Tanggal 1 Mei 2024 lalu, film animasi Totto-Chan yang merupakan kisah nyata dari seorang seniman dan aktivis Jepang yakni Tetsuko Kuroyanagi akhirnya bisa ditonton di bioskop-bioskop. Film ini menceritakan kisah Tetsuko -yang pada masa kecilnya dipanggil Totto-Chan- saat tahun awal memasuki sekolah dasar dengan latar waktu beberapa tahun sebelum akhir Perang Dunia II. Totto-Chan anak perempuan yang penuh imaginasi, ceria, aktif, dan supel meski kadang rasa ingin tahunya dinilai tidak seperti anak-anak pada umumnya. Kisah lengkap Totto-Chan dapat dibaca juga di buku best seller international berjudul Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela karena film animasi ini pun diangkat berdasarkan buku tersebut.

salah satu momen yang membuat saya menangis
Saya sendiri pertama kali tahu buku Totto-Chan saat mengunjungi rumah sepupu di kota sekitar tahun 2008, waktu itu saya baru pertama kali merantau dari kampung untuk kuliah. Saya melihat satu buku pink-putih bergambar anak perempuan dipajang di rak meja belajar sepupu saya. Waktu itu, saya penasaran namun tidak sempat membuka atau membaca buku tersebut, saya lupa penyebabnya. Akhirnya, berselang sekitar 5 tahun kemudian -tahun 2013 saya sudah setahun bekerja- saya mendapatkan buku Totto-Chan secara cuma-cuma saat berhasil menjawab pertanyaan dari pengajar dalam sebuah kelas pelatihan dari kantor. Saya sangat senang mendapatkan buku itu dan akhirnya mulai membacanya dari awal sampai akhir. Sampai sekarang, buku hadiah itu masih ada di rak perpustakaan mini saya.

Saya punya versi revisi yang dilengkapi dengan gambar berwarna juga
Cerita Totto-Chan sangat mengharukan dan banyak sisi yang kocak juga. Saya tak berhenti tertawa dengan kelucuan Totto-Chan yang pemberani dan gigih. Saya tak bisa menahan tangis saat cerita fokus pada kisah Yasuaki-Chan, teman sekolah Totto-Chan. Yasuaki-Chan adalah anak laki-laki yang baik, pintar, tidak pernah mengeluh akan keadaannya namun sayangnya harus menjalani hidup yang malang. Namun demikian, Yasuaki-Chan mengajarkan bahwa hidupnya -yang meski menurut orang lain malang- adalah hidup yang berharga dan bahagia karena dia lalui dengan melakukan hal yang disenangi bersama orang-orang yang dia sayangi dan menyayanginya. *ambil tissue lagi

Yasuaki-Chan sangat bahagia saat momen ini.
Apakah saya merekomendasikan buku atau film Totto-Chan ini? Tentu saja, iya! Bacalah bukunya, atau tonton saja filmnya. Kisah ini juga mengajarkan bagaimana pedihnya perjuangan anak-anak dalam menjalani hidup pada masa perang. Oleh karena itu, seluruh orang di dunia penting untuk menyadari bahwa perang itu buruh dan harus bersama-sama menjaga kedamaian agar kelak seluruh anak-anak tidak merasakan trauma dan pedihnya menjalani hidup karena perang yang mencekam.
Selain film Totto-Chan, ada juga film Grave of Fireflies produksi Ghibli yang menceritakan perjuangan hidup kakak-beradik di desa kecil di Jepang pada masa Perang Dunia II. Saya sendiri belum pernah menonton langsung filmnya karena tidak kuat. Saya sangat tidak tega dan tidak kuat menyaksikan anak yang sangat kecil harus menderita apalagi meregang nyawa. Meski filmnya sangat bagus, namun saya tidak merekomendasikan jika kalian adalah orang tidak tega melihat derita anak kecil.
Setelah menonton Totto-Chan, saya jadi teringat dengan momen saat tahun 2016 dulu pernah berkesempatan mengunjungi monumen Bom Atom di Hiroshima, Jepang. Di area yang sama, ada monumen peringatan khusus yang ditujukan untuk mengenang ribuan anak yang dulu menjadi korban bom atom saat Perang Dunia II.

Pada akhirnya, perang akan menyisakan duka dan trauma mendalam kepada orang-orang sipil yang tidak berdaya. Kenangan pahit perang di masa lalu biarlah hanya menjadi sejarah dan janganlah terjadi lagi di era modern dimana hak manusia untuk merdeka adalah yang terutama dan mendasar. Saya yakin, semua anak di dunia ingin melihat langit biru yang cerah setiap hari sambil berusaha untuk mencapai cita-cita dan impian untuk masa depan.
Salam damai!