Minimal Sekali Harus ke Solusi Buku, Surganya Para Introvert & Pencinta Buku

Yogyakarta selalu menjadi tempat yang istimewa bagi para pelancong, baik lokal maupun internasional. Ciri khas tradisi dan budayanya yang kental, makanannya yang enak nan murah, serta wisata alamnya yang lengkap karena ada gunung dan pantai bisa membuat orang-orang ingin berkali-kali datang ke Yogyakarta. Tak heran kalau belakangan Kota Yogyakarta makin ramai bahkan padat dengan para wisatawan, khususnya saat akhir pekan apalagi kalau libur panjang. Yogyakarta yang konon makin ramai inilah yang sempat membuat saya sedikit enggan untuk main ke Kota Gudeg ini lagi. Namun, hal itu berubah sejak saya menemukan Solusi Buku (Ini bukan tulisan sponsor, sama sekali tidak).

Berawal dari saat saya berselancar di dunia maya untuk mencari tempat yang asyik untuk recharge di Yogyakarta, akhirnya saya menemukan Solusi Buku. Namanya unik untuk sebuah toko buku yang ada fasilitas kafe dan ruang baca yang nyaman di dalamnya. Penasaran dengan suasananya yang dari foto saja sudah terasa nyaman dan tenang, akhirnya saya berencana untuk datang ke Solusi Buku.

Solusi Buku

Beberapa waktu kemudian, akhirnya rencana itu tereksekusi. Saya naik Kereta Taksaka dari Purwokerto ke Yogyakarta dan setelah 2 jam perjalanan akhirnya saya tiba di Stasiun Tugu. Setibanya di Stasiun Tugu, saya langsung pesan ojek online. Ternyata jarak Solusi Buku dari Stasiun Tugu lumayan jauh juga, haha. Sekitar 11 Km, yang kalau dijajal dengan motor bisa sekitar 30-45 menit dan kalau naik mobil bisa sekitar 45-60 menit (tergantung kondisi jalan raya juga ya).

Selamat datang di Solusi Buku

Tapi momen naik ojek dalam perjalanan ke Solusi Buku pun sangat menyenangkan. Sambil melihat kanan-kiri suasana Kota Yogyakarta, saya juga sambil ngobril tipis-tipis dengan drivernya. Dia sangat ramah dan tidak mempertanyakan pilihan saya yang jauh-jauh naik ojek 11 Km hanya untuk ke toko buku, padahal di pusat kota banyak toko buku, haha. Oh ya, Pak drivernya sempat bingung mencari titik Solusi Buku ini, mungkin karena belum terlalu familiar atau memang karena posisinya yang tidak terletak di jalan raya utama. Akhirnya setelah sama-sama saling memperhatikan kanan-kiri untuk menemukan logo Solusi Buku, kami pun tiba dan Pak driver tertawa kecil, “Oh ini toh Solusi Buku. Saya baru kali ini ke sini”.

Parkiran Solusi Buku luas dan bangunannya tampak baru. Begitu sampai di teras dan saya mendorong pintunya terbuka, saya hampir menangis. Bagaimana tidak, Solusi Buku ini mengingatkan saya dengan project tugas saat kuliah dulu. Kala itu, kami ditugaskan untuk membuat sebuah perusahaan imaginatif dan dalam 1 semester kedepan, kami diminta untuk membuat berbagai rencana pengelolaan publikasi perusahaan itu. Mulai dari membuat company profile, event, dan berbagai program marketing lainnya. Tebak dulu apa perusahaan yang saya buat?

Ya, alasan yang membuat saya hampir menangis dibuat bernostalgia adalah karena perusahaan imaginatif yang saya buat saat itu adalah satu perpaduan dari toko buku, kafe, dan galeri lukisan yang saya beri nama Serene. Suasana Solusi Buku inilah yang dulu saya bayangkan saat mengimajinasikan Serene sebagai perusahaan yang harus saya kelola. Saya sempat tergelitik saat menginjakkan kaki memasuki Solusi Buku, “Apakah masih ada setitik harapan untuk Serene bisa terwujud? Atau Serene akan tetap abadi sebagai tugas mata kuliah Publisitas saya?”

Lantai 1 Solusi Buku

Oke, tak lama-lama bernostalgia, saya langsung memesan 1 cup Ice Caffe Latte. Sambil menunggu es kopi saya dibuatkan oleh Sang Barista, saya melihat sekeliling. Ahhh, tenang, nyaman, dan alunan musik lembut menambah nyaman yang susah saya deskripsikan. Semua pengunjung sibuk membenamkan wajah di antara buku, hanyut dalam imajinasi masing-masing. Semua tampak membaca dengan khusuk. Siapa sangka di ramainya Yogyakarta ada tempat setenang ini?

Lantai kayu dan rak buku yang memanjakan mata
Pesan kopi dulu biar makin nikmat

Begitu es kopi saya selesai dibuatkan, saya baru teringat ingin memesan croissant untuk disantap bersama kopi. Namun, Sang Barista menjawab bahwa seluruh pastry ludes sedari siang. Tak heran karena saat saya memang baru tiba saat sudah pukul 3 petang. Sambil membawa cup es kopi, saya menaiki tangga ke lantai dua. Setiap ruangan dan lantai di Solusi Buku sangat bersih dan terawat. Lantai kayunya dilengkapi karpet sebagai alas yang memungkinkan pengunjung membaca sambil duduk nyaman jika sofa-sofa sudah penuh. Yang membuat saya sangat senang adalah sepenuh-penuhnya Solusi Buku, tidak akan terdengar suara berisik pengunjung. Semua hanyut membaca, memilih buku, atau menulis. Ahhh…benar-benar surga buat saya. Saya bertekad dalam hati akan datang lagi jika punya waktu luang.

Lantai 2 Solusi Buku

Interior setiap lantai di Solusi Buku benar-benar dipikirkan dengan matang dan ditata dengan baik. Setiap sudut terasa nyaman. Buku-bukunya juga relatif lengkap dengan berbagai genre. Suasana yang tenang dan dikelilingi buku-buku tentu jadi ambience tersendiri bagi para pencinta buku.

Setelah puas membaca buku, saya memutuskan untuk pulang. Eits, tapi tidak lengkap rasanya kalau datang ke Solusi Buku tanpa membeli buku. Saya memutuskan membeli satu buku tentang strategi perang. Haha, ini bukan berarti saya mau berperang. Tapi buku Strategi Perang Sun Tzu punya pesan utama yang memang diadaptasi dari strategi perang paling terkenal di dunia, dan strategi itu bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bonusnya, ternyata setiap pembelian buku di Solusi Buku akan dihadiahi stiker dan pembatas buku yang bisa dipilih sendiri oleh setiap pembeli. Tidak ada minimal pembelian, jadi beli 1 buku pun akan dapat bonus stiker dan pembatas buku. Seru sekali, experience di Solusi Buku benar-benar lengkap rasanya.

Sambil menunggu ojek online datang menjemput, saya duduk di kursi kayu di teras Solusi Buku. Seraya menatap ke arah matahari yang mulai terbenam keemasan, saya merasa beruntung bisa datang ke Solusi Buku dan teringat kembali kepada Serene, sebuah imaginasi yang dulu menemani tugas-tugas kuliah saya selama 6 bulan. Semoga suatu saat nanti, Serene bisa terwujud ya. Tak tahu kapan, tapi selama asa itu ada, maka kesempatan masih terbuka kan? Niscaya.

Published by Feni Saragih

Everywhere is my study field, everywhere is worth to walk.

Leave a comment