Mengakar

Hufft, kata itu yang pertama keluar diiringi muka cemberut saat setelah sekian lama baru berkesempatan membuka blog ini lagi. Luapan rasa kesal dan kecewa pada diri sendiri karena bisa-bisanya menelantarkan blog ini nyaris 5 bulan tak tersentuh. “Sibuk” dan “tidak punya waktu” selalu jadi alasan (sok sibuk sekali). Padahal ya karena kurang diniatkan saja dan tidak pintar mengatur waktu. Penyakit klasik saya, hahaha.

Eits, tapi saya dalam tahap belajar untuk mengatur waktu lebih bijak sekarang.

Tapi selain itu, mungkin saya juga sedang merasakan apa yang disebut orang dengan istilah “demotivasi”. Ini adalah state dimana saya jadi tidak merasa tertarik lagi untuk mengerjakan hal-hal yang dulu menyenangkan buat saya. Saya seperti hilang semangat bahkan untuk hal yang sangat saya gandrungi. Banyak faktornya, mungkin karena kelelahan atau bosan. Tapi, jauh di lubuk hati saya, ingin sekali rasanya mengerjakan berbagai hal seperti dulu lagi saat energi saya sedang banyak-banyaknya. Belakangan, yang ada kadang menggerakkan ujung jari pun berat rasanya.

Sambil menata lagi dari dalam, secara parallel saya pun mencoba mencari lagi semangat dan motivasi dari sekeliling saya. Dimulai dari keluarga dan teman-teman dekat, karena merekalah akar saya. Mereka orang yang melihat saya berkembang, jadi setidaknya mereka tahu dan bisa menilai apa yang membuat saya semangat, apa yang membuat saya bisa bercerita dengan mata berbinar tanpa merasakan lelah sedikitpun.

Mama adalah teman curhat terbaik dan terpercaya sejak saya mengenal apa itu kata “curhat”

Pertemuan dengan teman-teman meski terasa perlahan tapi cukup membantu saya me-recharge kembali energi yang sempat tertidur. Memang tidak kembali persis seperti dulu, tapi setidaknya pikiran dan perasaan saya menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Mereka bagaikan pengingat bahwa saya tidak sendirian di tengah hiruk pikuknya dan sibuknya Ibu Kota ini.

Teman-teman asrama, bertumbuh bersama mereka setiap hari.

Memang benar kata orang bijak, kembali ke akar adalah salah satu cara untuk mengenali diri sendiri dan menikmati kembali hidup yang dulu pernah dinikmati dengan baik.

Mendengar cerita mereka selalu membuat saya bisa menilai hal dari berbagai perspektif

Selain itu, saya juga bersyukur sekali tinggal di kosan bersama teman-teman yang perhatian dengan keunikan cerita masing-masing. Bertemu mereka menjadi oase tersendiri bagi saya. Saya seperti bisa belajar dan melihat dunia lain dari perspektif yang berbeda. Saya tak akan menemukan orang-orang dan pengalaman seperti yang saya lewati bersama mereka kalau tidak tinggal di kosan yang sekarang.

Teman-teman kosan yang sangat perhatian.
Masih ada beberapa orang lagi tapi belum punya foto bareng, soon!

Masih jauh perjalanan yang harus saya tempuh untuk menjadi lebih baik dan masih banyak hal yang harus dipelajari lagi, tapi saya yakin secara perlahan, sedikit demi sedikit, saya akan sampai ke sana dengan cara saya sendiri.

Banyak mendengar, ternyata sangat menyenangkan.

Selalu dekat dengan akar, terlebih lagi memiliki relasi yang baik dengan Sang Pencipta adalah cara terbaik agar saya bisa menikmati lagi semuanya dan meninggalkan stase “demotivasi” ini.

Mereka adalah bagian dari “akar” saya.

Jika kalian yang membaca ini merasa cukup relate dan sedang merasakan hal yang sama, semoga apa yang saya tulis ini bisa sedikit membantu ya. Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda dan it’s okay untuk beristirahat sejenak dan kembali ke akar. It’s okay untuk bergerak pelan dan tidak terburu-buru. Karena yang paling penting adalah kita bisa menikmati semua proses hidup kita dengan baik dan penuh rasa syukur.

Bisa melihat senja secantik ini saat bersama teman-teman membuat saya merasa lebih bersyukur
apapun keadaan dan tantangan yang ada di masa depan.

Tetap semangat semuanya! Selamat bertemu lagi di tulisan selanjutnya.

Meskipun low resolution karena di-screenshoot dari video
tapi saya sangat suka foto ini. Kali ini tidak ada foto narsis di akhir tulisan hahaha

Published by Feni Saragih

Everywhere is my study field, everywhere is worth to walk.

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: