Ternyata ada beberapa titik yang dipenuhi gembok yang digantung pengunjung dari berbagai negara di dunia ini. Tak terkecuali Indonesia, karena banyak sekali gembok bertuliskan nama khas Indonesia di sana.

Di Namsan Tower tanpa menggantung gembok ternyata tidak apa-apa. Hahaha
Percayalah, kursi ini merosot bukan karena bobot saya sejak makan banyak di Korea.

Setelah itu, saya berkumpul bersama teman trip dan kami memutuskan untuk membeli churos. Hanya tersisa original karena yang rasa cokelat sudah sold out. Dan rasa churosnya cukup berbeda dengan yang biasa ada di Indonesia. Ya, masyarakat Korea tidak terlalu terbiasa dengan makanan serba manis dan penambah rasa lainnya. Mereka sangat memperhatikan aspek kesehatan, terutama dalam makanan.

Menikmati sisa senja di teras Namsan Tower.
Everywhere in here is about love. Ehem.
Gerai-gerai street food dan cinderamata.

Setelah sunset, kami beranjak meninggalkan Namsan Tower. Meskipun aktivitas ini sangat mainstream bagi turis yang datang ke Korea, tapi saat-saat di menara pandang Namsan Tower ini adalah salah satu momen terbaik yang bisa saya kenang saat trip Korea ini. Moment of truth, saat saya kembali disapa dengan manis impian dan kenyataan betapa indah dan luasnya bumi ini. Ada impian yang sepadan di sana. Ada impian yang harus terus diperjuangkan. Dan menara pandang ini kembali memelukku dengan momen itu.